oleh

Cerita Tiga Mahasiswa di Bandung Jelang Pesta Demokrasi 2019 : Pilih Mudik Tempuh Ratusan Kilometer Hingga Terpaksa Golput

BandungKita.id, BANDUNG – Pesta demokrasi di Indonesia tingggal menghitung jam. Kontestan pemilu semakin deg-degan menjelang masa pemungutan dan penghitungan suara. Seiring itu pula, antusias warga untuk memilih pun ikut meningkat.

Seperti yang diceritakan Rahmat (20), mahasiswa Tehnik Informatika di salah satu kampus swasta di Bandung ini rela menempuh jarak 275 Kilometer untuk menyalurkan hak pilihnya.

Ditemui di terminal Cicaheum, jelang keberangkatannya ke kampung halaman, Rahmat berkisah ia memilih pulang ke Temanggung, Jawa Tengah, demi bisa mencoblos calon pilihanya dalam lima kertas suara.

“Besok kan dua hari lagi pemilu, dari pada ribet ngurus A5 mendingan balik kampung sama sekalian ketemu keluarga juga,” kata Rahmat kepada BandungKita, Senin (15/4/2019) malam.

Dengan merogoh kocek sekitar Rp 95 ribu, Rahmat akan menempuh waktu perjalanan sampai 11 Jam. “Saya mau main dulu sih ke Yogyakarta, soalnya masih ada jeda sehari, kalau ongkos sih dari sini ke Wonosobo dulu Rp 80 ribu, dari Wonosobo ke Temanggung sekitar Rp 15 ribu,” ungkap Rahmat.

Sebagai warga negara, kata Rahmat, sudah selayaknya ia menyalurkan hak pilih. Dia pun berharap para wakil rakyat dan presiden yang terpilih bisa memperbaiki persoalan bangsa yang terus datang silih berganti.

BACA JUGA :

Prabowo-Sandi Janji Tak Ambil Gaji Serupiah pun Bila Terpilih, Begini Kata Sandiaga

 

Aa Gym : Bismillah Saya Pilih 02, Ini Pilihan Hati Saya

 

“Saya mau mudik karena ya buat bangsa sendiri apa sih yang enggak, jadi mau berkontribusi aja mensukseskan pemilu 2019, semoga yang terpilih amanah,” ungkapnya.

Lain halnya dengan Rahmat, mahasiswi salah satu kampus negri di Bandung, Nadhila Zahrin (21) lebih memilih nyoblos di salah satu TPS Kelurahan Rancanumpang, Kecamatan Gedebage.

Jauhnya jarak untuk pulang kampung, menjadi alasan Nadhia menyalurkan hak pilihnya di Kota Kembang.

“Kalau pulang jauh, jadi yah ngurusin A5 aja, biar tetep bisa nyoblos. Waktu itu syaratnya bawa kartu keluraga, dan KTP E, terus disuruh ke kelurahan dan diurusin sama kelurahan gitu,” ungkap dara asal Cilegon, Provinis Banten, saat dihubungi BandungKita melalui sambungan telepon seluler.

Meski demikian, Nadhila mengungkapkan dirinya yang hanya bisa memilih Capres-Cawapres cukup menyayangkan karena tidak bisa memilih legislatif di tempat asalnya.

BACA JUGA :

KPU Pastikan Pasokan Listrik di Jabar Aman pada Hari Pencoblosan

 

Waduh! H-2 Pemilu, Ada Dugaan Money Politik di Bandung

 

“Ya sangat disayangkan hanya punya hak suara buat capres-cawapres kan memang beda regional gitu, beda provinsi, kirain bisa semua, ternyata (untuk A5) bisanya cuma milih capres aja,” ungkapnya.

Kisah berbeda juga diceritakan salah satu mahasiswa Bandung berinisial KW (21). Mahasiswa asal Kabupaten Brebes ini justru terpaksa tidak bisa menyalurkan hak pilihnya alias golput lantaran tidak bisa pulang kampung, juga tak sempat mengurus A5.

“Ya mau pulang gimana, terkendala sama biaya aja itu. Terus juga mau ngurus A5 udah enggak bisa, jadi pemilu kali ini ya enggak bisa menyalurkan hak suara, mungkin,” ungkap mahasiswa yang menolak disebutkan identitasnya tersebut.

Nasib memang sulit ditebak, termasuk dalam urusan tempat nyoblos sekalipun. Namun yang pasti ketiganya memiliki harapan besar bagi siapa pun yang kelak terpilih.

Berdasarkan penuturan ketiganya, mereka berharap siapa pun yang terpilih agar bisa membwa Indonesia lebih baik. Meski warna pemilu tahun ini dibumbui berbagai isu yang cukup kotroversial, ketiganya berharap pemimpin dan wakil rakyat yang terpilih bisa bersikap amanah, adil, bijaksana sebagai tauladan bagi masyarakat. (Tito Rohmatulloh/BandungKita.id)

 

Editor : M Zezen Zainal M

Komentar