oleh

Hampiri Oded Selepas Pembukaan Musrenbang, Seorang Ibu-ibu Sampaikan Hal Ini

BandungKita.id, BANDUNG – Salah satu warga, bernama Ratna Maryati memghampiri Wali Kota Bandung, Oded M. Danial selepas membuka acara Musyawarah Perencanaan Pembangunan (Musrenbang) dalam rangka penyusunan Rencana Kerja Pembangunan Daerah (RKPD) Kota Bandung tahun 2020.

Ratna secara langsung menyampikan keluhannya pada Wali Kota tentang minimnya fasilitas belajar bagi para mualaf. Hal itu, cukup jadi ironi mengingat kepimpinan Oded memyematkan kata ‘agamis’ pada visi pemerintahannya.

“Pak kita ingin menyampaikan aspirasi tentang fasilitas belajar khusus mualaf yang masih kurang,” kata Ratna pada Oded.

Meski tidak secara gamblang, secara spontan, Oded menjawab keinginan Ratna. “Sampikan aja ini dimusrenbang,” jawab Oded.

Lebih lanjut, saat BandungKita menjumpai Ratna untuk mendapat penjelasan lebih lengkap. Ratna menyebut kurangnya fasilitas belajar mualaf sangat disayangkan, lantaran ditakutkan memengaruhi semangat belajar para mualaf untuk mengkaji keislaman.

“Harusnyaa mualaf itu di rangkul diayomi sama dibantu lah untuk meningkatkan keisalamannya itu, agar mereka diberikan tempat belajar mengaji, belajar bahasa arab, baca Quran, kaji hadist, keagamaan, karena mereka tuh kalau ga dirangkul nanti takut semangatnya turun,” tutur Ratna.

Kelompok mualaf yamg dipimpin Ratna telah beranggotakan sebanyak 150 orang sejak berdiri pada tahun lalu dengan jumlah anggota hanya 40 orang. Jumlah tersebut, kata Ratna, menggambarkan semangat mualaf untuk memahami Islam sangat besar.

“Jadi sangat perlu fasilitas belajar, mau itu ruangan di dalam masjid tertentu, atau mungkin ada lahan pemkot yang tidak dipakai ya kita harapannya bisa digunakan,” lanjutnya.

Minimnya lokasi belajar, membuat Ratna cukup kesulitan. Ia dan seluruh peserta harus berkeliling mencari tempat belajar bahkan sampai ke sejumlah masjid di wilayah Sukajadi. “Kita setiap Sabtu-Minggu itu belajar, dan ya capek juga dan kasian pesertanya harus muter-muter cari tempat,” katanya.

Saking tidak adanya tempat belajar yang representatif, Ratna dan 150 mualaf harus belajar secara giliran perkelompok di salah satu ruangan di Masjid Istiqomah, Gedung Sate yang hanya berukuran 4×5 meter. “Itu pun sangat tidak nyaman karena semua yang belajar baca Quran, baca Kitab, belajar bahasa arab, itu semua disitu jadi garandeng (berisik) ga fokis, pernah kita ke Pusdai juga tapi kadang sudah penuh,” katanya.

Ratna berharap, buah silaturahmi yang selama ini dijalin bersama para mualaf, gayung bersambut dengan respon Pemkot Bandung dalam memfasilitasi tempat belajar. “Ya harapannya secepatnya aja pemkot menyediakan ruang khusus, agar kita bisa belajar lebih nyaman dan fokus itu aja,” pungkasnya. (Tito Rohmatulloh/BandungKita)

Editor: Dian Aisyah

Komentar