oleh

Kisah Pedagang Korban Kebakaran Pasar Kosambi: Dari Laga Perdana Persib Hingga Seragam Sekolah

BandungKita.id, BANDUNG – Sabtu tanggal 18 Mei 2019 menjadi malam yang cukup mengerikan bagi sejumlah pedagang di Pasar Kosambi, Kota Bandung. Sekira pukul 20.45 WIB, seorang pedagang sayur, Ricky Ari Pratama (25) masih berada di sekitar pasar Kosambi melepas lelah dengan berkumpul bersama pedagang lainya.

Ia tengah asyik menyaksikan duel perdana Maung Bandung di liga satu kontra Mutiara Hitam.

Kemenangan Persib tampaknya tak cukup jadi pelipur lara bagi pedagang dipasar Kosambi. Lantaran, meski Persib menang telak 3-0, yang mestinya jadi suka cita semua orang, harus berubah jadi duka akibat bencana kebakaran.

Meski tahu bencana tak mengenal waktu, bagi pedagang di Pasar Kosambi kebakaran itu terjadi di waktu yang kurang tepat. Beberapa pekan menjelang Idulfitri adalah musim ramai pembeli. Namun sayang barang yang mereka akan jual ludes dilalap api.

“Waktu kejadian kebanyakan pedagang memang udah tutup karena nonton Persib,” kata Ricky, saat ditemui BandungKita dilokasi, Senin (20/5/2019).

Baca juga:

Setelah Berjuang Selama 2 Hari, Petugas Pemadam Kebakaran Akhirnya Berhasil Jinakan Api di Pasar Kosambi

 

Tak sempat bagi Ricky untuk menikmati permainan Persib mengolah si kulit bundar, ia dan para pedagang justru sibuk berusaha memadamkan api yang berada di belakang pasar, atau seratus meter dari tempat Ricky nobar (nonton bareng) tim asuhan Robert Rene Albert tersebut.

Bahkan, ia sempat menggedor satu kios yang disinyalir jadi titik awal api berkobar. “Tapi api udah besar mau dipadamkan juga sulit,” kenangnya.

“Ya musibah aja ini mah, udah gak ada barang yang bisa diselamatkan, tamat ini mah. Padahal sekarang momen menuju lebaran udah mulai ramai. Mulai kerasa juga ada peningkatan, uang udah kita belanjakan stok barang ,”kata Ricky.

 

Asap masih membungbung dari bangunan pasar Kosambi, Minggu (19/5/2019). Alat berat juga telah diturunkan untuk menjebol kios-kios untuk memadamkan sumber api yang sulit dijangkau.

 

Warga Kelurahan Kebonpisang, Kecamatan Sumur Bandung tersebut harus merelakan sedikitnya Rp.10-12 juta omzet hariannya menguap bersama kepulan asap hitam usai dilalap Si Jago Merah.

Penuturan senada juga diutarakan Wahyu (35), pedagang bumbu dapur asal Kota Santri Tasikmalaya. Ia mengaku hanya bisa pasrah sambil menunggu niat baik pemerintah agar merelokasi para pedagang yang terdampak.

“Kalau yang udah terjadi mah ya gimana lagi,” kata Wahyu.

Baca juga:

Sempat Kembali Ada Asap, Petugas Pastikan Bibit Api Baru di Pasar Kosambi Telah Ditangani

 

Tak sempat ditanya ia suka Persib atau tidak, yang pasti Wahyu cukup terkejut lantaran sama sekali tidak merasakan petanda apapun. Dia hanya berjualan dilapaknya yang berukuran 2 kali 2 meter sebagaimana biasanya.

Meski bukan pedagang besar dengan omzet puluhan juta, Wahyu cukup prihatin dengan kejadian tersebut. Terlebih, bumbu masakan merupakan komoditas paling diburu jelang lebaran.

“Biasanya memang ramai banget seminggu sebelum (lebaran), tapi stok udah sedikit-sedikit ditambah sih, tapi semua habis terbakar,” ujar pedagang asal Kecamatan Pagerageung tersebut.

 


Pedagang menyelamatkan barang dagangan dari amuk api di pasar Kosambi, Jalan Ahmad Yani Kota Bandung, Senin (20/5/2019)

 

Membahas Kebakaran di Pasar Kosambi, nampaknya tak sekadar berkaitan dengan momen lebaran, satu hal yang tak boleh dilupakan adalah momen tahun ajaran baru. Komoditas paling diburu tentu perlengkapan sekolah, terutama seragam.

Demikian disampaikan, Dian (32) pedagang seragam sekolah asal Kecamatan Tarogong, Kabupaten Garut. Ia terpaksa berjibaku dengan kepulan asap hitam demi menyelamatkan barang dagangannya.

“Saya menyelamatkan barang itu awalnya lihat pedagang lain juga banyak yang menyelamatkan barang, saya pun ikut, dan terselamatkan itu 5 boks barang,” ujar warga yang kini tinggal di Kelurahan Malabar, Kecamatan Lengkong tersebut.

Baca juga:

Komisi B Bakal Investigasi Penyebab Kebakaran di Pasar Kosambi

 

Dian bahkan sempat belanja untuk memastikan kebutuhan pelanggan tersedia. Namun siapa yang tahu musibah bakal terjadi, Dian kini dilanda kebingungan karena tempat biasa berjualan telah hangus.

“Ya bingung juga sih, barang mungkin terselamatkan ya tapi jualannya mau dimana, sementara pemasukan harus tetap ada, buat beli buka puasa aja susah sekarang mah,” ujar bapak empat anak tersebut.

Terlepas apapun penyebab musibah tersebut, Ricky, Wahyu juga Dian menegaskan kini mereka hanya menunggu niat baik pemerintah melakukan relokasi pedanag, agar roda ekonomi pedagang korban kebakaran bisa kembali berjalan.***(Tito Rohmatulloh/BandungKita)

Editor: Restu Sauqi

Komentar