by

EKSKLUSIF : Wawancara Khusus BandungKita.id dengan Wakil Bupati KBB Hengky Kurniawan Soal Alasan Pindah Partai dan Kursi Bupati KBB

BandungKita.id, KBB – Wakil Bupati Kabupaten Bandung Barat (KBB) Hengky Kurniawan resmi keluar dari Partai Demokrat yang telah mengantarkannya terpilih menjadi Wakil Bupati KBB mendampingi Bupati KBB Aa Umbara Sutisna. Hengky kemudian berpindah haluan ke Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP).

Kabar “loncatnya” Hengky itu sejatinya tidak terlalu mengejutkan karena sebelumnya Hengky pernah memberi sinyal dengan mengunggah fotonya ketika bertemu dengan Ketua DPD PDIP Jawa Barat Ono Surono dan beberapa politisi PDIP lainnya di akun instagram pribadinya. Namun Hengky tetaplah Hengky yang memiliki magnet menggoda. Apa yang dilakukannya selalu menarik untuk diperhatikan dan diperbincangkan.

Apalagi kabar terakhir yang berkembang, Hengky disebut memilih pindah ke PDIP karena dijanjikan akan menjadi Bupati KBB secepatnya dengan menggantikan Bupati KBB saat ini, Aa Umbara Sutisna. Namun benarkah demikian faktanya?

Banyak yang berpendapat keputusan Hengky untuk berpindah haluan dari Demokrat ke PDIP merupakan langkah strategis sekaligus dinilai rasional karena Demokrat dinilai sudah “mentok”. Namun ada pula yang menyebut langkah Hengky tersebut merupakan langkah bidak catur yang keliru dan terkesan emosional. Tak sedikit pula yang mencap Hengky sebagai “pengkhianat” dan haus kekuasaan.

Wabup KBB, Hengky Kurniawan menggelar pertemuan dengan sejumlah elit PDIP Jabar pada Minggu (27/10/2019) lalu. Pertemuan itu dihadiri oleh Ketua DPD PDIP Jabar, Ono Surono, Sekretaris DPD PDIP Jabar, Ketut Kustiawan, Wakil Ketua DPRD Jabar, Ineu Purwadewi Sundari, dan Ketua DPC PDIP KBB, Ida Widaningsih. (Instagram ; Ono _ surono)

 

Dalam beberapa hari terakhir, publik khususnya warga KBB pun masih hangat memperbincangkan keputusan Hengky beralih haluan dari partai berlambang bintang mercy ke partai berlambang banteng moncong putih.

Lalu sebenarnya apa alasan Hengky akhirnya memilih pindah ke PDIP, partai penguasa saat ini? Apakah benar karena dijanjikan PDIP jadi Bupati KBB menggantikan Aa Umbara yang disinyalir terkait kasus hukum? Bagaimana tanggapan dia terkait berbagai spekulasi yang berkembang, terlebih dengan pernyataan kontroversial Wasekjen Partai Demokrat, Andi Arief yang menyebut Hengky pindah ke PDIP karena dijanjikan menjadi bupati secepatnya oleh PDIP?

BACA JUGA :

Woow! Wabup KBB Hengky Kurniawan Bertemu Ketua PDIP Jawa Barat, Sinyal Pindah Partai?

 

 

Bagaimana sikap dia atas kekecewaan Partai Demokrat dan partai koalisi? Apakah hubungannya dengan Demokrat baik-baik saja? Bagaimana komentarnya terkait penilaian kader dan simpatisan bahkan masyarakat luas yang menganggap Hengky tidak memiliki etika politik karena sering pindah-pindah partai?

Simak Wawancara Eksklusif Pemimpin Redaksi BandungKita.id, Mohammad Zezen Zainal M dengan Wakil Bupati KBB Hengky Kurniawan, berikut ini :

(Hasil wawancara ini telah melalui sedikit penyuntingan atau pengeditan guna memudahkan pembaca mencerna dan menangkap isi wawancara, namun sama sekali tidak menghilangkan substansi yang disampaikan). Selamat membaca.

Pertanyaan M Zezen (MZ) : Bagaimana Anda melihat dinamika dan berbagai spekulasi yang berkembang saat ini terkait kepindahan Anda dari Demokrat ke PDIP?

