NGAMPRAH, BandungKita.id – Di sebuah sudut perumahan Permata Cimahi, tepatnya di belakang SMPN 3 Ngamprah , Desa Tanimulya, waktu seolah berjalan lebih lambat bagi Tina Supartinah. Di usianya yang kini menginjak 77 tahun, dunia perempuan kelahiran Jakarta ini kini hanya sebatas ruang tamu dan tempat tidur.
Ibu Tina bukan lagi sosok yang lincah mengurus rumah tangga seperti dekade silam. Usia senja telah merampas kekuatan fisiknya, meninggalkannya dalam keterbatasan mobilitas yang menyesakkan. Namun, di balik rapuhnya raga, ada potret bakti yang luar biasa dari putranya, Arno.
Kisah Ibu Tina adalah kisah tentang keteguhan di tengah kesederhanaan. Sehari-hari, ia hanya bergantung pada Arno, putranya yang dengan setia merawat segala keperluan sang ibu. Kondisi ini kian pelik lantaran Arno saat ini tidak memiliki pekerjaan tetap alias menganggur.
Untuk memindahkan Ibu Tina atau sekadar mengajaknya menghirup udara segar di teras rumah, Arno harus mengeluarkan tenaga ekstra. Tanpa alat bantu yang memadai, aktivitas sederhana seperti mandi atau berjemur menjadi tantangan fisik yang berat, baik bagi sang ibu maupun anak yang merawatnya.
“Kondisinya memang sangat membutuhkan bantuan. Mobilitas beliau terhambat karena faktor usia, sementara pihak keluarga memiliki keterbatasan ekonomi untuk membeli alat bantu sendiri,” ujar salah satu warga di lingkungan RT 006/013 Desa Tanimulya.
Kondisi Ibu Tina ini akhirnya mengetuk kepedulian sesama. Sebuah surat permohonan bantuan kini tengah dilayangkan kepada Kepala Dinas Sosial Kabupaten Bandung Barat (KBB). Harapannya sederhana, namun sangat berarti: satu unit kursi roda.

Bagi keluarga Ibu Tina, kursi roda bukan sekadar alat medis. Ia adalah kaki baru yang akan menyambung semangat hidup Ibu Tina di masa tuanya. Ia adalah “napas baru” bagi Arno agar bisa merawat ibundanya dengan lebih layak dan manusiawi.
Warga berharap, birokrasi di Kabupaten Bandung Barat bisa bergerak cepat. Di tengah hiruk-pikuk pembangunan daerah, terselip harapan dari seorang janda lansia di Tanimulya agar pemerintah hadir memberikan sentuhan nyata.
“Alhamdulilah sih saya kadang masih dibantu abang, hanya kondisi saat ini semua sulit, beliau juga punya keluarga adalah,.hanya Nilai kebutuhan sekarang kan dan lainnya makin tinggi,” ucap Arno. “Saya tidak ingin berpangku tangan, hanya dengan segala keterbatasan ini, rasanya kami perlu membuka diri. Jika saja ada jalannya baik untuk kesembuhan ibu atau kesempatan untuk saya berikhtiar ” ucapnya dengan lirih.
Kalimat jujur dari Arno tersebut bukan hal terakhir yang ia utarakan, kepada Bandungkita, Arno menggambarkan beratnya keputusan yang harus diambil bersama sang ibu, saat mereka mereka mengambil keputusan untuk menjual paviliun rumah mereka yang berukuran 60 meter persegi.

Terpantau paviliun tersebut masih belum mendapatkan peminatnya, dengan luas tersebut, arno membandrolnya hanya dengan Rp.300 Jt, sebuah harga yang murah dengan luas 5×12 ditambah lingkungannya yang asri dan memiliki halaman luas sebagai bonus.
Walau berat diputuskan Arno dan ibunya, semoga tidak hanya untuk biaya bertahan hidup saja, tapi juga mencari jalan kesembuhan bagi sang Ibu, dan arno berharap memiliki modal usaha tanpa harus meninggalkan sang ibu yang membutuhkan perawatan penuh.(joe/Bandungkita.id)





Comment