BANDUNG, BandungKita.id – “Perjuanganku lebih mudah karena mengusir penjajah, tapi perjuanganmu akan lebih sulit karena melawan bangsamu sendiri.” Wasiat tajam dari Ir. Soekarno ini seolah menemukan pembenaran pahitnya di masa kini. Saat kedaulatan bangsa seharusnya diperkuat oleh putra-putri terbaiknya, rentetan skandal di pusat kekuasaan justru menjadi tembok yang menghalangi langkah mereka untuk pulang dan berbakti.
Runtuhnya Sebuah Simbol Harapan
Keresahan ini terekam jelas dalam suara-suara anak muda di media sosial. Salah satunya datang dari seorang mahasiswi Indonesia di Australia yang mengungkapkan rasa speechless-nya atas kondisi tanah air. Fokusnya tertuju pada ironi besar: dugaan korupsi pengadaan laptop Chromebook yang menyeret nama mantan Menteri Pendidikan, Nadiem Makarim.
Bagi generasi Z dan milenial, Nadiem bukan sekadar menteri. Ia adalah representasi keberhasilan pendidikan luar negeri (lulusan Brown dan Harvard) yang memilih pulang untuk membangun ekosistem digital dan menginspirasi jutaan orang untuk mengambil risiko. Namun, ketika simbol harapan ini dituntut atas kasus yang mencederai sektor pendidikan, muncul keraguan kolektif di kalangan diaspora: Masihkah Indonesia menjadi tempat yang aman untuk mengabdi dengan jujur?
Kepemimpinan dan Krisis Kedaulatan
Secara geopolitik dan ekonomi, negara yang berdaulat adalah negara yang kepemimpinannya mampu menjaga marwah hukum dan kesejahteraan rakyatnya. Namun, fenomena saat ini menunjukkan seolah-olah Indonesia tidak berdaulat atas sistemnya sendiri.
Pelemahan nilai tukar Rupiah yang kian dalam, ditambah dengan bocornya anggaran pendidikan yang seharusnya menjadi investasi masa depan, menciptakan potret negara yang rapuh dari dalam. Ketidakmampuan pemerintah dalam menjaga integritas di sektor krusial membuat kedaulatan kepemimpinan nasional dipertanyakan. Jika kedaulatan hanya menjadi jargon tanpa perlindungan nyata bagi hak-hak rakyat, maka wajar jika anak bangsa mulai ragu terhadap masa depan negaranya.
Menagih Janji Kedaulatan
Apa yang terjadi saat ini adalah bentuk “penjajahan masa kini” seperti yang diperingatkan Bung Karno. Penjajahan ini tidak datang dari luar, melainkan dari kebijakan yang bias kepentingan, mentalitas korup yang membudaya, dan pengabaian terhadap potensi lokal.
Namun, semangat perjuangan tidak boleh padam karena rasa kecewa. Justru karena ancaman itu datang dari dalam bangsa sendiri, maka perlawanannya pun harus lahir dari kesadaran internal kita semua.
Kekecewaan anak muda terhadap kasus Nadiem Makarim harus menjadi penyulut api perjuangan baru. Indonesia tidak butuh sekadar orang pintar dengan gelar mentereng, tapi butuh kepemimpinan yang berdaulat secara moral untuk memastikan bahwa rumah besar bernama Indonesia ini tetap layak untuk dihuni dan diperjuangkan oleh anak cucu kita. (Red/BK)





Comment