Pertanyakan Amdal, Warga : Kok Perumahan Mewah Kota Baru Parahyangan Banyak Lalat?

Bagaimana Penjelasan Manajemen Kota Baru Parahyangan?

 

BandungKita.id, PADALARANG – Sejumlah penghuni perumahan elit cluster Tatar Purbasari dan Bandung Tempo Doeloe 3 (BTD 3), kawasan Kota Baru Parahyangan, Kecamatan Padalarang, Kabupaten Bandung Barat (KBB) mempertanyakan analisis mengenai dampak lingkungan (amdal) cluster Tatar Purbasari dan BTD 3 tersebut kepada pengembang Kota Baru Parahyangan.

Pasalnya, warga mengaku sangat terganggu dengan adanya limbah kotoran peternakan yang melintas di permukiman warga sehingga menimbulkan bau busuk dan menyebabkan timbulnya serangan ribuan lalat ke permukiman warga.

Para penghuni perumahan mewah di KBB tersebut mengaku kecewa lantaran pemukiman mereka sudah sejak beberapa bulan terakhir terasa kumuh dan bau. Mereka pun jadi meragukan amdal perumahan Tatar Purbasari dan BTD 3 karena dinilai kumuh dan dibangun di dekat peternakan unggas.

“Saya dan warga lainnya jadi bertanya-tanya bagaimana ini amdalnya. Masa perumahan mewah seperti ini kok banyak lalatnya? Ada amdalnya enggak, karena kami tiap hari harus mencium bau busuk dari aliran limbah kotoran peternakan yang mengalir ke perumahan kami,” kata Bagus (bukan nama sebenarnya), warga Tatar Purbasari kepada BandungKita.id, Rabu (6/11/2019).

Jalan masuk ke kawasan Kota Baru Parahyangan, Padalarang, Kabupaten Bandung Barat (KBB). (foto:net)

 

Dijelaskan Bagus, warga di Tatar Purbasari sudah sejak beberapa bulan lalu merasakan ketidaknyamanan akibat adanya aliran limbah kotoran unggas dari peternakan ayam yang terletak di samping perumahan elit tersebut. Menurut dia, warga setempat sudah berulangkali mengeluhkan kondisi tersebut kepada manajemen Kota Baru Parahyangan.

“Namun enggak ada solusi konkret. Mereka (manajemen) cuma datang dan lihat. Tapi tetap aja seperti ini. Malahan sekarang lalat makin banyak dan limbah yang mengalir semakin bau menyengat,” ungkap Bagus.

Ia mengungkapkan sejumlah warga bahkan mempertanyakan mengapa Kota Baru Parahyangan malah membangun perumahan di dekat peternakan unggas yang sudah lebih dulu berdiri di kawasan tersebut. Sekadar informasi, lokasi peternakan ayam dengan perumahan warga Tatar Purbasari hanya dipisahkan oleh tembok atau benteng setinggi 3 meter.

BACA JUGA :

 

Waduh! Penghuni Perumahan Mewah Kota Baru Parahyangan ‘Diserang’ Pasukan Lalat dan ‘Disuguhi’ Bau Menyengat, Begini Keluhan Penghuni

 

 

 

DLH Kabupaten Bandung: Amdal Podomoro Park Diterbitkan Hanya Untuk Proyek Perumahan

 

 

Hal senada juga diungkapkan oleh Abdul (juga bukan nama sebenarnya), warga Tatar Purbasari lainnya. Abdul mengatakan warga setempat sudah beberapa kali mengeluhkan serangan lalat dan bau busuk yang berasal dari peternakan unggas kepada pihak pengembang Kota Baru Parahyangan.

Menurut dia, yang terkena imbas limbah peternakan adalah Tatar Purbasari dan cluster Bandung Tempo Doeloe (BTD) 3 yang lokasinya berdampingan. Cluster BTD adalah cluster yang ditempati Wakil Bupati KBB, Hengky Kurniawan.

Warga Tatar Purbasari dan BTD 3, kata dia, kecewa lantaran hingga kini pihak Kota Baru Parahyangan tak juga memberikan solusi konkret bagi warga. Padahal sudah sejak lama warga khawatir, limbah kotoran unggas yang mengalir ke permukiman dapat menimbulkan bibit penyakit bagi warga setempat terutama bagi anak-anak.

“Kami sudah berulangkali mengeluhkan soal ini. Ada yang datang, tapi belum ada solusi. Malahan sekarang lalatnya tambah banyak. Kami jelas kecewa dan mempertanyakan apakah ini amdalnya. Padahal kami beli rumah di sini tidak murah. Beli rumah mahal-mahal, tapi banyak lalat,” ujarnya.

Tumpukan lalat mati yang menyerang pemukiman warga Tatar Purbasari, Kota Baru Parahyangan. Serangan lalat ke perumahan mewah itu diduga disebabkan adanya limbah peternakan ayam yang mengalir ke pemukiman warga (foto:istimewa)

 

Ia juga mempertanyakan amdal yang dimiliki Tatar Purbasari Kota Baru Parahyangan tersebut. Seharusnya, kata dia, jika amdalnya diurus dengan benar, warga dipastikan tak akan mengalami diserang bau dan hama penyakit seperti saat ini.

