Dedi Mulyadi dan “Terima Kasih” untuk Kritik Media, Pemerhati: Pelajaran dari Jawa Barat untuk Bandung Raya


BANDUNGKITA.ID – Pagi itu, suasana di Gedung Sate terasa biasa saja. Namun, pernyataan Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi di hadapan awak media membuat ruangan seketika hening. Bukan karena ia marah atau membantah kritik, melainkan karena ia justru mengucapkan… terima kasih.

“Pagi hari ini saya mengucapkan terima kasih pada teman-teman media yang begitu kritis terhadap apa yang kami lakukan di Pemprov Jabar,” ucapnya, dengan nada tenang namun tegas.

Bagi sebagian pejabat, kritik media bisa terasa seperti serangan. Tapi bagi Dedi, itu adalah vitamin demokrasi. Ia mengakui, sorotan tajam jurnalis membantu menjaga keseimbangan (check and balance) dan memastikan pembangunan berpihak pada masyarakat.

“Daya kritis media itu akan membangun keseimbangan demokrasi… mari kita bersama-sama membangun spirit transparansi dan utamakan kehidupan masyarakat yang lebih luas,” tambahnya.

BACA JUGA

Jejak Ikan Kembung: Tanggung Jawab Kadispakan Nia Dewi Kania, Aktivis: Jejaknya Dimana?

Putusan PKPU BDS, Kubur Ucapan Ketua DPRD Kab.Bandung, Praktisi: Itu Perintangan!

Astaraja Dewi Hurip: Wisata Baru di Kabupaten Bandung Miniatur Grand Canyon Pangandaran

Konteks Bandung Raya

Pernyataan ini datang di tengah sorotan publik terhadap sejumlah isu di Bandung Raya: kemacetan di pintu masuk Kota Bandung, banjir musiman di Dayeuhkolot, Iklim Investasi yang terancam di Kabupaten Bandung, Moralitas pengelolaan keuangan daerah seperti di Bandung Barat, isu pengelolaan BUMD, penegakan hukum hingga penataan kawasan wisata Lembang yang kerap menuai pro-kontra. Media lokal tak jarang mengkritik lambannya penanganan masalah tersebut.

Bagi Dedi, kritik itu bukan sekadar catatan merah, melainkan peta jalan untuk memperbaiki kebijakan. Ia mengajak media menjadi mitra strategis, bukan lawan, dalam membangun Jawa Barat yang lebih transparan dan responsif.

Resonansi di Lapangan

Di luar gedung, beberapa warga yang mendengar kabar ini mengaku terkejut. “Jarang ada pejabat yang mau bilang terima kasih saat dikritik. Biasanya malah defensif,” ujar Rudi, warga Cimahi yang sehari-hari bekerja di Bandung.

Pemerhati kebijakan pemerintah, Dadang Risdal Aziz Direktur Jamparing Institut menilai, sikap ini bisa menjadi modal penting membangun kepercayaan publik. “Kalau konsisten, ini akan memperkuat hubungan pemerintah dengan media dan masyarakat,” katanya.

VIDEO PILIHAN

Lebih jauh ia menilai sikap Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi yang merespons kritik media dengan ucapan terima kasih merupakan langkah positif dalam membangun tata kelola pemerintahan yang sehat.

VIDEO PILIHAN

“Kritik media adalah mekanisme kontrol yang sah dalam demokrasi. Ketika seorang kepala daerah merespons dengan terbuka, itu menunjukkan kematangan politik dan kesadaran bahwa transparansi adalah kunci kepercayaan publik,” ujar Risdal sapaan akrab Pria asal Soreang ini, Rabu (17/9/2025).

Pria yang akrab dengan para awak media ini pun menambahkan, hubungan yang sehat antara pemerintah dan media akan berdampak langsung pada kualitas kebijakan, termasuk di wilayah Kabupaten Bandung dan Bandung Raya secara umum yang tengah menghadapi berbagai tantangan pembangunan.

“Jika komunikasi ini konsisten, bahkan diikuti kepala daerah lain, media bisa menjadi mitra strategis pemerintah dalam menyampaikan informasi yang akurat sekaligus menyerap aspirasi warga. Hasilnya, kebijakan yang lahir akan lebih responsif terhadap kebutuhan masyarakat,” jelasnya. (Dhomz/BandungKita.id)

Di tengah derasnya arus informasi dan opini, langkah Dedi Mulyadi menjadi pengingat bahwa kritik bukan untuk dijauhi, melainkan diolah menjadi energi perbaikan. Dan mungkin, Bandung Raya bisa menjadi saksi bagaimana sebuah “terima kasih” mampu membuka pintu dialog yang lebih sehat antara pemerintah dan media.


Comment