Bedah Buku “Bawa Mereka Pulang” di Kaliurang: Diplomasi Sunyi, Kemanusiaan yang Nyata

EventKita12820 Views

Toni: kemanusiaan bisa menjadi alat negosiasi paling kuat

BANDUNGKITA.ID, YOGYAKARTA – Taman Literasi Kaliurang menjadi saksi perbincangan mendalam tentang diplomasi senyap dan kemanusiaan lintas batas dalam acara bedah buku Untold Story: Bawa Mereka Pulang, Jumat (7/11). Buku yang mengisahkan pembebasan 10 anak buah kapal (ABK) Indonesia dari sandera kelompok Abu Sayyaf di Mindanao, Filipina, dibedah langsung oleh Ketua Komisi XIII DPR RI, Willy Aditya.

VIDEO PILIHAN

Dalam forum yang dihadiri pegiat literasi, aktivis kemanusiaan, dan jurnalis, Willy menekankan pentingnya dokumentasi narasi kemanusiaan sebagai bagian dari diplomasi publik. “Buku ini bukan sekadar kisah penyelamatan. Ia adalah arsip etis tentang bagaimana bangsa ini bisa hadir tanpa gegap gempita, tapi dengan keberanian dan cinta kasih,” ujar Willy.

Sebagai Ketua Komisi XIII, Willy menegaskan bahwa hak atas informasi dan pendidikan adalah bagian dari hak asasi manusia yang harus dijamin negara. Membaca dan membedah buku menjadi cara ia menyuarakan reformasi regulasi yang berpihak pada rakyat.

BACA JUGA

Jalan Lingkar Selatan Bandung Barat Diantara Aspek Teknis, Sosial, dan Ekologis, Aktivis: Simbol Eksklusivisme?

Greget Lihat Kinerja KPU, Dewan Nasdem Asal Bale Endah Sarankan Ini!!

Testimoni Peserta Tentang Buku “Bawa Mereka Pulang

Salah satu peserta, Toni Permana, memberikan pandangan reflektif yang menggugah. “Inti dari Bawa Mereka Pulang bukan hanya soal pembebasan sandera. Ini tentang bagaimana pendidikan dan kemanusiaan bisa menjadi alat negosiasi paling kuat. Dalam diam, tim membawa pulang bukan hanya 10 ABK, tapi juga 40 anak Mindanao—anak-anak dari para penculik yang akhirnya ikut belajar bersama. Buku ini mengajarkan bahwa diplomasi tidak selalu harus lantang, kadang justru harus sunyi agar sampai,” ungkap Toni.

Toni yang juga anggota DPRD Kabupaten Bandung dari Fraksi Partai NasDem dan menjabat sebagai Sekretaris DPD NasDem Kabupaten Bandung ini menyebut buku yang dibedah tersebut mengajak kita untuk tidak melupakan, dan lebih dari itu untuk bertindak.

VIDEO PILIHAN

Buku yang ditulis berdasarkan liputan dan dokumentasi tim Metro TV, Yayasan Sukma, dan jaringan kemanusiaan di bawah Surya Paloh ini menjadi pengingat bahwa diplomasi tidak selalu berbentuk meja perundingan. Kadang ia hadir dalam bentuk pertukaran pelajaran, pelukan anak-anak, dan keberanian untuk tidak diakui.

Acara ditutup dengan pembacaan kutipan dari Wakil Ketua MPR RI, Lestari Moerdijat, yang turut terlibat dalam misi tersebut: “Kami tidak minta dihargai, Pak Surya tidak minta diakui, karena misi ini dilakukan dalam diam.” (Dhomz/BandungKita.id)

Comment