KABUPATEN BANDUNG BARAT, Bandungkita.id – Dinamika politik di Kabupaten Bandung Barat (KBB) kembali memanas. Di tengah polemik penghapusan aset Lapang Gunungsari dan progres cepat hibah lahan eks-Pacuan Kuda Lembang, muncul spekulasi mengenai adanya “konsultasi strategis” tingkat tinggi yang melibatkan lingkaran elit kekuasaan.
Aktivis kebijakan publik, Bilal Alfariz, mencium adanya aroma lobi politik yang kental dalam carut-marut tata kelola aset ini. Ia menengarai bahwa langkah-langkah administrasi yang diambil Pemerintah Daerah (Pemda) KBB saat ini bukan sekadar menjalankan prosedur hukum, melainkan upaya mitigasi risiko politik bagi kepala daerah.
“Kita melihat ada pola yang kontradiktif. Di satu sisi, Pemda tampak ‘tak berdaya’ mempertahankan Lapang Gunungsari pasca putusan hukum. Namun di sisi lain, mereka sangat agresif menghibahkan lahan eks-Pacuan Kuda Lembang kepada instansi vertikal. Ini memicu pertanyaan besar: apakah ada barter kepentingan di balik percepatan administrasi ini?” ujar Bilal kepada Bandungkita.id, Sabtu (28/3/2026).
Bilal juga menyoroti manuver di luar jalur birokrasi, termasuk “lawatan” keluarga besar Bupati yang terpantau melakukan pertemuan di kediaman Gubernur Jawa Barat di Subang. Menurutnya, kehadiran tim lengkap dan keluarga dalam kunjungan tersebut sulit dipisahkan dari upaya mencari “payung politik” atas keputusan-keputusan sensitif terkait aset daerah.
“Ini bukan sekadar silaturahmi biasa. Diduga kuat ini adalah bentuk diplomasi preventif. Ada kekhawatiran bahwa keputusan Bupati terkait pelepasan aset di Lembang bisa menjadi bom waktu hukum. Maka, konsultasi ke level provinsi menjadi langkah untuk memastikan administrasi yang diteken Bupati ‘aman’ secara politik,” tambah Bilal.
Lobi DPRD dan Peran Sekda
Analisis mengenai adanya “main mata” dalam proses ini juga menyasar gedung DPRD KBB. Bilal menduga, instrumen seperti Nota Komisi I yang sebelumnya vokal soal aset, kini rentan menjadi alat tawar-menawar (bargaining) antara legislatif dan eksekutif.
“DPRD punya hak persetujuan. Jangan sampai isu Gunungsari atau hibah Pacuan Kuda ini hanya dijadikan kartu as oleh oknum dewan untuk mendapatkan konsesi anggaran atau proyek di dapil mereka, terutama di wilayah Lembang,” tegasnya.
Dalam pusaran ini, peran Sekretaris Daerah (Sekda) KBB, Ade Zakir, menjadi sentral. Sebagai panglima administrasi dan Ketua TAPD, Sekda dituding memegang kunci atas “penelitian administratif” yang bisa memuluskan atau menjegal sebuah kebijakan aset.
Senada dengan itu, pengamat hukum dari Unisba, Prof. Nandang Sambas, yang sebelumnya sempat memberikan pandangan hukumnya, mengingatkan bahwa setiap diskresi atau keputusan administratif yang dipaksakan demi kepentingan tertentu mengandung risiko abuse of power.
“Pelepasan aset negara atau daerah harus memiliki landasan yuridis yang kuat, bukan sekadar kesepakatan politik di bawah meja. Jika prosedur administrasinya dimainkan, risikonya adalah delik korupsi bagi pengambil kebijakan,” jelas Prof. Nandang dalam catatan liputan sebelumnya.
Dugaan adanya lobi senyap ini semakin diperkuat dengan kegelisahan yang nampak dari orang-orang terdekat Bupati.
Lawatan ke Subang oleh figur publik yang juga keluarga Bupati disinyalir untuk memitigasi agar nama besar keluarga tidak terseret jika di kemudian hari ditemukan jejak kesalahan prosedur dalam pengelolaan aset KBB.
Hingga berita ini diturunkan, Bandungkita.id masih berupaya meminta konfirmasi resmi dari Sekda KBB maupun pimpinan DPRD terkait sinkronisasi data aset dan transparansi proses hibah lahan di Lembang tersebut.
Sebelumnya, Pantauan Bandungkita.id pada akun media sosial resmi Raffi Ahmad, suami dari Nagita Slavina tersebut mengunggah momen kunjungan keluarga besarnya ke kediaman Gubernur Jawa Barat, Dedi Mulyadi, di Subang. Kunjungan yang membawa tim lengkap dan keluarga ini memicu analisis mendalam mengenai adanya “konsultasi strategis” tingkat tinggi untuk mengamankan posisi administrasi Bupati KBB, Jeje Ritchie Ismail, yang juga merupakan kakak ipar Raffi.
Dalam takarir unggahannya, Raffi Ahmad menuliskan:
“Alhamdulillah hari ini bersama keluarga mumpung kami lagi di Jawa Barat ,kami berkesempatan bersilaturahmi ke kediaman Gubernur Jawa Barat, Kang @dedimulyadi71. Masih dalam suasana Idul Fitri ini, kami manfaatkan untuk saling memaafkan, berbagi cerita, dan mempererat hubungan yang selama ini terjalin.”
Lebih lanjut, Raffi menekankan pentingnya sinergi untuk kepentingan masyarakat, dengan menyertakan tagar #utusankhususpresiden:
“Silaturahmi seperti ini dijadikan momentum untuk menguatkan kebersamaan sebagai bagian dari ikhtiar bersama untuk terus hadir dan memberi manfaat bagi masyarakat. Semoga kebersamaan ini membawa kebaikan, memperpanjang energi kolaborasi, dan menjadi langkah kecil yang berdampak besar.”
Comment