Jawaban Hengky Kurniawan (HK) : Kalau orang mengatakan ABCD segala macam, saya rasa itu wajar karena mungkin karena tidak tahu yang sebenarnya. Tapi saya melihat pemberitaan dan kabar yang berkembang soal kepindahan saya sudah tidak lagi proporsional dan melebar ke mana-mana bahkan sudah dicampuri hoax. Itu harus diklarifikasi.

ZM : Apakah Anda terganggu dengan spekulasi yang berkembang saat ini soal alasan kepindahan Anda ke PDIP?

HK : Saya sih positive thinking aja. Yang paling penting saat ini, saya fokus membuat KBB lebih baik lagi. Dan saya akan membuktikan bahwa akan semakin banyak program yang bermanfaat untuk masyarakat meski sekarang saya sudah beda warna (red-pindah ke PDIP).

Wakil Bupati KBB, Hengky Kurniawan (kanan) berfoto dengan Ketua DPD PDIP Jawa Barat, Ono Surono yang juga anggota Komisi IV DPR RI di Bandung, Sabtu (7/9/2019) lalu. (foto:istimewa)

 

ZM : Anda kini banyak diperbincangkan masyarakat KBB apalagi setelah Wasekjen Partai Demokrat, Andi Arief membuat cuitan yang menyebut alasan Anda pindah ke PDIP karena ditawari akan menjadi bupati lebih cepat. Bagaimana tanggapan Anda soal cuitan Andi Arief tersebut?

HK : Memang saya perlu menanggapi cuitan junior saya, teman saya, sahabat saya, dan juga termasuk Bang Andi Arief yang memang sering kontroversial. Saya memandang itu lumrah. Itu hal biasa karena mungkin tidak tahu di lapangan seperti apa. Terkadang ada mis informasi sehingga beritanya jadi ke mana-mana.

BACA JUGA :

Hengky Kurniawan dan Pudarnya Sopan Santun Politik

 

 

 

OPINI : Mas Hengky…Atas Nama Pengabdian atau Kekuasaan?

 

 

ZM : Lalu seperti apa sebenarnya soal cuitan Andi Arief tersebut? Apakah benar Anda dijanjikan kursi Bupati KBB menggantikan Aa Umbara sebagai hadiah Anda masuk PDIP?

HK : Saya juga baca cuitan Andi Arief bahwa saya dijanjikan bupati. Itu enggak betul. Saya yakin APH (aparat penegak hukum) akan bekerja profesional dan tidak bisa diintervensi pihak mana pun. Jadi tidak perlu masuk partai tertentu. Kalau ada masalah (hukum) pasti akan diselesaikan karena negara kita negara hukum.

Kedua, konteks PDIP menawari saya jadi bupati itu yaitu konteksnya PDIP mendorong saya untuk maju menjadi calon bupati di pilkada Kabupaten Bandung 2020. Bukan di KBB. Saya yakin PDIP juga tidak akan menggunakan cara-cara jorok untuk ibaratnya seperti yang diduga Andi Arief (menggantikan Aa Umbara). Itu harus tegas saya sampaikan.

Bupati dan Wakil Bupati KBB, Aa Umbara Sutisna (kiri) dan Hengky Kurniawan (foto:istimewa)

ZM : Gara-gara cuitan Andi Arief tersebut, Anda dicap masyarakat sebagai politisi yang haus kekuasaan sehingga akhirnya memilih pindah ke PDIP?

HK : Hmmm hahaha (tertawa). Itu bagus pertanyaannya. hahaha (tertawa). Kalau orang berspekulasi ABCD soal kepindahan saya, itu sesuatu yang wajar. Tapi perlu masyarakat ketahui bahwa misalnya saya berambisi jadi bupati itu tidak betul. Kalau saya dibilang berambisi dan haus kekuasaan, dari awal saja yang jadi bupati. Survei juga bagus. Kalau saya berambisi, saya enggak akan mau jadi wakil. Toh saya juga keluar biaya cukup banyak. Intinya kalau saya mau (jadi bupati) mah, dari awal saja yang jadi bupati, toh saya juga mengeluarkan biaya cukup banyak.

ZM : Jadi siapa yang menawari Anda untuk jadi bupati di pilkada Kabupaten Bandung 2020?