“Kabarnya pertenakan ayam yang ada di samping perumahan kami ini sudah lebih dulu ada sini. Tapi kenapa Kota Baru malah ngebangun di samping peternakan. Saya berharap pengembang Kota Baru Parahyangan menyelesaikan masalah ini. Kami sudah lelah,” kata Abdul.

BACA JUGA :

Perumahan Griya Asri Cireundeu Menuai Konflik, Ini Kata Warga Kampung Adat

 

 

Warga Komplek Permata Cimahi Menuntut Diperhatikan Pemkab KBB, Begini Jawaban Bagian Aset dan Perumahan

 

 

Terpisah, manajemen Kota Baru Parahyangan melalui staf Pengelola Lingkungan Kota Baru Parahyangan Enda yang didampingi staf lainnya Zainudin mengakui pihaknya memang sudah sejak lama menerima keluhan serangan lalat dari para penghuni Tatar Purbasari.

Menurut Enda, keluhan soal lalat banyak dikeluhkan warga penghuni Tatar Purbasari secara langsung ke manajemen maupun melalui sambungan telepon. Setiap menerima keluhan tersebut, kata dia, manajemen Kota Baru Parahyangan langsung turun ke lapangan untuk menanggapi keluhan penghuni.

“Betul memang ada keluhan seperti itu (soal lalat). Tapi kondisinya on off, kadang ada kadang tidak ada. Enggak selalu tiap hari,” ujar Enda saat ditemui BandungKita.id di kantornya, Rabu (16/19/2019).

Tumpukan lalat mati yang menyerang penghuni Tatar Purbasari, kawasan perumahan mewah Kota Baru Parahyangan, Padalarang, Kabupaten Bandung Barat (KBB). (foto:istimewa)

 

Dijelaskan Enda, berbagai upaya telah dilakukan manajemen Kota Baru Parahyangan untuk mengatasi serangan lalat tersebut. Diantaranya dengan melakukan penyemprotan insektisida, pemberian insect killer untuk para penghuni, mengecek secaru rutin populasi lalat hingga perbaikan saluran sanitasi dan drainase di Tatar Purbasari.

Ia mengakui saluran drainase di Tatar Purbasari awalnya bermasalah. Akibatnya, sempat ada bangkai ayam mati yang mengalir dan terbawa ke pemukiman Tatar Purbasari sehingga menyebabkan serangan lalat dahsyat. Tapi, kata dia, kondisi itu terjadi beberapa bulan lalu

“Segala upaya dan treatment kami lakukan untuk mengatasi persoalan lalat ini, memang belum optimal. Tapi kami berupaya terus,” kata dia.

Kantor manajemen dan pemasaran Kota Baru Parahyangan, Padalarang, Kabupaten Bandung Barat (KBB). (dok BandungKita.id)

 

Disinggung mengenai kekecewaan warga penghuni Tatar Purbasari da BTD 3 yang merasa kecewa dan ironis karena banyak lalat di perumahan mewah sekelas Kota Baru Parahyangan, Enda membantah pihaknya tidak menganggap serius persoalan tersebut.

“Kami pasti serius dong menanggapi ini. Makanya kami terus mencari solusi persoalan ini termasuk koordinasi dengan Dinas Peternakan dan Dinas Kesehatan. Bagaimana pun keluhan itu berasal dari konsumen kami,” kata Enda.

Sebagai bukti keseriusan penanganan persoalan tersebut, sambung dia, pihaknya juga sudah beberapa kali menggelar pertemuan dengan pengelola peternakan ayam, aparat RT dan RW hingga desa dengan difasilitasi Dinas Peternakan dan Dinas Kesehatan KBB.

“Kami juga duduk bareng dengan dinas, pihak desa dan pengelola peternakan untuk mencari solusi bersama. Intinya kami sudah sampai ke sumber penanganan lalat. Itu sebagai bukti bahwa kami sangat concern terkait komplain ini,” tutur Enda.

Salah satu sudut di kawasan Kota Baru Parahyangan, Padalarang, KBB (foto:net)

 

Disinggung apakah manajemen Kota Baru Parahyangan mengetahui bahwa di lokasi tersebut sejak lama sudah berdiri peternakan ayam, Enda mengakui bahwa memang peternakan sudah berdiri lebih dulu di lokasi yang saat ini dibangun perumahan Tatar Purbasari.

“Memang betul peternakan sudah ada di situ. Hanya soal siteplan dan perencanaannya kami tidak tahu,” ungkapnya.

soal amdal Tatar Purbasari yang dipertanyakan penghuni, Enda juga mengelak menjawab. Ia beralasan urusan amdal bukan menjadi kewenangannya.

“Kalau soal amdal kami kurang tahu. Silakan tanyakan saja ke Dinas Lingkungan Hidup (apakah amdalnya per cluster atau secara apa). Mungkin mereka lebih tahu,” ujar Enda. (M Zezen Zainal M/BandungKita.id)

Editor : M Zezen Zainal M

Comment