oleh

Sebagian Pedagang Akui di Pasar Kosambi Tak Tersedia Apar

BandungKita.id, BANDUNG – Salah satu pedagang di Pasar Kosambi, Darmi (65) menuturkan Alat Pemadam Api Ringan (Apar) memang tersedia, namun disimpan di kantor pasar yang berada di lantai satu gedung tersebut.

“Kalau alat pemadam kebakaran ringan memang gak ada, saya ga lihat yah, kalau di kantor (pasar) ada, cuma di dalam pasar mah gak ada,” kata pedagang bumbu dapur tersebut, saat di temui BandungKita, Selasa (21/5/2019).

Darmi juga tidak meilhat Apar disimpan di dinding sebagaimana kebanyakan Apar di gedung-gedung lain. Selama 28 tahun berjualan di pasar, Darmi juga belum pernah mendapat sosialisasi atau pelatihan bagaiamana tata cara penanganan dini bila terjadi kebakaran.

“Ya kalau itu (pelatihan) belum tahu, soalnya baru kali ini (kebakaran parah). Tapi gak tahu kalau ke suami ibu (pernah pelatiahan atau tidak),” ungkapnya.

Baca juga:

Pastikan Tak Ada Lagi Api, Pagi Ini Petugas Damkar Kembali Meluncur ke Pasar Kosambi

 

Senada dengan Darmi, pedagang lainya, Hendi (46) mengatakan hal yang sama. Selain Apar di Pasar Kosambi yang dinilai tak berfungsi optimal, saluran pemancar air di dalam jongko juga tidak berfungsi.

“Kalau yang didalam jongko mah ada, cuman gak berfungsi. Alat untuk mendeteksi asap yang memancarkan air dari atas ada, namun juga tidak berfungsi itu. Kalau tabung yang warna merah tersedia, tapi di kantor,” kata pedagang kue tersebut.

 

Petugas pemadam terus berusaha menjinakan api yang berkobar di Pasar Kosambi, Jalan Ahmad Yani Kota Bandung, Senin (20/5/2019)

 

Sementara itu, menurut Wara (30) pedagang busana, mengatakan saat kejadian kebakaran, api sangat cepat membesar dan sulitnya mengambil Apar sehingga penanganan pertama dilakukan seadanya.

“Ada sih ada cuman ga mempan, masalahnya kan begitu kejadian apinya udah besar, kalau tabung biasanya di atas, di kantor, kebetulan jauh dari titik kebakaran,” papar pedagang yang telah berjualan sejak 1990 tersebut.

Soal pelatihan dan antisipasi apabila terjadi kebakaran, Wara pun mengatakan belum sekali pun mendapat pelatihan terkait langkah pertama bila terjadi kebakaran. “Enggak ada dikasih pelatihan, sosialisasi ya belum pernah,” ujarnya.

Baca juga:

Kerugian Akibat Kebakaran di Pasar Kosambi Ditaksir Mencapai Rp 5 Miliar

 

Penuturan berbeda disampaikan Deden (34). Dirinya justru mengaku pernah mengikuti pelatihan tindakan pertama bila terjadi kebakaran. Terkait Apar, Deden menyebut Apar tersedia bahkan sempat digunkan saat pertama terjadinya kepulan asap.

“Ada, tabung merah, tapi kalau buat pedagang mah adanya di kantor pasar lantai 1, itu juga sempet di bawa, alat pemadam kebakaran yang tabung merah itu. Tapi karena percikan api di dalam jongko, rolling doornya mau di buka susah,” ujar Deden.

 

Sejumlah petugas pemadam kebaran beristirahat usai memadamkan api di Pasar Kosambi, Senin (20/5/2019) sekitar pukul 17.00 WIB.

 

“(Pelatihan) ada, dulu kan pernah pelatihan di atas udah ada. Waktu itu satu kali aja. setahu saya masih 4 bulan lalu,” kata pedagang yang mengalami kerugian sekitar Rp150 juta tersebut.

Dilokasi yang sama, Ketua pasar Kosambi, Septie Syahreza masih belum memberi keterangan pasti. Ia belum memberi penjelasan pada awak media lantaran mengalami kelelahan. “Nanti dulu yah kang wawancaranya,” kata Septie dilokasi.

Baca juga:

Kisah Pedagang Korban Kebakaran Pasar Kosambi: Dari Laga Perdana Persib Hingga Seragam Sekolah

 

Sebelumnya, Senin (20/5) Kepala Dinas Kebakaran dan Penanggulangan Bencana (Diskar PB) Dadang Iriana mengakui bahwa Pasar Kosambi tidak memiliki Apar. Selain itu, lanjut Dadang, ada beberapa kios yang menutup ventilasi sehingga cukup menyulitkan proses pemadaman.

“Nah ini kalau untuk Pasar Kosambi ini alat pemadam kebakaran tidak ada, kemudian juga akses ventilasi ini tidak ada. Jadi sangat menyulitkan sekali proses pemadaman,” ujar Dadang. (Tito Rohmatulloh/BandungKita)

Komentar