“Warga Minta Narasi yang Adil dan Berbasis Ilmu”
PASIRHALANG, CISARUA – BandungKita.id — Di tengah duka dan trauma akibat longsor yang melanda Kampung Cibitung, Desa Pasirhalang, Kecamatan Cisarua, Kabupaten Bandung Barat, warga menyampaikan keberatan atas narasi yang berkembang di ruang publik. Mereka merasa disudutkan oleh pernyataan sejumlah pejabat yang menyebut alih fungsi lahan sebagai penyebab utama bencana.
Klarifikasi tegas tiba-tiba disampaikan oleh Nurul, dan berhasil direkam salahsatu konten creator, salah satu warga terdampak mendatangi awak media yang tengah berada di posko bersama Kepala Dinas Kominfo KBB.
“Silakan Bapak coba tengok ke atas, Pak. Itu bukan lereng, bukan material longsor itu bukan dar lereng, Pak, tapi dari gunung, Pak. Puncak gunung, Pak.” Tegasnya
“Berarti alam” suaran konfirmasi terdengar “betul,” ujar Nurul.
Ia menambahkan bahwa berdasarkan analisis geologi, air dari puncak gunung mencari jalannya sendiri, sehingga longsor terjadi sebagai bagian dari proses alamiah.
VIDEO TERKAIT
“Kalau media terus menggiring opini bahwa penyebab ini gara-gara kesalahan warga kami, kami tidak terima. Maksudnya saya yang membaca, gitu, Pak,” tegasnya.
Gubernur Dedi Mulyadi: “Daerah Ini Harus Dihutankan Kembali”
Pernyataan yang memicu reaksi warga datang dari Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi, yang menyebut bahwa keberadaan kebun sayur di daerah perbukitan menjadi salah satu pemicu longsor.
“Lingkungan sekitar lokasi longsor dipenuhi tanaman sayur dengan kontur daerah berupa perbukitan. Keberadaan kebun sayur rentan memicu longsor. Oleh karena itu, sangat berbahaya apabila masyarakat masih tinggal di lokasi itu. Daerah di sini dihutan-kan saja. Warga di sini direlokasi karena potensi longsor tinggi.”
Menanggapi narasi yang dibangun ditengah bemvana tersebut, Aktivis lingkungan dari Trapawana, David Riksa Buana, menegaskan bahwa bencana seperti longsor dan banjir bandang di Bandung Barat tidak bisa hanya dilihat dari sisi cuaca ekstrem. Ia menyebut akar masalahnya adalah kerusakan ekologis yang dibiarkan terus terjadi.
“Saya berani bilang ini akibat kerusakan ekologis. Penebangan kayu dan perambahan lahan jadi pemicu utama. Ini bukan faktor cuaca. Kalau hutan di atas tetap terjaga, air hujan akan diserap oleh akar-akar pohon besar. Tapi sekarang, air langsung turun ke bawah karena tidak ada lagi yang menahan. Ini bukan bencana alam semata, ini bencana ekologis.”
ARTIKEL PILIHAN
Pernyataan David memperkuat bahwa bencana tidak bisa hanya disederhanakan sebagai kesalahan warga, melainkan harus dilihat sebagai akibat dari kerusakan sistemik terhadap lingkungan.
Dalam opini redaksi BandungKita.id, Yoga Rukma Gandara, pemerhati tata kelola pemukiman, menyampaikan refleksi mendalam tentang hilangnya kearifan lokal dalam tata ruang dan pengelolaan alam.
“Kita telah meninggalkan ajaran leluhur yang sangat menghormati ruang hidup. Dulu, orang Sunda mengenal larangan membuka lahan di tempat-tempat tertentu karena dianggap ‘leuweung larangan’. Kini, semua dibuka demi kepentingan ekonomi sesaat. Kita mengabaikan batas-batas ekologis yang dulu dijaga dengan nilai-nilai budaya.”
ARTIKEL TERKAIT
Yoga menilai bahwa bencana yang terus berulang adalah alarm keras untuk menghidupkan kembali nilai-nilai lokal dalam menjaga keseimbangan alam.
Warga Minta Narasi yang Adil dan Berbasis Ilmu
Warga Pasirhalang berharap agar pemerintah dan media tidak membangun narasi tunggal yang menyudutkan korban. Mereka meminta agar setiap pernyataan publik didasarkan pada kajian ilmiah yang menyeluruh dan mempertimbangkan faktor geologis, ekologis, serta sosial yang kompleks.
Klarifikasi Nurul dan suara-suara dari aktivis serta ahli menjadi pengingat bahwa bencana adalah hasil dari banyak faktor, bukan sekadar kesalahan satu pihak.(Dhomz/BandungKita.id)
Sumber Video : Bubun Bryan Justice





Comment