“Tembakan Itu Bicara Akurasi, Bukan Privilege”
Bandung Barat – bandungkita.id
Polemik seputar alokasi anggaran Cabang Olahraga (Cabor) di Kabupaten Bandung Barat (KBB) terus bergulir. Setelah Wakil Ketua II KONI KBB, Ruslan, menyebut raihan medali emas di Porprov 2022 bisa jadi dipengaruhi “privilege sebagai tuan rumah”, kini giliran Cabor menembak yang angkat bicara.
Ketua Umum Perbakin KBB, Dedi Suprapto, menyayangkan pernyataan tersebut yang dinilainya terlalu menyederhanakan proses panjang pembinaan atlet.
“Tolong jangan digeneralisasi. Cabor menembak itu bukan soal keberuntungan jadi tuan rumah. Ini olahraga akurasi, bukan interpretasi. Tembakan itu bicara milimeter, bukan opini,” tegas Dedi, yang juga menjabat sebagai Kabid Organisasi Pengprov Perbakin Jawa Barat.
Dana Minim, Realisasi Terbatas
Dedi mengungkapkan bahwa dari proposal yang diajukan, dana yang diterima Cabor menembak hanya sekitar 30 persen. Ia tidak mempermasalahkan jumlahnya, namun menyoroti bahwa dana yang cair selama ini hanya cukup untuk tiga hal:
- DOP (Dana Operasional Pelatih)
- Pengadaan Peralatan Teknis
- Kebutuhan Babak Kualifikasi (BK)
Padahal, menurutnya, idealnya pembiayaan dari KONI mencakup empat pilar utama:
- Pembinaan berkelanjutan
- Peralatan dan pemeliharaan fasilitas
- Dukungan untuk keikutsertaan dalam kejuaraan regional/nasional
- Reward atau penghargaan bagi atlet berprestasi
“Kalau hanya DOP dan BK yang dibiayai, lalu kapan kami bisa membina? Bagaimana atlet bisa berkembang kalau sistemnya hanya reaktif, bukan proaktif?” ujarnya.
Prestasi Bukan Sekadar Angka, Tapi Proses
Dedi menegaskan bahwa Cabor menembak KBB memiliki rekam jejak prestasi yang tidak bisa diabaikan. Ia menyebut nama Fathur, atlet asal Jawa Barat yang pernah tampil di Olimpiade dan berangkat dari jalur pembinaan yang sama.
Lebih dekat, atlet KBB bernama Rifki bahkan pernah mewakili Indonesia di ajang internasional di Taiwan dan menerima penghargaan langsung dari Bupati Bandung Barat Jeje Ritchie Ismail.

“Kami tidak bicara mimpi. Kami bicara bukti. Rifki itu bukan hasil privilege, tapi hasil latihan, disiplin, dan pengorbanan,” tegas Dedi.




Soal Kepemimpinan KONI: “Setiap Era Punya Karakter”
Menutup pernyataannya, Dedi menyinggung soal gaya kepemimpinan KONI yang menurutnya memang berbeda-beda di tiap periode. Ia berharap kepengurusan saat ini bisa lebih terbuka terhadap kritik dan membangun komunikasi yang sehat dengan Cabor.
“Kami bukan menuntut, kami hanya ingin didengar. Karena kami yang paling tahu medan, paling tahu anak-anak kami. Jangan sampai kebijakan dibuat dari balik meja tanpa melihat peluh di lapangan,” pungkasnya.
Sebelumnya, Wakil Ketua Dua Koni KBB Ruslan menyebut bahwa raihan medali emas di Porprov 2022 perlu dikaji secara objektif, termasuk faktor penyelenggaraan sebagai tuan rumah.
“Apakah 4 emas itu hasil dari keuntungan tuan rumah 2022? Misal penambahan nomor pertandingan di kelas junior. Kami punya analisa track record dan peluang ke depan,” tegas Ruslan. (dhomz/BandungKita.id)
BACA JUGA
KONI KBB Tegaskan Komitmen Dukung Atlet Jalur Prestasi Masuk Sekolah
Berlayar Tanpa Angin: Perjuangan KONI KBB di Tengah Badai Anggaran






Comment