by

Tiga Tahun AKUR, Buruh Nilai Tidak Banyak Perubahan di Bandung Barat

BandungKita.id, KBB – Sejumlah warga Kabupaten Bandung Barat mengaku belum merasakan perubahan signifikan selama tiga tahun kepemimpinan Aa Umbara Sutisna dan Hengky Kurniawan.

Warga menilai hasil kerja pasangan Aa Umbara Sutisna dan Hengky Kurniawan belum dirasakan betul. Semestinya, pada tahun ketiga kepemimpinannya, janji-janji politik yang dulu ditawarkan ketika berkampanye sebagian besar harus sudah direalisasikan.

Ajat (54) warga Kecamatan Rongga, mengatakan hingga kini belum banyak perubahan yang dirasakannya, khususnya untuk masyarakat di Selatan KBB. Bahkan terbilang stagnan, meski ada perbaikan terkait fasilitas jalan hingga ke wilayah perbatasan.

“Emang tidak terasa secara langsung dampaknya,” ujarnya kepada BandungKita, Rabu (13/10/2021).

Baca Juga

Bamperperda DPRD KBB Terima Usulan Dua Raperda

Waduh! Ratusan Buruh Geruduk Pemda KBB

Ia menerangkan, untuk bantuan sosial ketika pandemi COVID-19 saja, banyak warga masyarakat dilingkungan sekitarnya yang tidak kebagian. Bahkan, dirinya pun mengaku tidak pernah mendapatkan bansos sejak dari awal pandemi, meski sudah beberapa kali mencoba mendaftarkan diri.

“Sudah beberapa kali ada bansos banyak yang tidak tepat sasaran. Mungkin karena kurangnya sosialisasi dari atas ke bawah, sebaiknya pejabat memantau langsung pembagiannya,” katanya.

Selain itu, untuk masyarakat petani yang ada di lingkungannya cukup kesulitan mendapatkan pupuk. Hal tersebut karena sebagian besar petani tidak mempunyai kartu tani, sehingga tidak bisa mengakses kebutuhan pupuk.

“Kalau tidak punya kartu tani tidak dikasih. Sama upah minimun juga untuk kalangan buruh, harus diperhatikan juga jangan sampai kurang dari upah minimum,” Ucap Ajat.

Sementara itu, dari kalangan buruh Dede Rachmat mengatakan pasangan Aa Umbara Sutisna – Hengky Kurniawan belum ada kontrak politik dengan para buruh yang direalisasikan satupun. Keduanya, pernah sesumbar akan memberikan kemudahan para buruh mendapatkan rumah murah.

Sambungnya, menyediakan bus antar jemput gratis untuk buruh, dan menyediakan kantor untuk serikat buruh serta fasilitas lain sebagainya.

“Buruh kecewa karena belum ada yang direalisasikan. Janji-janji ini dari awal memimpin hingga kini belum juga ada satupun,” ucapnya.

Menurutnya, selama ini buruh di KBB sangat sulit untuk mengakses sektor kesehatan, misalnya saja program vaksinasi COVID-19. Banyak buruh yang tidak diberikan kelonggaran oleh perusahaan untuk melaksanakan vaksinasi.

“Kalau ada yang diberikan izin vaksin yang ada di Puskesmas, upahnya untuk hari itu tidak dibayarkan. Perusahaan juga tidak menyediakan fasilitas vaksinasi untuk buruhnya,” kata Dede.

Hal serupa juga diungkapkan oleh Sudir (50) buruh asal Cimareme yang menilai kesejahteraan para buruh selama tiga tahun terakhir tidak banyak perubahan.

“Jika buruh tidak bergerak (demo) ya gitu-gitu aja, nggak ada perubahan yang signifikan. Bahkan, setelah gerak juga terkadang stagnan,” ungkapnya. (Faqih Rohman Syafei)

Comment