MBG Kering di KBB: Trauma Keracunan atau Skema Keuntungan?

Health, KBB, NewsKita, ViralKita122619 Views


Bandungkita.id, KBB –Setelah gelombang keracunan massal akibat menu MBG (Makanan Bergizi Gratis) basah di Kabupaten Bandung Barat (KBB), sejumlah SPPG (Satuan Layanan Pemenuhan Gizi) kini beralih ke menu kering. Tapi publik bertanya: ini bentuk trauma kolektif atau strategi untung-untungan?

Episentrum Keracunan MBG Nasional
Sedikitnya empat SPPG terlibat dalam insiden keracunan yang menimpa hampir 2.000 siswa. Terbaru, 449 siswa di Cisarua tumbang usai menyantap MBG. KBB pun menyandang gelar tak diinginkan: episentrum keracunan MBG nasional.

Trauma Kolektif: Orang Tua dan Sekolah Waswas


“Saya nyuruh anak untuk tidak makan MBG, takut terjadi apa-apa,” ujar Yati, orang tua siswa di Cililin.
Agus, warga lain, memilih membekali anaknya dari rumah: “Yang MBG-nya jangan dimakan.”
Beberapa sekolah bahkan meminta SPPG menunda pengiriman. “Atas permintaan orang tua, kami minta SPPG tidak kirim dulu,” kata Taufik, Kepala SDN 1 Cililin.


Sejumlah SPPG mengganti menu basah dengan makanan kering demi “mengurangi risiko.” Tapi hasilnya justru memicu pertanyaan.
Ade Jalal, warga Cipongkor, memvideokan MBG anaknya: roti warungan, telur, dua anggur, kacang goreng—tanpa susu. “Harganya paling 6–7 ribu,” katanya.
Di Cililin, pisang mentah masuk daftar menu. “Tidak habis pikir,” ujar Asep BZ, ketua RW sekaligus wali murid.

MBG Kadaluarsa: Bumil Dapat Bubur dan Sukro Expired


Bandungkita.id menerima foto MBG kadaluarsa yang dibagikan kepada ibu hamil di Batujajar. Sukro dalam paket tercatat expired sejak November 2024.
Soni Andrian, Kepala SPPG Haurngambang, mengakui kelalaian: “Sudah diganti, tapi itu dari suplayer. Tim kami juga lalai tidak memeriksa.”

Skema Anggaran: 15 Ribu Tapi Komoditi Cuma 6 Ribu?


Juknis BGN menetapkan anggaran MBG Rp15.000 per porsi: Rp10.000 untuk bahan, Rp3.000 BOP dapur, Rp2.000 sewa alat.
Namun warga menuding yayasan terlalu mengintervensi dapur SPPG. “Yayasan sudah untung dari sewa dapur, jangan lagi ambil dari komoditi,” kata Agus Rahman, warga Bongas.

Benang Merah: Intervensi Yayasan, Komoditi Terpangkas


Penelusuran Bandungkita.id menemukan pola pengurangan nilai MBG hampir di seluruh SPPG. Dugaan mengarah pada yayasan yang “mengangkangi” anggaran dapur.
“Anggaran Rp13 ribu semestinya dikelola SPPG. Jangan lagi yayasan akali demi keuntungan,” tutup Rosaliani, perwakilan yayasan.(dhomz/Bandungkita.id)


Laporan investigatif oleh Dadang Gondrong untuk Bandungkita.id
Redaksi menerima aduan dan dokumentasi dari warga terkait MBG. Kirimkan ke [email protected]


Comment