Alih-Alih Dapat Pujian, Warga Malah Kritik Pencitraan DS, Minimnya Perubahan dan Pesan Komunitas Film Creative, “Se-Bedas Itukah Dirimu” Jadi Film Tanding?

Laporan Khas, Peristiwa121665 Views

Bandungkita.id, Kabupaten Bandung — Sejumlah warga Kabupaten Bandung menyuarakan kritik terhadap kepemimpinan daerah yang dinilai lebih sibuk membangun citra daripada menyelesaikan persoalan mendesak seperti banjir, jalan rusak, dan distribusi bantuan sosial. Ungkapan kekecewaan ini ramai dibagikan melalui media sosial, terutama menanggapi peluncuran film yang dianggap tidak relevan dengan kondisi masyarakat.

“Sepertinya banyak pencitraan, tapi hasilnya tidak ada. Sungai tetap sempit, banjir tetap terjadi, jalan tetap rusak, bantuan tetap tidak merata,” tulis akun Tonny Triatna Adyasa.

Komentar lain menyebut bahwa kerja nyata belum terlihat, namun sudah dibuatkan film. “Kerja saja belum benar, sudah bikin film segala macam,” ujar Sandi Iskandar. Sementara Putri Areta menyoroti mahalnya produksi film yang tidak sebanding dengan penanganan banjir. “Yang tadinya tidak banjir, sekarang jadi banjir. Mungkin penyebabnya itu juga,” katanya.

Warga lainnya mempertanyakan urgensi dan dampak dari film tersebut. “Memangnya penting? Apakah jasanya seperti Gandhi? Atau membuat perubahan seperti Lee Kuan Yew?” tulis Deni Andriani. Komentar serupa datang dari Rizky Gunari II yang mempertanyakan klaim bahwa film tersebut merupakan bentuk apresiasi masyarakat: “Biaya mandiri? Katanya bentuk apresiasi masyarakat?”

VIDEO PILIHAN

konten di unggah Account Medssos Info Ranca Ekek, dan direspon beragam oleh netizen, mendapatkan 158 komentar, dua kali dibagikan dan 188 komentar (Konten diedit jadi Video Oleh Redaksi)

Kritik juga diarahkan pada kondisi infrastruktur. “Jalanan banyak lubang ke mana-mana,” kata Muhammad Fatah. Ghibran Mujahid menambahkan dengan nada satir, “Mau ketawa aja.”

Beberapa warga menyebut bahwa banjir di wilayah seperti Majalaya belum tertangani dengan baik. “Urus banjir dong… jangan pencitraan terus… pusing dengar undang-undang segala,” tulis Danil Mustopa. Mutaqqin Bu menambahkan, “Kalau cuma di film saja, jangan banyak gaya lah. Bereskan dulu Kabupaten Bandung.”

Sementara itu, komentar lain menyoroti dua periode kepemimpinan yang dinilai minim progres. “Dua periode, hasilnya apa saja?” tanya Aciet. Ajat Sudrajat menilai, “Banjir saja tidak ditangani, pemimpin ini buta terhadap keadaan! Nol progres, seratus persen cuma senyum!”

Sebagian warga juga menyampaikan rasa malu dan enggan menonton. “Saya tidak tertarik,” tulis Dadang R. “Untuk apa sih…” tambah Andi Rustandi. Komentar lain menyebut, “Terlalu narsis,” dan “Tidak sesuai dengan kesepakatan.”

VIDEO PILIHAN

Meski ada yang menyebut film tersebut sesuai realita, mayoritas komentar menunjukkan ketidakpuasan terhadap prioritas pemerintah daerah. “Pemimpin sekarang lebih parah daripada yang sebelumnya, tidak ada jejak kepemimpinannya,” tulis Akina Aisha.

Sebelumnya, dalam peringatan Hari Sumpah Pemuda ke-97, Bupati Bandung Dr. H.M. Dadang Supriatna mempersembahkan sebuah karya biografi yang tak sekadar memotret perjalanan hidupnya, tetapi juga menghidupkan harapan kolektif: Bedas Manunggal Sajati. Film ini tayang perdana di Gedong Budaya Soreang (GBS), Selasa (28/10/2025), dan dibuka gratis untuk publik hingga 30 Oktober.

Dari Lio Bata yang sederhana hingga Pendopo Kabupaten, kisah Kang DS mengalir penuh liku. Ia tumbuh dalam keterbatasan, namun tak kehilangan semangat belajar dan spiritualitas. Dalam gala premier, Kang DS tak kuasa menahan air mata saat menyaksikan potongan hidupnya di layar. “Saya tumbuh dalam kesulitan, tapi berkat doa orang tua, kerja keras, dan izin Allah SWT, saya bisa sampai di titik ini,” ucapnya haru.

Film ini bukan sekadar autobiografi. Ia adalah ajakan terbuka bagi pemuda untuk bangkit, bermimpi, dan berkarya. “Kesuksesan bukan milik mereka yang lahir dari keluarga kaya. Siapa pun bisa meraihnya asal punya semangat belajar, kerja keras, dan cita-cita tinggi,” tegas Kang DS.

Namun di balik semangat literasi dan motivasi, publik mulai bertanya: apakah inspirasi harus dibeli?

