Viral..!! Pasha Ungu Kritisi Program Guru Ngaji Di Komisi VIII, Netizen Bandung: “KPPPA mainnya kurang jauh, Sini ke Kabupaten Bandung”

Parlementaria, Politik188223 Views

BandungKita.id, JAKARTA – Kritik keras yang dilontarkan anggota DPR RI, Sigit Purnomo Said alias Pasha Ungu, terhadap Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (KemenPPPA) membuka ruang diskusi baru tentang perhatian negara terhadap guru keagamaan. Pasha menilai kementerian terlalu sibuk menangani kasus kekerasan, namun abai terhadap pemberdayaan nyata di lapangan.

“Saya tidak melihat ada program nyata untuk pemberdayaan guru madrasah, guru ngaji, dan tenaga honorer perempuan. KemenPPPA seolah hanya menjadi kantor polisi yang menerima laporan kekerasan, bukan lembaga pemberdayaan,” tegas Pasha dalam rapat Komisi VIII DPR RI.

Pernyataan ini, meski ditujukan ke kementerian, bikin netizen Bandung ramai mengisi kolom komentar disalah satu portal karena viral.

“KPPPA mainnya kurang jauh, sini ke Kabupaten Bandung, Bupatinya dari dulu kasih perhatian sama gufu ngaji” ungkap pemilik avcount bernama sindi

Situasi ini secara tidak langsung menegaskan urgensi yang lebih dulu ditangkap oleh Bupati Bandung, Dadang Supriatna.

Sejak awal kepemimpinannya, Dadang telah menggulirkan program insentif bagi ribuan guru ngaji di Kabupaten Bandung sebagai bentuk pengakuan atas peran mereka dalam menjaga moralitas anak bangsa.

Sumber Kompas.Com

Dikutip dari pernyataannya di media lokal, Bupati yang juga berasal dari lingkungan sekolah madrasah ini menyebut pentingnya mengapresiasi tugas guru agama. “Kami tetap komitmen mengalokasikan anggaran Rp 109 miliar setiap tahun untuk insentif 17.000 guru ngaji di Kabupaten Bandung” ungkapnya.

Kang Ds, sapaan akrab Bupati Bandung ini menyebut peran guru ngaji menjadi salah satu benteng akhlak anak-anak sejak dini dan merupakan investasi pemerintahannya. “Mereka adalah penjaga akhlak anak-anak kita, dan layak mendapat perhatian khusus,” ujar Dadang Supriatna.

ARTIKEL PILIHAN

Program insentif ini memang tidak lepas dari perdebatan. Sebagian pihak mempertanyakan efektivitas dan pemerataan, sementara yang lain menyoroti transparansi pelaksanaannya. Namun, kritik Pasha di Senayan justru memperkuat legitimasi kebijakan Kang Ds di daerah, bahwa guru ngaji bukan sekadar pelengkap, melainkan garda depan dalam membentuk karakter generasi muda.

Metri Sopiantia (45), ibu rumah tangga sekaligus guru ngaji di Kabupaten Bandung, mengungkap dampak program secara langsung kepada awak media.

“Alhamdulillah, insentif ini sangat membantu untuk kebutuhan sehari-hari. Kami merasa diperhatikan oleh pemerintah, dan semoga program ini terus berlanjut agar guru ngaji semakin semangat mendidik anak-anak.”
Dikutip Jurnal Soreang / Pikiran Rakyat,

Sementara itu, Apit Rohimat (38), guru ngaji di Desa Cimekar, Kecamatan Cileunyi, menyebut keikhlasannya mengajar, dan menilai perhatian pemerintah dalam tugasnya sebagai guru ngaji.

ARTIKEL PILIHAN


“Saya tidak pernah lelah mengajari anak-anak membaca Al-Qur’an. Dengan adanya insentif, beban hidup sedikit berkurang. Ini membuat saya lebih tenang dan fokus mendidik mereka.” unhkapnya seperti dikutip Bisnis.com

Di tengah skeptisisme publik, ada benang merah yang jelas, perhatian terhadap guru keagamaan adalah investasi moral jangka panjang.

Kritik Pasha Ungu dan komitmen Komitmen Kang Ds adalah dua suara yang berbeda panggung, namun sama-sama menegaskan satu hal, guru ngaji layak mendapat perhatian serius. (Dhomz/Bangkit)

Comment