BandungKita.id, Bandung – Sebuah gedung tua peninggalan Belanda berdiri kokoh disudut Jalan Radio Cilin, Desa Cililin, Kecamatan Cililin, Kabupaten Bandung Barat (KBB).
Bangunan yang kerap disebut Gedung Tahu oleh warga sekitar itu adalah Gedung Radio Cililin yang dibangun sekitar awal abad ke-20.
Bangunan dengan panjang 20 meter, lebar 12 meter dan tinggi 10 meter tersebut ditopang oleh delapan tihang. Bahkan, rangka atapnya pun masih memakai kayu jati yang sudah berusia lebih dari 1 abad.
Berdasarkan informasi yang dihimpun dari Sistem Informasi Cagar Budaya (Sigaraya) KBB, bangunan tersebut dibangun pada tahun 1908 oleh insinyur berkebangsaan Jerman bernama Ir.Raymon Sircke Hessilken atas permintaan dari Pemerintah Kerajaan Belanda.

Awal dari bangunan tersebut dijadikan sebagai Gedung Telepoonken untuk kepentingan Pemerintah Kerajaan Belanda di wilayah tanah jajahannya. Adapun jangkauan sinyal dari radio tersebut diklaim hingga ke Benua Eropa.
Namun pada tahun 1924, Telepoonken di ubah dan fungsinya dijadikan pemancar radio tanah jajahan atau Nederlandsch Indiesch Radio Onnelanden (Nirom). Hal tersebut akibat dari pengaruh Perang Dunia I yang tengah bergejolak ketika itu di Benua Eropa.
Baca Juga:
Pansel JPT Umumkan Tiga Calon Sekda Kabupaten Bandung, Berikut Nama-namanya
“Negara-negara di Eropa ketika itu berlomba-lomba membuat persenjataan, sedangkan Kerajaan Belanda di samping membuat persenjataan membuat juga peralatan komunikasi yang salah satu hasil buatannya difungsikan dan ditempatkan di Cililin,” tulisnya.
Jajang Wahyudin (46) warga sekitar menyebutkan, setelah ditinggalkan oleh Belanda bangunan tersebut sempat berganti-ganti fungsi. Bahkan sempat disewa untuk dijadikan pabrik pembuatan tahu.
“Disebut gedung tahu dulunya dipakai bikin tahun disini. Kejadiannya sudah lama,” katanya, Kamis 10 Juni 2021.

Sementara itu, warga lainnya Oman Suryadi (50) meminta pemerintah memperhatikan bangunan cagar budaya khususnya Gedung Radio Cililin. Pasalnya, bangunan yang telah berdiri kokoh ratusan tahun ini memiliki nilai historis tinggi sehingga harus dilestarikan.
“Pengannya, tempat wisata seperti ini (Gedung Radio Cililin) diperhatikan lagi. Jadi bisa dijadikan obyek wisata dan diperlihara kelestariannya,” pungkasnya. (Faqih Rohman Syafei/BandungKita.id) ***
Editor: Agus SN




Comment