EDITORIAL: Menjaga Marwah Otista dari Noda Korupsi
Nama Otista adalah sebuah janji. Ketika Pemerintah Kabupaten Bandung menyematkan nama besar Raden Otto Iskandardinata pada RSUD di Soreang, ada beban moral yang sangat berat di sana. Nama itu membawa spirit “Si Jalak Harupat”—sosok yang tak kenal kompromi melawan ketidakadilan, jurnalis yang tajam, dan pahlawan yang integritasnya melampaui kepentingan nyawanya sendiri.
Namun, apa yang terjadi hari ini di Unit Transfusi Darah (UTD) RSUD Otista sungguh sebuah ironi yang menyakitkan. Dugaan praktik koruptif di unit tersebut bukan hanya masalah kerugian negara, melainkan sebuah aksi yang secara simbolis “mengotori” wajah pahlawan yang namanya terpampang gagah di gerbang rumah sakit.
Mengorupsi anggaran di sektor kesehatan terlebih di unit krusial seperti transfusi darah adalah kejahatan kemanusiaan yang berlipat ganda. Di sana, setiap rupiah yang disalahgunakan memiliki dampak langsung pada keselamatan nyawa pasien. Sangatlah tragis ketika institusi yang seharusnya menjadi tempat penyembuhan, justru menjadi tempat di mana nilai-nilai kejujuran “sakit” dan sekarat.
Kita harus bertanya: Masihkah ada rasa malu? Bagaimana mungkin para pemangku kebijakan dan pelaksana operasional tega melakukan tindakan lancung di bawah naungan nama besar seorang pahlawan yang jasadnya bahkan tak pernah ditemukan karena pengabdiannya kepada bangsa?
Kasus UTD ini harus menjadi momentum pembersihan total.
Langkah audit tidak boleh hanya sekadar prosedur administratif di atas kertas, tetapi harus menjadi upaya pengembalian marwah. Bupati dan jajaran pengawas harus bertindak tanpa pandang bulu. Siapa pun yang terbukti mengais keuntungan pribadi dari keringat rakyat dan nama besar pahlawan, harus disingkirkan dan diproses secara hukum.
Jangan biarkan RSUD Otista hanya menjadi monumen megah yang di dalamnya berisi mentalitas pengkhianat. Rakyat tidak butuh gedung yang luas jika di dalamnya kejujuran diperjualbelikan.
Menghormati Otto Iskandardinata bukan dengan membangun stadion atau gedung atas namanya, melainkan dengan menjaga kebersihan tangan dan hati saat melayani rakyat yang ia cintai.
Jika praktik korupsi ini terus dibiarkan mengakar, maka kita semua sebenarnya sedang ikut mengubur kembali semangat Sang Jalak Harupat untuk kedua kalinya.
Redaksi Bandungkita.id




Comment