VIDEO: Cerita Duit Kompensasi Sampah Sarimukti Miliaran Cair Tiap Tahun, Tapi Warga Dipaksa Akrab dengan DBD, ISPA, dan Ancaman Gas Beracun!

FokusKita12489 Views

Belajar dari Krisis Bantargebang: Bahaya Laten Gas Metana di Depan Mata

BANDUNGKITA.ID, KABUPATEN BANDUNG BARAT — Aroma busuk yang menyengat di kawasan Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Sarimukti ternyata tidak lebih busuk dari kenyataan pahit yang harus ditelan warga terdampak. Di balik gunungan sampah yang kian menggunung, mengalir dana segar bersandi Kompensasi Dampak Negatif (KDN) yang nilainya ditaksir menembus angka Rp2 miliar per tahun untuk desa terdampak.

Namun, ke mana larinya uang miliaran itu?
Investigasi mendalam Bandungkita.id menemukan fakta mencengangkan: di saat anggaran miliaran rupiah dicairkan, warga di garda terdepan justru dibiarkan bertaruh nyawa melawan serangan wabah penyakit dan ancaman bom waktu ekologis yang mematikan.

Proyek Fisik “Kosmetik” di Tengah Tangisan Warga yang Sakit

Jeritan hati ini salah satunya datang dari warga Desa Rajamandalakulon, Kabupaten Bandung Barat, wilayah yang setiap harinya dikepung oleh armada truk pengangkut sampah. Warga mengaku sama sekali buta dan tidak pernah dilibatkan dalam transparansi pengelolaan dana KDN yang bernilai fantastis tersebut.

Secara sepihak, anggaran miliaran rupiah itu justru dihabiskan oleh aparatur desa untuk pembangunan infrastruktur fisik seperti pengaspalan jalan gang. Sementara itu, sektor krusial seperti jaminan kesehatan, pengobatan gratis, hingga pembenahan sanitasi komunal justru dinomorduakan bahkan terkesan diabaikan.
Dampaknya tidak main-main.

VIDEO TERKAIT

Beberapa tahun ke belakang, sedikitnya 86 Kepala Keluarga (KK) di wilayah RW 20 dilaporkan bertumbangan terjangkit wabah penyakit Chikungunya dan Demam Berdarah Dengue (DBD). Penyakit ini merebak akibat buruknya sanitasi lingkungan yang diperparah oleh ceceran air lindi dan sampah yang gugur dari truk-truk pengangkut di malam hari.

“Kami tidak pernah mendapatkan alokasi anggaran KDM untuk kesehatan atau pengadaan alat fogging secara mandiri. Kalau ada warga yang terserang wabah, kami harus mengemis langsung ke pengelola TPA atau menggerakkan swadaya, bukan difasilitasi oleh desa melalui dana kompensasi itu!” berondong salah seorang ketua RW dengan nada kecewa kepada Bandungkita.id.

Tidak berhenti di situ, ancaman Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA) dan asma kini mengintai masa depan anak-anak di kawasan tersebut akibat polusi udara yang dihirup setiap detik.

Di malam hari, warga yang mayoritas bekerja sebagai buruh kasar dipaksa tidur dalam kepungan bau busuk yang menyengat dada. Ironisnya, di tengah pusaran uang miliaran, di RW 20 masih ditemukan 2 RT yang warga lokalnya terpaksa membuang limbah rumah tangga langsung ke selokan terbuka karena tidak memiliki fasilitas jamban komunal yang layak.

Belajar dari Krisis Bantargebang: Bahaya Laten Gas Metana di Depan Mata

Ketidakpedulian birokrasi dalam mengalokasikan dana KDM untuk tata kelola lingkungan berkelanjutan adalah bentuk kecerobohan fatal. Jika Sarimukti hanya diperlakukan sebagai tempat pembuangan tanpa ada mitigasi emisi yang serius, kawasan Bandung Barat sedang memelihara bom waktu ekologis.

Mari menengok data sains mutakhir yang diungkap oleh ahli matematika lulusan ITB, Alif Towew, terkait tata kelola TPST Bantargebang di Bekasi kasus yang sempat diakui sebagai potret krisis lingkungan berskala masif.

Matematika sampah itu nyata dan mengerikan:

  • Mata Rantai Sampah Organik: Di tempat pembuangan terbuka, sebesar 43% pasokan sampah didominasi oleh sampah organik (sisa makanan).
  • Pabrik Gas Beracun: Sampah organik yang membusuk diurai oleh bakteri dan menghasilkan Landfill Gas (LFG) dengan komposisi seimbang: 50% Karbon Dioksida (CO_2) dan 50% Gas Metana (CH_4).
  • Daya Rusak Berlipat Ganda: Berdasarkan laporan resmi Intergovernmental Panel on Climate Change (IPCC), gas metana memiliki kemampuan menangkap panas di atmosfer 28 hingga 36 kali lebih kuat dibanding CO_2 dalam jangka panjang, dan melonjak hingga 84 hingga 87 kali lipat lebih merusak dalam jangka pendek.

Di Bantargebang, aktivitas ini memuntahkan 6,3 ton gas metana per jam atau setara dengan 55.188 ton per tahun. Jika dikonversi, angka tersebut setara dengan melepaskan 4,64 juta ton CO_2e ke udara setiap tahunnya. Inilah alasan ilmiah mengapa wilayah di sekitar tempat pembuangan sampah suhunya melonjak ekstrem dan terasa panas membakar.

Catatan Kritis Redaksi: Jangan Tunggu Sarimukti Meledak!

Fakta di lapangan dan hitungan matematis di atas harus menjadi tamparan keras bagi Pemerintah Daerah dan para pemangku kebijakan yang mengelola dana KDN TPA Sarimukti. Uang miliaran rupiah itu adalah hak masyarakat terdampak yang dibayar dengan kompensasi rusaknya ruang hidup dan kesehatan mereka.

Banyak aktivis mendesak dengan tegas agar pemanfaatan dana KDN segera direorientasikan secara transparan untuk jaminan kesehatan total, perbaikan sanitasi, serta pelatihan SDM agar warga mampu mengelola potensi sampah secara mandiri. Jangan biarkan anggaran tersebut menguap dalam ruang birokrasi yang gelap. Jangan tunggu sampai Sarimukti menjelma menjadi Bantargebang kedua yang meracuni udara, membakar suhu bumi, dan merenggut hak hidup sehat anak-cucu kita!
Tim Redaksi Bandungkita.id

Comment