“Pentingnya pendidikan intelektual, emosional, dan spiritual. Saat ini, dua yang terakhir nampaknya sangat kurang,”
BANDUNGKITA.ID – Tragedi pembacokan seorang tukang cukur di Cimahi oleh sembilan remaja asal Kabupaten Bandung Barat (KBB), hingga aksi nekat siswa SD di NTT dan seorang pelajar SMK yang mengakhiri hidupnya, kembali menguak tabir rapuhnya fondasi moral generasi muda kita hari ini.
Ironisnya, sebagian besar pelaku kekerasan tersebut masih berstatus pelajar dan berusia di bawah 18 tahun. Deretan peristiwa memilukan ini menegaskan bahwa fenomena bunuh diri dan kriminalitas remaja bukan sekadar kasus hukum biasa, melainkan cermin retaknya sistem sosial dalam membina karakter anak bangsa.
Isu krisis moral ini sejatinya telah menjadi kegelisahan nasional. Dalam sebuah rapat dengar pendapat di DPR RI beberapa waktu lalu, politisi sekaligus musisi Pasha Ungu sempat melayangkan teguran keras kepada pihak terkait. Ia menilai otoritas perlindungan anak terlalu fokus pada pelaporan pasca-kejadian tanpa menghadirkan solusi preventif yang menyentuh akar rumput.
Pasha bahkan mempertanyakan mengapa peran strategis guru ngaji khususnya perempuan jarang disentuh sebagai instrumen utama pembinaan moral.
Menoleh pada Upaya Lokal
proyeksi terhadap peran guru ngaji sebenarnya bukan barang baru di Jawa Barat. Dua daerah tercatat pernah meluncurkan program berbasis moralitas yang cukup menjanjikan:
- Pemkot Bandung dengan program Maghrib Mengaji pada 2018, yang berupaya mengembalikan tradisi belajar Al-Qur’an selepas senja.
- Pemkab Bandung melalui kebijakan insentif bagi guru ngaji sebagai bentuk apresiasi terhadap garda terdepan pendidikan karakter di tingkat keluarga.
ARTIKEL PILIHAN
Namun sayangnya, program-program tersebut seringkali kehilangan napas sebelum menjadi gerakan masif yang berkelanjutan.
Perspektif Kriminolog: Kebijakan yang “Bolong”
Untuk membedah fenomena ini lebih dalam, Bandungkita.id mewawancarai Kriminolog Universitas Islam Bandung (Unisba), Prof. Nandang Sambas. Ia menilai rentetan kriminalitas remaja saat ini tidak berdiri sendiri, melainkan beririsan erat dengan bagaimana pemerintah mengelola kebijakan pembangunan secara makro.
Prof. Nandang mengawali percakapan dengan menekankan bahwa indikator keberhasilan sebuah daerah seringkali terjebak pada fatamorgana fisik semata.
“Pembangunan fisik memang menunjang ekonomi, tetapi tanpa dibarengi pembangunan Sumber Daya Manusia yang matang secara moral, lahirlah penyakit masyarakat seperti tawuran, perampokan, dan kriminalitas anak di bawah umur. Kecerdasan tanpa moral hanya akan melahirkan individu yang mencelakakan orang lain,” tegasnya.
VIDEO PILIHAN
Ia juga mencermati adanya korelasi antara carut-marut sosial dengan arah kebijakan politik yang diambil para pemangku kepentingan. Menurutnya, pembangunan fisik dan psikis seharusnya berjalan paralel tanpa ada yang dianaktirikan.
“Pembangunan fisik memang diperlukan sebagai sarana aktivitas dan pertumbuhan ekonomi. Tapi yang tidak kalah penting adalah pembangunan psikis dan SDM-nya. Baik itu masyarakat umum, maupun mereka yang kelak akan duduk di instansi, lembaga, hingga partai politik. Ini perlu dibangun sejak awal agar tidak lahir pejabat instan atau mereka yang hanya mengandalkan ‘orang dalam’ (ordal) hingga praktik jual beli jabatan,” lanjut Prof. Nandang.
VIDEO PILIHAN
Pendidikan yang Terlalu “Pintar” Tapi Kurang “Beradab”
Lebih jauh, Prof. Nandang menyoroti kelemahan sistem pendidikan saat ini yang dinilai terlalu mendewakan nilai akademik (intelektual) namun mengabaikan aspek emosional dan spiritual. Akibatnya, muncul anomali di sekolah, guru yang berniat mendisiplinkan siswa justru kerap dikeroyok atau ditantang balik.
Ia melihat ada mata rantai yang hilang dalam kurikulum dan pengawasan orang tua yang tergerus oleh tuntutan ekonomi. Terkait hal ini, ia memberikan catatan kritis terhadap arah dunia pendidikan kita
“Pendidikan sekarang lebih mengedepankan intelektual; bagaimana IPK bagus, bagaimana rapor tidak merah. Tanpa diimbangi etika moral, akhirnya muncul koruptor yang membodohi dan mencelakakan orang lain. Padahal, tiga hal harus linier: intelektual, emosional, dan spiritual. Saat ini, dua yang terakhir nampaknya sangat kurang,” ungkapnya.
VIDEO PILIHAN
Sebagai solusi, Prof. Nandang mendorong pemerintah daerah untuk lebih progresif dalam memanfaatkan kurikulum muatan lokal dan melakukan “deteksi dini” melalui berbagai kanal informasi, termasuk media sosial seperti TikTok dan Instagram.
Di akhir pemaparannya, ia menyarankan perlunya otonomi pendidikan yang lebih spesifik di setiap daerah untuk menjawab tantangan zaman yang kian dinamis.
VIDEO PILIHAN
“Penting untuk melakukan otonomi pendidikan dan menyusun peta jalan (roadmap) yang sesuai dengan kebutuhan masing-masing daerah. Model pembelajaran harus ditinjau kembali, karena dengan perkembangan teknologi, jangan-jangan guru justru kalah cepat dari siswanya. Fokusnya harus kembali pada pembangunan disiplin, etika, dan moral,” pungkasnya.
Bandung Raya dan daerah lain di Indonesia kini dituntut untuk menata ulang prioritas. Keberhasilan sejati sebuah daerah tidak lagi cukup diukur dari jalan yang mulus atau gedung yang megah, melainkan dari seberapa tangguh karakter generasi mudanya dalam merawat masa depan kelak.
VIDEO PILIHAN
Bagaimana pandangan Tokoh, dan juga yang lainnya memgenai Fenomena ini, simak terus Liputan Khusus Bandungkita.id yang fokus membahas Roadmap Pendidikan ditengah himpitan keterbatasan anggaran daerah, akan hadir di edisi selanjutnya…
(Dhomz Hermawan/Bandungkita.id)





Comment