by

Gedung Kesunyian Ciamis, Bentuk Protes Anak Muda Hari ini

BandungKita.id, OPINI – Di Kabupaten Ciamis Jawa Barat (Jabar) berdiri bangunan megah yang bernama Gedung Kesenian Ciamis (GKC). Enam tahun silam, saya menyebut GKC sebagai sebuah ketololan kolektif. Meski sebutan itu masih relevan dan bertambah, sekarang saya enggan memakai istilah itu lagi. Selain kasar dan tidak sopan, saya juga khawatir ada yang kupingnya meradang.

Setelah enam tahun diresmikan, saya nyaris lupa bahwa GKC ini patut dipersoalkan. Pasalnya, Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Ciamis tidak pernah menghiraukan kritikan saya. Mungkin karena saya tidak punya massa dan bukan orang berpengaruh. Kecuali saya punya koneksi “orang dalam” dan uang atau kombinasinya sekaligus.

Sejak diresmikan pada 2015 oleh Gubernur Jabar saat itu, Ahmad Heryawan, saya sering mempersoalkan bangunan 6 milyar rupiah itu. Bahkan belum lama ini, ada gapura yang dibangun di pintu masuk GKC. Konon katanya, nilai proyeknya mencapai 100 juta rupiah.

Wah, uang sebanyak itu jika dibelikan karpet peredam dinding maka kembaliannya masih cukup buat beli kain hitam selebar latar panggung. Demi memperbaiki akustik gedung yang buruk, mungkin juga masih ada sisa untuk membeli karpet lantai, seperti di bioskop. Tapi, dengan dibangunnya gapura 100 juta itu, “sang pemilik gedung” pasti punya tujuan baik. Sayangnya mengutip WS Rendra “maksud baik saudara untuk siapa?”

Dulu saya gemar sekali mengkritik GKC secara terbuka. Suatu ketika ada pertemuan yang digelar Dinas Kebudayaan, Pemuda, dan Olahraga (Disbudpora) Kabupaten Ciamis, semacam workshop atau seminar. Karena jauh dari standar gedung kesenian yang seharusnya, saya pun menanyakan siapa perancang GKC yang buruk itu.

Saya marah-marah dan orasi, persis seperti seorang demonstran karena ingin bertemu dan bicara dengan perancang GKC. Akhirnya Kepala Bidang (Kabid) Kebudayaan Disbudpora Kabupaten Ciamis mengaku tidak tahu siapa perancangnya, lalu sisa jawabannya tidak penting dan saya lupa.    

BACA JUGA :

KKN Unigal Dorong Pemda Ciamis Kembangkan Kesenian Sunda di Desa Golat

Dukung Komunitas Seniman Bandung, Mang Oded: Setiap RW Harus Punya Sanggar Seni!

Momen serupa sudah sering saya lakukan, mengingat Pemkab Ciamis sebagai pihak yang saya anggap paling bertanggungjawab. Selain itu, kritik juga saya lempar di koran lokal dan blog pribadi. Sebagai bentuk protes, Sweetcity Movement dan Ngatah Project menggelar acara kesenian bertajuk “Gedung Kesunyian” di GKC pada 14 September 2019 silam.

Dengan bersemangat saya hadir untuk mencuci aksara Gedung Kesenian di GKC dengan air yang dibawa penonton waktu itu yakni air mineral, kopi, es campur dan sebagainya. Ai-air itu dimuntahkan dari mulut mereka dan saya tampung dalam satu dalam botol air mineral. Memang menjijikan, tapi saya anggap air itu adalah niat baik segenap pihak yang peduli sekaligus resah.

Ketika saya mulai berpikir bahwa semua itu sia-sia, sejak 2019 sejumlah kawan justru menggelorakan kritik itu dengan lebih segar dan cerdas. Mereka adalah generasi muda Ciamis yang peduli. Di mata mereka, banyak hal ganjil terjadi di Kabupaten Ciamis. GKC adalah salah satunya.

Anak-anak muda itu bukan anggota ormas, bukan juga pembawa bendera Organinsasi Ekstra Kampus dengan idealisme, ideologi, dan corak tertentu. Namun demikian, ada juga yang anggota Organisasi Ekstra Kampus. Tapi dalam hal menggugat GKC, sependek ingatan saya, belum pernah ada satu organisasi pun yang bersuara keras secara konsisten dan teguh. Kenapa, ya?.