Sebelumnya, Kang DS juga meluncurkan buku Bedas Manunggal, yang disebut sebagai karya pribadi untuk mencerdaskan anak bangsa. Buku ini memuat nilai-nilai Pancasila, literasi keuangan, pendidikan, lingkungan, dan peran bunda literasi di desa. Tapi publik dibuat terkejut ketika paket buku tersebut muncul di marketplace SIPLah dengan harga Rp1.000.000 per paket.

Deskripsi produk mencakup tema-tema edukatif seperti:

  • Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan
  • Aku Pahlawan Lingkungan
  • Panduan Pendidikan Antikorupsi untuk siswa SD/MI
  • Best Practice Guru dan Teladan Siswa Prestasi Indonesia

Pertanyaannya: jika literasi adalah hak dasar, mengapa harus dibatasi oleh transaksi?

Di tengah antusiasme peluncuran film biografi, masyarakat mendorong agar logo-logo BUMN dan BUMD yang hadir di panggung gala tidak sekadar menjadi ornamen, tetapi benar-benar menjadi sponsor masyarakat. Literasi kepemimpinan seharusnya bisa menjangkau desa, sekolah, dan komunitas tanpa harus dibeli.

Kang DS, yang kini juga menjabat sebagai Ketua Harian Apkasi, menghadapi tantangan tersendiri dalam menjaga keseimbangan antara personal branding dan pelayanan publik. Namun satu hal yang patut dicatat: ia mampu membesarkan lawan tanpa merendahkan martabatnya. Sebuah sikap yang langka di tengah dinamika politik lokal.

Tanggapan Komunitas Film

Film biografi yang efektif untuk masyarakat bukan hanya soal siapa yang terkenal, tapi siapa yang merepresentasikan harapan, perjuangan, dan nilai kolektif. Kalau Pemda ingin memperkuat literasi visual, maka narasi harus bergeser dari personal branding ke public storytelling dari “saya pernah susah” ke “kita pernah berjuang bersama.”

Komunitas film kreatif Bandung menyambut film biografi Kang DS dengan antusias, namun juga menyuarakan harapan agar narasi visual ke depan lebih inklusif dan reflektif terhadap masyarakat Kabupaten Bandung secara luas.

ARTIKEL PILIHAN

ASDAMINDO Siap Jawab Tantangan Air Steril untuk Dapur MBG, Sekjen: “Prihatin Ribuan Korban Keracunan di Bandung Barat”

Jalan Lingkar Selatan Bandung Barat Diantara Aspek Teknis, Sosial, dan Ekologis, Aktivis: Simbol Eksklusivisme?

Penggeledahan BPR Kerta Raharja: Jejak Awal dari Laporan BPK dan Penahanan Eks Komisaris Utama

Film Bedas Manunggal Sajati kabarnya melibatkan 36 pemain lokal dan diproduksi tanpa dukungan dana pemerintah, menurut produser yang dikutip oleh Satumedia.id. Hal ini menunjukkan semangat independen dan kolaboratif dari komunitas film Bandung, yang mampu menghadirkan karya naratif dengan sumber daya terbatas namun tetap berdampak.

“Kami ingin menunjukkan bahwa film lokal bisa menyentuh hati, bahkan tanpa anggaran besar. Ini bukan hanya tentang Kang DS, tapi tentang semangat warga Bandung,” ujar salah satu anggota tim produksi.

Respons Kritis dari Komunitas Kreatif

Meski film ini berhasil menarik penonton dan memicu emosi mendalam, beberapa komunitas kreatif menyuarakan harapan agar narasi visual ke depan tidak hanya berpusat pada tokoh tunggal, melainkan juga mengangkat kisah kolektif masyarakat guru desa, komunitas literasi, warga terdampak bencana, dan pemuda kreatif dan tokoh pendiri pondasi awal Kabupaten Bandung sebelumnya sampai saat ini sebagai upaya mempertahan karakter atau nilai sejarahnya.

“Kami mengapresiasi film ini sebagai langkah awal. Tapi ke depan, kami berharap Pemda bisa mendukung dokumenter tentang warga biasa yang membentuk wajah Kabupaten Bandung dari bawah,” ujar Kiki, seorang pegiat film dokumenter lokal.

“Coba Kita Buat Film Pasca DS jadi Bupati, mungkin judulnya “Sebedas itukah Diirimu“, bagus kan?, kita ungkap semua capaian termasuk merubah nama Gedung sabilulungan menjadi Gedong Budaya Soreang” Ucapnya dalam acara bedah buku “Bawa mereka pulang” di sebuah vila, 9/11/25.

VIDEO PILIHAN

Catatan Strategis dari Komunitas Film

  • Kekuatan film lokal terletak pada kedekatan emosional dan konteks sosial yang nyata.
  • Narasi kepemimpinan sebaiknya tidak hanya personal, tapi juga struktural dan partisipatif.
  • Dukungan Pemda dan sponsor publik seperti BUMN/BUMD sangat dibutuhkan untuk memperluas akses dan distribusi karya visual yang mendidik.

Film Bedas Manunggal Sajati telah membuka ruang dialog antara pemerintah dan komunitas kreatif. Namun agar literasi visual benar-benar menjadi milik masyarakat, narasi berikutnya perlu melibatkan lebih banyak suara, lebih banyak wajah, dan lebih banyak kisah dari tanah Bedas itu sendiri. (Joe/dhomz/Creative/BandungKita.id)

Comment