BANDUNG, BandungKita.id – Kawasan wisata Curug Dago di Kota Bandung menyimpan rekam jejak sejarah yang unik. Destinasi yang terletak di Kecamatan Coblong ini kerap dikaitkan dengan kedatangan para penguasa dari Negeri Gajah Putih, Thailand.
Namun, di balik pesonanya, muncul mitos yang menyebut bahwa setiap Raja Thailand yang akan naik takhta diwajibkan mandi di aliran air terjun ini. Benarkah demikian?
Jejak Dua Raja Rama
Berdasarkan catatan sejarah, Curug Dago memang menjadi lokasi istimewa bagi Kerajaan Thailand. Di sini terdapat dua prasasti batu tulis peninggalan Raja Rama V (Raja Chulalongkorn) dan cucunya, Raja Rama VII (Raja Prajadhipok).
Raja Rama V tercatat mengunjungi Curug Dago sebanyak dua kali, yakni pada tahun 1896 dan 1901. Kedatangannya ke Bandung kala itu didorong oleh kekagumannya terhadap keindahan alam “Paris van Java”. Sebagai bentuk kenang-kenangan, ia memahat identitasnya di sebuah batu besar yang kini dikenal sebagai Prasasti Curug Dago.
Langkah ini kemudian diikuti oleh Raja Rama VII pada tahun 1929 yang melakukan “napak tilas” kunjungan kakeknya tersebut.
Mitos vs Fakta Ritual Penobatan
Mengenai anggapan bahwa Raja Thailand mandi di Curug Dago sebagai syarat naik takhta, hal tersebut dipastikan tidak benar.
Dalam tradisi Kerajaan Thailand, ritual penobatan atau Song Phra Muratha Phisek (mandi penyucian) menggunakan air suci yang diambil dari sumber-sumber air resmi di seluruh penjuru Thailand, bukan dari luar negeri.
Sejarawan menyebut bahwa kunjungan Raja Rama V ke Curug Dago lebih bersifat rekreatif dan spiritual. Sang Raja kabarnya sempat bermeditasi di area tersebut karena ketenangannya, namun bukan dalam rangka upacara penobatan resmi kerajaan.
Cagar Budaya yang Tersembunyi
Meski hanya mitos, hubungan emosional antara Thailand dan Curug Dago tetap terjaga hingga kini. Lokasi ini sering dikunjungi oleh wisatawan asal Thailand maupun pejabat kedutaan sebagai bentuk penghormatan kepada leluhur mereka.
Saat ini, kedua prasasti tersebut telah dilindungi dalam bangunan cungkup khusus dan masuk ke dalam pengawasan Balai Pengelolaan Taman Hutan Raya (Tahura) Ir. H. Djuanda. Keberadaannya menjadi pengingat bahwa Bandung pernah menjadi destinasi favorit para bangsawan dunia sejak berabad-abad lalu. (BK/Red)





Comment