“Ia ingin semua orang, tanpa memandang kelas, bisa menikmati rasa yang sama. Itulah kemerdekaan dalam bentuk paling sederhana.”
Feature – Di balik legitnya sepotong wajit Cililin, penganan manis dari ketan, gula aren, dan kelapa tersimpan kisah perlawanan yang nyaris terlupakan. Ia bukan sekadar kudapan khas, melainkan simbol perjuangan seorang perempuan Cililin bernama Hj. Siti Romlah, atau akrab disapa Irah, yang menjadikan dapurnya sebagai medan juang melawan kolonialisme. Namun, seiring waktu, nama Irah memudar, terkubur di balik gemerlap industri dan kekakuan birokrasi yang gagal merawat warisan budaya.

1916: Tahun Ketika Rasa Menjadi Perlawanan
Tahun 1916, Irah memulai eksperimen membuat penganan manis dari bahan lokal. Di tengah tekanan kolonial Hindia Belanda yang melarang konsumsi makanan berbahan dasar beras ketan bagi kaum pribumi—karena dianggap sebagai panganan elite untuk kaum meneer dan menak—lahirlah wajit. Larangan itu bukan sekadar aturan, tapi bentuk penjajahan rasa, membatasi siapa yang berhak menikmati kenikmatan.
Namun Irah tak tinggal diam. Ia menjadikan dapurnya sebagai ruang perlawanan. Diam-diam, ia membagikan dan menjual wajit kepada sesama pribumi. “Melalui rasa, Irah memperjuangkan kesetaraan,” tutur Syamsul Ma’rif Ramli, cucunya yang kini menjadi generasi ketiga penerus usaha ini. “Ia ingin semua orang, tanpa memandang kelas, bisa menikmati rasa yang sama. Itulah kemerdekaan dalam bentuk paling sederhana.”

Perlawanan Irah tak bisa dilepaskan dari konteks Cililin sebagai wilayah strategis kolonial. Di Kampung Jati, Belanda membangun Stasiun Radio Tjililin pada 1914, dikenal sebagai Gedung Bedrief. Gedung ini menjadi penghubung komunikasi antara Hindia Belanda dan Eropa, menjadikan Cililin sebagai titik penting dalam jaringan militer dan informasi.
VIDEO PILIHAN
Lebih dari itu, Cililin pernah menjadi wilayah operasi Raymond Westerling, jenderal Belanda yang dikenal kejam dan tegas dalam menumpas perlawanan rakyat. Kehadirannya di wilayah Priangan, termasuk Cililin, menandai babak represif dalam sejarah kolonial. Maka, perlawanan Irah melalui dapur dan rasa menjadi semakin bermakna: ia menantang kekuasaan dari ruang domestik, dengan senjata paling sederhana—penganan manis.
Wajit yang Mendahului Nama Cililin
Seiring waktu, wajit Cililin justru lebih dikenal ketimbang nama daerah asalnya. Produk ini menembus ruang-ruang elite kolonial, disajikan dalam jamuan para pejabat Belanda. Kualitas menjadi kunci. Irah menjaga mutu bahan dan proses produksi dengan ketat, menjadikan wajitnya sebagai simbol keanggunan rasa dan ketekunan lokal.

Namun, seiring berkembangnya industri, banyak pelaku baru bermunculan. Tak sedikit dari mereka bukan warga asli Cililin, dan lebih berorientasi pada keuntungan semata. “Sayangnya, kualitas mulai diabaikan. Padahal, itu yang dulu membuat wajit kita dihormati,” ujar Syamsul.
Upakarti yang Tak Berjejak
Atas dedikasinya, Irah menerima Penghargaan Upakarti dari Presiden Soeharto pada era 1980-an. Namun hingga kini, Pemerintah Kabupaten Bandung Barat belum pernah membangun tugu atau monumen untuk mengenang jasa beliau. Wacana membangun Tugu Wajit sempat muncul, namun tak kunjung terealisasi.
“Upakarti itu bukan hanya penghargaan, tapi seharusnya jadi kompas kebijakan. Sayangnya, yang dibangun malah tugu bertema lain,” keluh warga dalam laporan media.
Suara Warga: Harapan yang Masih Menggantung
Kunjungan tokoh publik seperti Jeje Richi Ismail ke pabrik wajit di Cililin sempat membangkitkan harapan. “Kami ingin ada pendampingan nyata, bukan cuma seremonial,” ujar salah satu pelaku UMKM. Warga berharap pemerintah hadir bukan hanya sebagai penonton, tapi sebagai fasilitator pelestarian dan pengembangan industri lokal.
Testimoni dari warga lainnya menyebutkan bahwa wajit Cililin kini mulai kehilangan ciri khasnya. “Dulu wajit itu lembut, legit, dan tahan lama. Sekarang banyak yang asal-asalan,” ujar seorang konsumen di Pasar Cililin. Harapan mereka sederhana: kualitas kembali dijaga, dan sejarah pembuatnya dihormati. (Dhomz/BandungKita.id)
Catatan: Naskah ini disusun berdasarkan narasi keluarga dari Syamsul Ma’rif Ramli, cucu Hj. Siti Romlah, serta dilengkapi dengan data dari BandungBergerak.id, BandungKita.id, Cyber88, Pikiran Rakyat, dan catatan sejarah mengenai operasi Westerling di wilayah Priangan.





Comment