KDM: “Kepercayaan publik harus dibangun lewat keterbukaan program dan capaian. Jangan sampai zakat jadi alat pencitraan, bukan penyelamat.”
BandungKita.id – Badan Amil Zakat Nasional (BAZNAS) kembali menggalang dana untuk Gaza melalui kampanye bertajuk “GAZA MEMANGGIL! Kirim Bantuan Sekarang” yang ditayangkan lewat platform Kitabis.com. Poster resmi BAZNAS menampilkan visual kehancuran di Gaza, dengan ajakan darurat untuk mengirim bantuan secepatnya. Hingga saat ini, tercatat lebih dari Rp106 juta telah terkumpul.

Namun, di balik seruan kemanusiaan tersebut, respons publik di media sosial menunjukkan adanya krisis kepercayaan terhadap lembaga zakat milik negara. Komentar-komentar netizen yang tersebar di berbagai unggahan BAZNAS mempertanyakan transparansi, prioritas, dan integritas pengelolaan dana.
Publik Bertanya: Donasi untuk Gaza, Lalu Siapa yang Mengawasi?
Beberapa netizen menyuarakan kekhawatiran bahwa dana yang dikumpulkan tidak sepenuhnya sampai ke penerima manfaat. “Donasi ke BAZNAS sama dengan ngidupin karyawan BAZNAS,” tulis Misters Ben. Komentar lain menyinggung potensi intervensi politik dan kasus korupsi masa lalu, seperti dana haji dan pengadaan Al-Qur’an.



“Saya pribadi lebih percaya lewat Lazismu yang dikelola Muhammadiyah,” ujar Gus Yusron, menyoroti alternatif lembaga yang dinilai lebih independen. Sementara Rafli menyebut, “Kalau untuk Palestina lebih yakin lewat IHH… BAZNAS bisa diintervensi pemerintah, seperti dana haji… jadi was-was.”
Sorotan Terhadap Prioritas dan Akuntabilitas
Di tengah kampanye internasional, banyak komentar menyoroti kebutuhan lokal yang belum tertangani. “Sekitar kita saja masih banyak yang susah, malah dibuang keluar,” tulis Joko Lelonno. Toni Ponorogo dan lainnya menyarankan agar bantuan difokuskan ke wilayah-wilayah miskin di Indonesia seperti Papua, Kalimantan, dan Sumatera.
Makmur Lutvi bahkan menyoroti perebutan jabatan di BAZNAS yang dinilai lebih berorientasi pada status sosial daripada pelayanan publik. “Contoh kasus BAZNAS Jawa Barat,” tulisnya, menyiratkan adanya praktik yang tidak sehat dalam struktur internal lembaga.
Di Antara Seruan dan Skeptisisme

Meski ada komentar yang berharap BAZNAS tetap amanah dan bebas dari korupsi, seperti yang disampaikan oleh Arizty Rifkhy, mayoritas respons menunjukkan bahwa publik semakin kritis terhadap lembaga zakat negara. Kampanye donasi untuk Gaza, meskipun menyentuh isu kemanusiaan global, kini dibayangi oleh tuntutan transparansi dan reformasi kelembagaan.
Dalam salah satu unggahan video populernya, Kang Dedi Mulyadi terlihat emosi saat membongkar warung kumuh milik warga miskin, sementara pejabat BAZNAS datang bicara soal aturan. Kontras ini menggambarkan jurang antara retorika kemanusiaan dan realitas birokrasi zakat.
Meski Kang Dedi pernah mengapresiasi capaian BAZNAS dalam audiensi resmi, ia juga menekankan pentingnya transparansi dan keterlibatan langsung dalam misi kemanusiaan. Ia menyatakan:
“Kepercayaan publik harus dibangun lewat keterbukaan program dan capaian. Jangan sampai zakat jadi alat pencitraan, bukan penyelamat.” ungkapnya diansir ungkappena.com





Comment