BANDUNGKITA.ID — Semangat “Tobat Ekologi” yang digelorakan dalam Konferensi Sungai Indonesia (KSI) 2026 di Trawas, Mojokerto, Jawa Timur pada 25–27 Juli lalu, seolah belum menyentuh realitas di Daerah Aliran Sungai (DAS) Cikendal.
Hanya berselang singkat dari forum nasional yang dihadiri ratusan aktivis sungai se-Indonesia dan jajaran Kementerian Lingkungan Hidup tersebut, kondisi DAS Cikendal justru memperlihatkan pemandangan yang miris. Air sungai tampak hitam pekat, dipenuhi tumpukan sampah domestik, dan mengalami sedimentasi parah.
Aktivis lingkungan Jawa Barat, Rahmat Suprihat (Ki Rahmat), melaporkan secara langsung kondisi kritis tersebut melalui akun media sosialnya. Selain pencemaran air dan gumpalan sampah yang mendangkalkan dasar sungai, Ki Rahmat menyoroti ketahanan struktur penahan sungai (kirmir) yang kian tergerus dan berisiko memicu abrasi tanah di sekitarnya.
Selengkapnya disini https://www.facebook.com/share/v/1GGoNjiBWZ
”Ini menjadi PR besar bagi kita semua untuk membangun kesadaran ekologis warga. Namun, berulangnya kondisi ini juga tidak lepas dari sangat lemahnya pengawasan dari otoritas terkait,” tegas Ki Rahmat yang juga berprofesi sebagai pendidik tersebut.

Temuan lapangan di DAS Cikendal ini menjadi penanda kuat bahwa komitmen “Tobat Ekologi” yang disepakati di tingkat nasional tidak boleh berhenti sebagai wacana di meja konferensi.
Tanpa adanya penegakan hukum, pengawasan rutin, dan aksi pengerukan teknis dari dinas terkait, retorika penyelamatan lingkungan akan terus berbenturan dengan realitas sungai-sungai daerah yang kian terabaikan, dan terus dinikmati masyarakat yang beririsan dan memanfaatkam sungai waduk Saguling.(Dhomz/Bandungkita.id)






Comment