BandungKita.id, GARUT – Ada secercah harapan bagi belasan Murid MI Nurul Huda untuk tak lagi menggunakan rakit demi sampai di Sekolah. Pasalnya, Pemkab Garut menjanjikan pembangunan jembatan tahun ini.
Janji tersebut disampaikan Bupati Garut, Rudy Gunawan saat meninjau langsung kondisi rakit di perbatasan Kecamatan Karangpawitan dan Banyuresmi.
Rudy mengaku sangat prihatin dengan tak tersedianya jembatan di Kampung Pananggungan, Kelurahan Lengkong Jaya, Karangpawita dengan Kampung Tegalkalapa, Desa Sukasenang, Kecamatan Banyuresmi.
“Mau tak mau harus dilakukan (pembangunan jembatan). Walau hanya belasan anak yang menyebrang,” ucap Rudy, Selasa (29/1/2019).
Jika tak dibangun jembatan, Rudy menyebut akan menjadi masalah di kemudian hari. Menurutnya, di zaman modern ini sudah tak boleh ada rakit yang dipakai warga untuk akses transportasi.
“Akses harus dibuka. Apalagi ada perumahan (rumah tapak korban banjir bandang) di Pananggungan. Kalau perlu dibangun jembatan yang bisa masuk mobil selebar 2,5 meter,” katanya.
Dari hasil peninjauan, Pemkab akan melakukan kajian. Dalam seminggu ini akan ditentukan bentuk jembatan yang akan dibangun.
“Apakah hanya jembatan rawayan atau jembatan yang lebih besar lagi. Kalau rawayan hanya bertahan tiga tahun. Jembatan biasa, bisa 20 tahun,” ucapnya.
Baca juga: Warga Kampung Penanggungan, Kabupaten Garut Minta Pemkab Garut Segera Bangun Jembatan
Rencananya jembatan akan dibangun pada bulan September. Dengan menggunakan anggaran perubahan.
“Saya sudah komitmen di 2023, tak ada rakit lagi. Semua harus pakai jembatan,” katanya.
Janji bupati itu disambut bahagia para murid yang sering menyebrang dengan rakit. Harapan Muhammad Dafa (11) dan teman-temannya bisa terwujud. Apalagi selama lima tahun, Dafa setiap hari menggunakan rakit untuk menyebrang.
“Nanti kalau ada jembatan bisa pakai sepeda ke sekolah. Sepatu enggak akan basah lagi,” ujar Dafa.
Jika hujan deras terjadi, Dafa tak harus memutar jalan yang berjarak hingga tiga kilometer. Adanya jembatan akan mempercepat akses jalan menuju sekolah dari rumahnya di Pananggungan.
“Takut juga kalau naik rakit terus. Apalagi kalau air lagi tinggi,” katanya.***(Rul/BandungKita)
Editor: Restu Sauqi





Comment