Sebagai isu yang banyak dipersoalkan para seniman, GKC hanya sesekali diliput media lokal. Walhasil, hanya dianggap angin lalu oleh pemerintah. Tidak pernah sampai jadi polemik atau trending apalagi viral. Tahun 2016, saya pernah diminta menulis perihal GKC di sebuah koran lokal sampai empat atau lima kali terbitan.

Wartawan itu “mengejar” orang-orang dinas yang terkait dengan pembangunan dan keberadaan GKC dan saya tidak hapal betul siapa saja yang “dikejar”. Para pejabat itu saling lempar tanggung jawab. Dugaan saya, mereka tidak menganggapi hal ini dengan serius. Semua baik-baik saja sejauh bos tidak ngamuk. Mental ABS (Asal Bapak Senang) masih jadi iman sebagian pejabat pemerintahan di Tanah Air.

Karena gaungnya yang lemah, polemik di koran kecil itu tidak panjang. Entah apa motivasi sang wartawan mengangkat isu ini, mungkin karena beliau pernah sekolah di jurusan seni. Dengan latar belakang itu, boleh jadi ada kepedulian lebih dalam darinya terhadap kesenian. Terima kasih dan sehat selalu, Pak Wartawan!   

GKC bukan isu seksi, Lain halnya jika yang disoal adalah bangunan lain yang “lebih mahal”. Bukan harga bangunannya tapi nilai jual isunya. Sebetulnya isu ini bisa dibuat besar atau sebaliknya oleh para pendengung (buzzer). Nah ketika viral, baru dilirik. Cara seperti itu butuh uang yang besar.

Pihak yang melempar suatu isu dan mem-back upnya dengan sumber daya yang cukup sudah pasti pemegang kepentingan. Ini sudah masuk ranah politik. Banyak seniman (ngakunya) menjauhkan diri dari dunia abu-abu itu. Sayangnya, segala keputusan pemerintah, termasuk pendirian GKC, lahir dari dunia abu-abu itu: politik.

Di politik, kesenian tidak punya tempat. Seniman hanya dibutuhkan untuk hiburan semata. Aspirasi mereka dianggap cukup dibayar dengan “dana aspirasi”. Belum pernah sampai level kebijakan, padahal dampaknya lebih mahal karena usianya lebih panjang ketimbang uang.

Meski dikritik dari berbagai penjuru, hingga kini Pemkab Ciamis bergeming. Setidaknya kepada saya dan segelintir kawan seniman lain yang sering “berisik”. Didominasi oleh anak muda Ciamis, energi mereka sedang membara. Ada musisi, penyair, perupa, mahasiswa, guru, stand up comedian, wartawan koran daring, dosen, peternak, barista, fotografer, videograper, pengusaha, dan masih banyak lagi.

BACA JUGA :

Buka Penerimaan Anggota Baru, Galuh Taruna : Mahasiswa Ciamis Dituntut Kritis dan Siap Membangun Daerah

Terapkan Budaya Ramah Lingkungan, Sekolah di Ciamis Ini Dapat Penghargaan

Pemikiran mereka juga bercorak-corak. Dan mereka tidak pernah baku hantam gara-gara berbeda pendapat, hal yang justru sering dicontohkan generasi tua di Indonesia. Kesamaan mereka adalah kegemaran belajar lewat diskusi, nonton film, menyimak musik, membahas buku di kafe, jalanan, warung kopi, dan dimana saja.

Mereka membuka kepala, siap membagi dan menerima ide baru demi sesuatu yang baik. Sebagian menganggap mereka hanya jago “di meja” tapi loyo “di jalan”. Saya kira itu keliru, mereka juga jago aksi tapi bukan dengan cara demonstrasi ala ormas atau persatuan mahasiswa. Mereka punya cara, jalan, dan karyanya sendiri.

Secara politis, mereka boleh jadi receh, remeh, dan remah. Jumlahnya tidak banyak. Tidak pula membentuk organisasi tertentu jadi sangat masuk akal jika pemerintah menyepelekannya. Namun secara alamiah mereka saling bertaut karena punya kepedulian yang sama.

Kunci kekuatan besar mereka dalah ketersambungan dan kebertautan saling nyambung agar saling bantu, saling membesarkan tanpa harus ada yang menjadi kecil. Mereka yang otentik ini kini mengarahkan fokusnya pada GKC dengan menggelar aksi seni.

