Merayakan Hasil Panen Melimpah, Inilah Keseruan Perang Tomat di Cikareumbi Lembang

BandungKita.id, NGAMPRAH – Sejak pagi, ratusan orang telah berkumpul di Kampung Cikareumbi, Desa Cikidang, Kecamatan Lembang, Kabupaten Bandung Barat.

Masyarakat yang terdiri dari laki-laki, perempuan, orang tua hingga anak-anak itu berbondong-bondong, mereka ingin melihat dan terlibat langsung dalam tradisi tahunan Rempug Tarung Adu Tomat atau akrab disebut Perang Tomat, Minggu (13/10/2019).

Layaknya perang yang kita kenal pada umumnya, Perang Tomat punya ciri-ciri khusus di dalamnya. Seperti adanya dua pasukan yang bertempur, senjata yang digunakan, dan baju perang atau zirah.

 

LIHAT JUGA :

VIDEO : Heboh Perang Tomat di Lembang KBB Ini Mirip Perang Tomat di Spanyol

 

 

Yang berbeda, dalam Perang Tomat tidak ada korban jiwa dan hasil akhir kalah atau menang. Tradisi tahunan ini hanya sebagai bentuk rasa syukur warga atas hasil panen yang melimpah.

“Tradisi ini merupakan bagian dari acara syukuran warga atas rezeki tanah yang subur, air yang selalu mengalir serta hasil panen yang melimpah,” kata ketua pelaksana Rempug Tarung Adu Tomat 2019, Acep Ujang (35), di lokasi.

Sekitar pukul 11.00 WIB, upacara dimulai. Sangkakala perang ditandai oleh suara petasan dan musik gamelan.

Dua pasukan dengan jumlah masih-masing dua puluh orang siap bertempur. Mereka lengkap dengan pakaian zirah dan penutup kepala dari bambu. Tak lupa senjata utama, tomat busuk dicengkeram erat dalam genggaman.

 

BACA JUGA :

Waduh! Jelang Ramadan Bawang dan Tomat Naik Seratus Persen

 

 

Dalam sebuah gerakan khas, mengikuti irama gamelan, hentakan sura gendang, yang berpadu dengan pekikan Terompet Sunda, masing-masing pasukan itu bergantian saling serang menggunakan tomat. Mereka seperti tengah mengikuti irama dan ikut menari.

Makin lama, tempo gamelan dan hentakan gendang makin cepat. Saling lempar tomat antar dua pasukan terus terjadi bahkan mulai melebar. Masyarakat yang sedari tadi terbius menyaksikan, mulai ikut terlibat dalam aksi saling lempar. Perang Tomat pun pecah dan baru bisa berakhir tatkala semua tomat busuk yang tersedia telah habis dilempar.

“Rangkaian perang atau aksi saling lempar akan berakhir kalau tomat busuknya habis,” kata Acep.

Setelah aksi saling lempar berakhir, rangkaian Rempug Tarung Adu Tomat ditutup dengan bersalaman dan bersih-bersih. Seluruh masyarakat akan berbaris lalu berpelukan dan bersalaman. Setelah itu mereka gotong-royong membersihkan sampah tomat busuk yang kelak dipakai kembali sebagai pupuk.

“Tomat busuk bekas perang ini dipakai lagi untuk kompos tumbuhan,” ucapnya.

 

BACA JUGA :

Resep Mudah Pasta Fusili Saus Tomat

 

 

Perang tomat ini merupakan rangkaian dari Upacara Ngaruat Bumi dan Hajat Buruan, digelar sebagai bentuk ungkapan membuang sial dari segala hal buruk dalam diri manusia maupun penyakit tanaman. Itulah kenapa, pada tradisi perang tomat di sini hanya memakai tomat busuk.

Acep berharap tradisi yang berjalan sejak tahun 2012 itu dapat terus bertahan, mendapat dukungan dari pemerintah, serta bisa meluas. Ia meyakini jika suatu negara mempertahankan budaya masyarakatnya, maka negara itu akan utuh dan kuat.

“Saya ingin tradisi ini meluas. Saat ini kan baru dilakukan oleh satu RW. Ya minimal satu desa lah. Agar budayanya tetap terjaga,” pungkasnya. ***(Restu Sauqi/BandungKita.id)

 

Editor : Azmy Yanuar Muttaqien

Comment