by

Akibat PJJ, 2.300 Siswa SMP di Cimahi Terancam Tak Naik Kelas

BandungKita.id, CIMAHI – Sebanyak 2.300 siswa Sekolah Menengah Pertama (SMP) di Kota Cimahi terindikasi bermasalah dalam penyelenggaraan Pembelajaran Jarak Jauh (PJJ). Hal ini berdasarkan catatan di Dinas Pendidikan (Disdik) Kota Cimahi.

Sejak pandemi Corona Virus Disease (Covid-19) mewabah, semua jenjang pendidikan di Kota Cimahi menghentikan Kegiatan Belajar Mengajar (KBM) secara tatap muka. KBM pun dialihkan secara PJJ atau daring.

“Dari total 21.228 siswa SMP, ada 2.300 anak yang diindikasikan bermasalah dalam penyelenggaraan PJJ,” ungkap Kepala Disdik Kota Cimahi, Harjono, Rabu (30/12).

Harjono mengungkapkan, ada berbagai permasalahan temuan selama sekitar delapan bulan pembelajaran secara daring dilaksanakan. Dari mulai dari tingkat kehadiran selama PJJ sangat rendah.

“Bahkan ada anak sama sekali gak isi absen,” ucap Harjono dikutip dari Jabar Ekspres

Harjono menduga, ada berbagai faktor sehingga ribuan siswa tersebut mengalami bergbagai permasalahan. Dari mulai hambatan dalam mengakses teknologi.

“Dari mulai gak punya ponsel, ada satu ponsel dipake orang. Kuota enggak ada,” beber Harjono.

BACA JUGA :

Horee.. Siswa dan Guru di Jabar Dapat Kuota Gratis 10 GB dari Telkomsel

Wow! Nadiem Beri Bantuan Kuota Internet, 35 GB Bagi Siswa, 42 GB Guru dan 50 GB Mahasiswa

Dinkes Kota Cimahi Maraton Swab Test, Cegah Covid-19 di Kalangan Guru dan THL

Alasan lainnya, anak-anak tersebut diduga tidak memiliki pendamping ketika melaksanakan pembelajaran daring.

“Bisa saja misalnya kedua orang tuanya sibuk kerja sehingga gak punya waktu, atau alasan lainnya,” sebutnya.

Bahkan, terang dia, saat penilain dan pengumpulan ada anak-anak yang tidak mengikuti dan melaksanakannya, sehingga para guru tidak memberikan nilai terhadap anak-anak tersebut.

Imbas dari permasalahan tersebut, ribuan siswa SMP itu raportnya tertahan di sekola karena ada nilai-nilai yang memang belum tuntas. Pembagian raport selama PJJ ini sendiri disampaikan secara online, meski ada yang diambil manual karena kendala-kendala tersebut.

Untuk menyelesaikan permasalahan ini, pihaknya sudah mengintruksikan setiap sekolah untuk memanggil para orang tua atau wali muridnya. Tujuannya, supaya ada solusi dibalik permasalahan tersebut.

Sebab jika tidak segera diselesaikan, maka persoalan nilai siswa-siswa tersebut tidak akan segera terisi. Khawatirnya, mereka malah tidak akan naik kelas karena permasalahan-permasalahan tersebut.

“Kalau masih seperti ini, mereka kalau gak naik kelas mereka bisa milih DO (drop out). Makannya harus diselesaikan, terutama. Masalah nilai-nilainya,” ujar Harjono.

Sementara itu, untuk tingkat Sekolah Dasar (SD) kemungkinan ada siswa yang mengalami permasalahan serupa. Namun pihaknya masih mendatanya melalui sekolah-sekolah. (*)

Editor : Azmy Yanuar Muttaqien

Comment