Mereka mendesain kaos kritik khusus bertajuk “Gedung Kesunyian Ciamis”, membuka ruang diskusi, memproduksi film dokumenter, membuat tautan-tautan baru dan menularkan gagasannya ke lebih banyak orang. Fenomena ini, saya kira, adalah suatu gerakan kebudayaan kaum muda Ciamis. Apa yang mereka lakukan bisa menjalar dengan cepat. Ini zaman internet dan generasi mereka adalah penguasanya.

Terkait GKC, tuntutan mereka sederhana saja: fungsikan gedung ini sebagaimana namanya. Bukankah itu tuntuan yang wajar, masuk akal, dan sehat?

Saya menduga Pemkab Ciamis sudah mengendus hal ini. Saya yakin pemerintah tahu GKC dipersoalkan oleh sejumlah orang. Mereka tidak bodoh, melainkan hanya enggan. Ogah mengurusi GKC dan kesenian dengan lebih serius dan berintegritas. Saya dengar, di atas kertas, biaya sewa GKC ini 3 juta rupiah untuk acara komersil dan 2,5 juta rupiah untuk non-komersil.

Jika angka ini tertuang dalam peraturan resmi pemerintah, pasti ada hitung-hitungannya dan harus ilmiah. Mengingat pendapatan per kapita di Kabupaten Ciamis, keumuman tarif sewa gedung di Ciamis, rata-rata besar biaya produksi pertunjukan seni di Ciamis, iklim sponsorship pertunjukan seni di Ciamis, harga tiket pertunjukan di Ciamis umumnya, dan sejumlah data lain.

Ingat, ini Gedung Kesenian! Gegabah, tidak realistis, dan bodoh jika menganggap sama antara (dapur) pertunjukan teater (di Ciamis) dengan (dapur) resepsi pernikahan, misalnya. Tidak realistis juga menganggap sama angka rata-rata laba hasil jual tiket pertunjukan dengan hasil jual tiket film di bioskop.

Sangat menjijikan rasanya jika 2,5 juta dan 3 juta itu hanya hasil tebak-tebakan atau asumsi yang tidak realistis. Sayangnya, saya tidak tahu hitung-hitungan ilmiah mereka sehingga muncul hasil 2,5 juta untuk non-komersil dan 3 juta untuk komersil. Tapi saya berbaik sangka, angka itu hasil perhitungan yang sangat cermat. Hanya saja, sekali lagi, tidak saya ketahui.

Lepas dari semua itu, gerakan kebudayaan kaum muda Ciamis akan terus bergulir dan terus membesar. Setidaknya itu yang saya yakini. Gerakan ini tidak akan pungkas di meja audiensi Bupati atau ngopi bareng anggota DPRD. Ini gerakan kebudayaan yang akan terus menagih jawaban. Sebab, Kebudayaan, termasuk kesenian di Ciamis, tidak lagi cukup dipandang hanya kebudayaan lama, hanya seni-seni tradisional saja.

Purifikasi kebudayaan adalah sia-sia karena bertentangan dengan kodrat kebudayaan itu sendiri yang pada dasarnya hibrid. Apalagi dalam konteks Nusantara, Ciamis, dan Galuh. Pemkab Ciamis, khususnya Disbudpora serta Dinas Pariwisata Kabupaten Ciamis sudahkah punya visi tentang hal ini? Apa pula kabar Dewan Kebudayaan Ciamis? Atau anda sekalian memilih menghindar, mengkhususkan diri mengurusi kebudayaan masa lalu saja?

Dengan atau tanpa dialog terbuka antara Pemkab Ciamis dan seniman soal GKC atau soal kebudayaan-kesenian secara umum, gerakan kebudayaan ini adalah keniscayaan. Hari ini boleh jadi masih receh, remeh, dan remah. Tapi tidak sampai satu tahun lagi, ia akan tumbuh, menjalar, bertambah, tumbuh secara eskponensial. Bukan saja bangunan fisik yang diguncang, tapi kesadaran dan kebudayaan itu sendiri.

Bukan. Ini bukan tentang aksi massa atau demonstrasi. Ini adalah tentang membuka simpul-simpul yang menyumbat dalam kesadaran. Panjang umur kesadaran. Panjang umur kesenian. (*).

Penulis : Ridwan Hasyimi (Pegiat Seni di Kabupaten Ciamis).

Editor : Azmy Yanuar Muttaqien

Comment