HK : Waktu itu Mas Ono (Ono Surono, Ketua DPD PDIP Jabar), Teh Rieke (anggota DPR RI), Teh Ineu (Wakil Ketua DPRD Jabar) dan Bu Ida (Ketua DPC PDIP KBB). Jadi awal pembicaraan saya dengan Mas Ono, saya akan didorong ke Kabupaten Bandung untuk jadi bupati di pilkada 2020. Boleh dicek di FB, IG, saya melihat ada beberapa orang yang mengedit video saya untuk disosialisasikan di pilkada Kabupaten Bandung 2020. Itu yang harus saya clear-kan supaya tidak melenceng ke mana-mana.

Salah satu capture media sosial yang menyosialisasikan Hengky Kurniawan sebagai calon Bupati Bandung pada Pilkada Kabupaten Bandung 2020 (foto:istimewa)

 

ZM : Apakah Anda kemudian menerima tawaran PDIP untuk dicalonkan bupati di Kabupaten Bandung? Apakah Anda tertarik untuk ikut berkontestasi di Pilkada Kabupaten Bandung 2020?

HK : Saya sampaikan ke Mas Ono, Sekjen PDIP, Teh Ineu, dan ada Bu Ida (Ketua DPC PDIP), saya ingin fokus di KBB. Dan saya masih konsisten di KBB.

ZM : Kalau Anda menolak dicalonkan bupati di Kabupaten Bandung, lalu apa sebenarnya alasan Anda keluar dari Demokrat dan pindah ke PDIP?

HK : Sebenarnya tidak semua alasan harus saya kemukakan. Apalagi ini menyangkut internal partai sendiri. Nanti kalau saya jelaskan terlalu detail, bahaya. Saya enggak mau menyakiti seseorang. Itu mungkin alasan saya. Biarlah ini menjadi rahasia saya. Saya hanya ingin berganti jaket ini lebih bermanfaat bagi masyarakat. Kalau memang mau tahu, background keluarga saya memang PDIP. Kakek saya dulu pengurus PNI, lalu ayah saya juga pernah Sekretaris PDIP tahun 82. Jadi PDIP bukan sesuatu yang baru.

ZM : Jadi benar sekarang Anda sudah resmi menjadi kader PDIP?

HK : Ya betul, saya sudah resmi ke PDIP. Insya Allah kalau tidak ada halangan, nanti secara simbolis saya akan diberikan KTA dan dipakaikan jas merah secara langsung oleh Bu Mega.

Kartu Tanda Anggota (KTA) PDIP milik Hengky Kurniawan (foto:istimewa)

 

ZM : Apakah Anda sudah memikirkan matang-matang sebelum memutuskan meninggalkan Demokrat dan memilih PDIP sebagai pelabuhan selanjutnya?

HK : Ya. Saya juga sudah diskusi dengan para senior. Sepertinya tidak ada masalah pindah ke partai lain. Sudah saya bicarakan baik-baik.

ZM : Setelah Anda pindah ke PDIP, banyak kader dan simpatisan Demokrat serta partai koalisi yang kecewa dan mencap Anda sebagai pengkhianat? Bagaimana tanggapan Anda?

HK : Kalau ada yang kecewa wajar dalam politik. Tadinya satu warna, sekarang beda warna. Tapi dengan beda warna bukan berarti pertemanan dan persahabatan hilang begitu saja. Beda warna bukan berarti berpisah. Justru pindah warna malah bikin kita tambah solid dan bertambah teman baru di koalisi. Insya Allah program kita lancar karena tidak ada kendala di legislatif. Saya mengajak kita untuk berfikir positif. Kita utamakan kepentingan masyarakat. Yang paling utama kebermanfaatan untuk masyarakat. Jangan melihat saya ada di mana. Yuk kita sama-sama mengawal KBB ini agar lebih baik. Mari kita berikhtiar agar program-program dari pusat buat KBB semakin banyak.

ZM : Kalau masih ada yang tidak menerima kepindahan Anda ke PDIP dan menganggap kepindahan Anda ke PDIP karena demi kekuasaan, apa tanggapan Anda?

HK : Yang saya harapkan (setelah pindah ke PDIP) program-program dari pusat untuk KBB semakin banyak. Dan saya akan buktikan akan semakin banyak program yang bermanfaat untuk masyarakat KBB. Saya fokus di KBB. Saya akan tuntaskan tugas saya sebagai Wakil Bupati di KBB. Kalau sekarang dipelintir begini begitu, saya sih enggak mau menanggapi terlalu dalam soal itu. (M Zezen Zainal M/BandungKita.id)

Editor : M Zezen Zainal M

Comment