Pelajaran dari Kegaduhan IGD RSUD Otista: “Antara Urgensi Medis dan Emosi Keluarga Pasien”

Jamparing Institute:”Demi Kemanusiaan”

SOREANG, BandungKita.id – Suasana gaduh sempat mewarnai ruang Instalasi Gawat Darurat (IGD) RSUD Otista Soreang beberapa waktu lalu. Sebuah rekaman video amatir yang disiarkan secara langsung memperlihatkan aksi protes keras seorang pria yang akrab disapa Bah Deden. Namun, di balik ketegangan tersebut, terselip pelajaran penting mengenai tata krama di ruang medis dan pemahaman tentang sistem Triase.

Bah Deden Sampaikan Permohonan Maaf


Setelah sempat tersulut emosi karena merasa keponakannya lambat ditangani, Bah Deden akhirnya memberikan pernyataan terbuka. Ia mengakui bahwa tindakannya yang berteriak di area IGD dipicu oleh rasa panik dan kekhawatiran yang berlebih.

“Saya memohon maaf kepada petugas medis dan pasien lain yang terganggu. Itu murni karena rasa sayang dan panik melihat keluarga sakit. Saya menyadari, tindakan saya di dalam IGD tidaklah tepat,” ungkap Bah Deden dalam suasana kekeluargaan setelah ditenangkan petugas.

Manajemen RSUD Otista: Triase adalah Harga Mati

Photo: dari kiri Wakil Direktur RSUD Otista Acep Sumarna, S.Pd.I, yang sigap malam itu juga menyelesaikan persoalan keresahan Bah Deden (kanan)

Menanggapi peristiwa tersebut, Manajemen RSUD Otista melalyi wakil direkturnya, Acep Sumarna, S.Pd.I menekankan bahwa di IGD, pelayanan tidak berdasarkan “siapa yang datang duluan”, melainkan “siapa yang nyawanya paling terancam”.

Gedung baru RSUD Soreang di Jalan Gading Tutuka Soreang, Kabupaten Bandung. (Foto: Humas Setda Kabupaten Bandung)

“Kami memahami kecemasan keluarga, namun tim medis bekerja berdasarkan sistem Triase. Pasien kategori merah (gawat darurat) harus didahulukan dari kategori kuning atau hijau. Ketenangan di IGD sangat krusial agar dokter bisa berkonsentrasi menyelamatkan nyawa,” ungkapnya kepada Bandungkita.id kamis 16/04/26.

Jamparing Institute: Pentingnya Kanal Pengaduan

Direktur Jamparing Institute, Dadang Risdal azis, turut menyoroti kejadian ini. Menurutnya, kegaduhan seperti ini sebenarnya bisa dihindari jika masyarakat memahami saluran aspirasi yang benar. “Semua terjadi hanya demi kemanusiaan” ujarnya

Pemerhati kebijakan publik, direktur Jamparing institute H.Dadang Risdal Azis

“Kritik terhadap layanan publik itu sah, namun perlu di ingat, IGD bukan ruang diskusi atau tempat berdebat. Jika ada keluhan, gunakan kanal pengaduan resmi yang sudah disediakan RSUD atau pemerintah. Berteriak di IGD justru berpotensi membahayakan pasien lain yang sedang dalam kondisi kritis karena mengganggu fokus tenaga medis,” tegasnya.

Ketua DPRD Kab. Bandung: Edukasi SOP Harus Masif

Ketua DPRD Kabupaten Bandung, Hj. Renie Rahayu Fauzi, yang memantau langsung dinamika ini di sela agendanya mengikuti Retret di magelang, meminta pihak rumah sakit untuk lebih masif melakukan edukasi SOP kepada pengunjung.

Ketua DPRD Kabupaten Bandung, Hj. Renie Rahayu Fauzi

“Saya meminta manajemen RSUD Otista untuk terus memperbaiki pola komunikasi. Di sisi lain, masyarakat juga perlu diedukasi bahwa IGD adalah ring satu penyelamatan nyawa. Petugas kepolisian dan keamanan memang harus sigap, tapi yang utama adalah kesadaran kita bersama untuk menjaga ketenangan di fasilitas kesehatan,” ujar Hj. Renie.

Edukasi untuk Masyarakat: Kenali Warna Triase

Melalui peristiwa ini, Management RSUD Otista sebagai salah satu layanan dasar kesehatan meminta publik mengenali kembali mengenai prosedur IGD yang berlaku secara internasional:

  1. Label Merah: Kondisi kritis, mengancam nyawa (Henti jantung, sesak napas berat) Ditangani Segera.
  2. Label Kuning: Kondisi berat tapi belum mengancam nyawa seketika (Patah tulang, luka bakar luas). 3.Label Hijau: Kondisi ringan (Demam, luka lecet) – Bisa Menunggu.

Dengan demikian, Ketenangan tim medis adalah jaminan keselamatan pasien. Kegaduhan hanya akan memperlambat tindakan, bukan mempercepat pelayanan. (Joe/BandungKita.id)

Sebuah titipan catatan yang disampaikan management RSUD OTISTA “Janganlah kesibukan medis membuatmu lupa kepada Sang Penyembuh. Layani setiap pasien seolah engkau sedang melayani tamu agung, karena dalam setiap rintihan sakit mereka, ada kesempatan bagimu untuk meraih derajat kemuliaan.”

Comment