by

Kisah 3 Siswa SMA Palangkaraya yang Temukan Obat Kanker Mujarab di Hutan Kalimantan

BandungKita.id, NASIONAL – Tiga siswa Sekolah Menengah Negeri 2 Palangkaraya, Kalimantan Tengah menemukan obat kanker dari batang pohon tunggal, atau dalam bahasa dayak disebut dengan Bajakah yang ditemukan di hutan Kalimantan Tengah.

Bajakah dikabarkan mampu menyembuhkan penyakit kanker ganas stadium empat sekalipun. Keberhasilan tiga siswa SMA tersebut berawal dari salah satu timnya, Yazid menuturkan bahwa ada salah satu tumbuhan di hutan Kalimantan Tengah yang kerap digunakan keluarganya untuk menyembuhkan kanker.

Untuk menelitinya, di bawah bimbingan guruu biologi, Ibu Helita MPd, ketiga siswa tersebut memulai pembahasan awal yang lebih intens mengenai kayu bajakah.

Ketiga siswa dan guru pembimbing pun melakukan penelitian di laboratorium sekolah. Dengan menggunakan dua ekor mencit betina atau tikus kecil putih sebagai sampel.

Kedua tikus disuntikan zat pertumbuhan sel tumor dan kanker. Sel tersebut menyebar dengan ciri-ciri banyaknya benjolan, mulai dari ekor hingga bagian kepala.

“Kami memberikan dua penawar atau obat yang berbeda terhadap kedua mencit tersebut, satu mencit diberikan bawang dayak dalam bentuk cairan yang diminumkan, sementara satu satu ekornya diberi air rebusan yang berasal dari kayu bajakah tersebut. Setelah memasuki hari kelima puluh, mencit yang diberikan air penawar dari bawang dayak tewas, sementara mencit yang diberikan cairan kayu Bajakah tetap sehat, bahkan justru bisa berkembang biak,” jelas Helita dilansir di Kompas.com, Rabu (14/8/2019).

Setelah itu pada awal Mei 2019 penelitian dilanjutkan dengan memeriksa kadar kayu bajakah di laboratorium Universitas Lambung Mangkurat, Banjarmasin, Kalimantan Selatan.

Berdasarkan hasil uji laboratorium, kayu bajakah memiliki kandungan yang cukup kaya dan anti-oksidan bahkan ribuan kali lipat dari jenis tumbuhan lain yang pernah ditemukan, khususnya untuk penyembuhan kanker.

Beberapa zat dalam pohon itu adalah fenolik, steroid, tannin, alkonoid, saponin dan terpenoid. Berdasarkan hasil tertulis uji laboratorium dari Universitas Lambung Mangkurat tersebut, ketiga siswa dibantu guru pembimbing mengolah kayu bajakah menjadi serbuk teh siap seduh.

BACA JUGA:

Penjelasan Kemenag Terkait Kabar Mina Banjir dan Terjadi Pemadaman Listrik

 

Meraih juara dunia

Serbuk teh tersebut dibawa ke ajang kompetisi di Bandung pada Mei 2019 dalam ajang Youth National Science Fair 2019 (YNSF) yang dilaksanakan di Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) Bandung. Hasilnya, mereka meraih medali emas.

“Kami bersyukur setelah kami berhasil memenangkan perlombaan tersebut. Bahkan, tak disangka bahwa kami menjadi perhatian dan berhasil meraih juara, dengan memperoleh medali emas, terbaik se-Indonesia, menjadi tiket kami untuk melangkah ke tingkat internasional,” kata Yazid.

Kompetisi itupun dimenangkan hasil karya ilmiah mereka. Ketiga siswa tersebut dipilih mewakili Indonesia, untuk tampil dalam perlombaan tingkat internasional, dalam ajang World Invention Olympic (WICO) di Seoul, Korea Selatan.

Namun dalam ajang selanjutnya, Yazid tidak ikut, sehingga diwakilkan oleh dua rekannya, Anggina Rafitri dan Aysa Aurealya Maharani. Meski sempat tak yakin, mereka tetap berusaha tampil sebaik mungkin.

“Sehingga sangat tidak diduga, kami kembali berhasil meraih juara di tingkat internasional, dengan meraih juara dunia life science pada ajang World Invention Olympic (WICO) di Seoul, Korea Selatan. Kami kembali memperoleh medali emas dengan menggeser 22 negara yang ikut berkompetisi saat itu,” jelas Aysa.

Kemenangan tersebut ternyata membuat semangat ketiga siswa semakin meningkat. Banyak kenangan dan wawasan yang mereka temukan saat itu.

“Kami merasa senang sekali karena bisa membantu orang banyak, bermanfaat bagi semua orang dan membagi informasi tentang kearifan lokal Kalimantan Tengah. Ke depannya, kami akan terus berupaya menggali potensi alam lainnya, agar Kalimantan Tengah yang kaya akan sumber daya bisa bermanfaat bagi banyak orang,” tutur Anggina. (Dian Aisyah/Bandungkita.id)

Sumber: Kompas.com

Comment