by

Rayakan Hari Menari Sedunia, 3.000 Penari Siap Goyang Kota Bandung Akhir Pekan Ini

BandungKita.id, BANDUNG – Masyarakat Seni Rakyat Indonesia (Masri) akan menggelar pentas 3.000 penari ronggeng geber di area Car Free Day, Jalan Ir H Juanda, Kota Bandung, Minggu (28/4/2019) mendatang.

Kegiatan tersebut digelar dalam rangka merayakan peringatan Hari Menari Sedunia atau Wolrd Dance Day yang telah di tetapkan oleh Unesco pada 29 April 1982 silam.

Menurut ketua sekaligus kreator pentas Ronggeng Geber, Abah Nanu menuturkan ronggeng geber sengaja dipilih sebagai kesenian yang akan ditampilkan karena kental dengan nuansa khas Jawa Barat.

Abah Nanu juga menuturkan sejarah ronggeng erat kaitannya dengan budaya masyarakat agraris di Jawa Barat pada masa lalu.

“Tapi saat ini, seiring dengan berkurangnya lahan agraris di Jawa Barat terkhusus di Kota Bandung ronggeng juga semakin hilang, dengan kegiatan ini semoga masyarakat bisa teringatkan pentingnya menjaga seni tradisi lokal,” ungkap Abah Nanu saat jumpa pers di Bandung, Senin (22/4/2019).

Zaman dahulu, lanjut abah, ronggeng biasanya dilakukan saat hasil pertanian khusunya padi sudah selesai di panen sebelum dimasukan ke gudang gabah atau yang dalam bahasa sunda disebut Leuit.

BACA JUGA:

 

Ratusan Siswa SD Aji Tunggal Ujungberung Ikuti USBN, Begini Kondisi Sekolahnya Pasca Diterjang Banjir

 

 

“Sekarang kan sudah mulai hilang, orang sekarang lebih menggunakan teknologi modern untuk nyimpan dan ngolah padi, seiring dengan itu upacara tarian ronggeng juga hilang,” lanjut Abah.

Selain itu, kata ‘geber’ merupakan kata dalam bahasa sunda yang berkaitan dengan kipas traditonal berbahan bambu atau yang biasa di sebut hihid. Geber dalam bahasa indonesia bisa diartikan mengipasi.

“Jadi geber itu secara filosofiskan meniupkan angin, dengan ronggeng geber ini diharapkan, susana masyarakat yang berada dalam kondisi panas bisa menjadi dingin,” kata Abah.

Selain itu, kata Abah, jika geber diterapkan dalam proses menghidupkan api. Maka bisa dimaknai sebagai pemanas yang dingin.

“Kita biasa lihat kalau ada api unggun yang padam kan dikipasin atau digeber dan apinya kembali menyala nah jadi geber itu dalam bahasa Sunda ada dua makna itu tadi,” ujarnya.

Abah Nanu berharap, dengan di gelarnya kegiatan tersebut bisa memberi kesan pada masyakat pentingnya menjaga kearifan lokal khususnya khas Jawa Barat.

“Nanti yang menari itu mayoritas anak-anak SD, SMP, SMA dari 18 Kota Kabupatrn se Jawa Barat, bahkan ada beberapa juga yang dari luar Jawa Barat semoga masyakat bisa mendapat prsan dan kesan posotif dari kegiatan ini,” ujar Abah.(Tito Rohmatulloh/BandungKita.id)

Editor: Dian Aisyah

Comment