by

Serunya Hari Penanaman Pohon Sedunia Ala Sekolah Alam Insan Cemerlang Katapang Kabupaten Bandung

Mengedukasi Anak Agar Mencintai dan Menjaga Lingkungan dengan Daur Ulang Sampah Menjadi Barang Berharga

BandungKita.id, KAB BANDUNG – Sinar mentari pagi menerobos sela-sela dedaunan. Bercak-bercak cahaya yang keluar dari dedaunan pun terpendar di tanah. Udara hangat pun sedikit demi sedikit menyingkirkan udara dingin yang sebelumnya menempel kulit dan menusuk tulang.

Bocah-bocah kecil berseragam olahraga merah muda tampak tersenyum ceria menyambut hangatnya sang mentari. Tak ada wajah cemberut di wajah mereka. Senyum lebar dan wajah antusias tampak menghiasi ratusan siswa Sekolah Alam yang tengah menanti satu even istimewa yang mereka tunggu-tunggu.

Adalah Student Expo dalam rangka Hari Penanaman Pohon Sedunia yang ditunggu para siswa. Bagi siswa Sekolah Alam Insan Cemerlang (SAIC) Katapang Kabupaten Bandung, hari penanaman pohon yang diperingati setiap 12 April merupakan salah satu hari istimewa bagi mereka.

Maklum, sebagai sekolah yang mendeklarasikan diri sebagai sekolah alam, hari penanaman pohon adalah salah satu agenda yang wajib diperingati. Pihak sekolah memanfaatkan hari penanaman pohon tersebut untuk mengedukasi para siswa. Hal itu juga sejalan dengan tagline atau slogan SAIC yaitu Bersahabat dengan Al Quran dan alam.

Sebenarnya pendidikan soal wawasan kealaman dan lingkungan di sekolah berbasis alam tersebut tak hanya dilakukan ketika peringatan hari penanaman pohon. Sehari-hari pun, para siswa dididik dan dibiasakan untuk bersahabat dengan alam dan mencintai lingkungan.

Beberapa contoh konkret yang diterapkan pihak sekolah kepada para siswa diantaranya adalah para siswa tidak diperkenankan membawa botol minuman plastik maupun membawa makanan yang dibungkus plastik. Aturan tersebut bertujuan untuk mengurangi sampah plastik yang saat ini menjadi salah satu masalah utama persampahan.

Tak heran, di sekolah alam ini tak terlihat ada sampah plastik maupun botol bekas minuman. Sekolah pun terlihat asri dan sejuk dengan pepohonan hijau, bangunan bernuansa alam dan tanpa sampah berserakan.

Selain itu, siswa juga sudah dibiasakan sejak dini untuk belajar mencintai alam dan lingkungan. Salah satunya dengan cara siswa diberi tanggung jawab untuk menyiram dan merawat tanaman yang mereka tanam seperti bunga, buah-buahan dan sayuran.

Uniknya, biji atau tanaman ditanam siswa di barang-barang bekas seperti bekas plastik minyak goreng, kaleng bekas, ban bekas dan barang bekas lainnya. Tujuannya jelas, siswa dituntut untuk ikut mengurangi sampah barang bekas di rumah masing-masing.

Walau bertajuk hari penanaman pohon, acara tersebut dikemas sangat menarik dan menghibur. Acara tak hanya ditandai dengan prosesi penanaman pohon. Berbagai acara menarik ikut memeriahkan even tahunan Sekolah Alam terbesar di Kabupaten Bandung tersebut.

Antusiasme para siswa yang sudah menunggu sejak pukul 07.00 pagi dibuka dengan penampilan drama kabaret yang dibawakan oleh siswa kelas 3. Penampilan anak-anak yang membacakan puisi dan pantun juga cukup menghangatkan suasana pagi yang cerah itu.

Memasuki acara inti, Kepala Sekolah SD Alam Insan Cemerlang, Wawan Setiawan MPd memberikan ‘maklumat’ kepada ratusan siswanya. Menurut Wawan acara hari penanaman pohon di sekolah tersebut merupakan yang ketiga kalinya digelar.

Wawan mengatakan even Student Expo dalam rangka hari penanaman pohon tersebut pertama kali digelar pada 2017. Ternyata antusiasme siswa maupun para orangtua sangat luar biasa. Pihak sekolah pun kembali menggelar even tersebut pada 2018 dan 2019 ini.

“Antusiasmenya sangat baik. Panitia juga semakin siap. Acaranya selalu semarak. Tahun ini bahkan lebih semarak lagi. Hari penanaman pohon ini semoga menjadi spirit bagi kita supaya lebih mencintai dan menjaga alam. Kalau kita menjaga alam, maka alam akan menjaga kita,” kata Wawan membuka sambutan seraya disambut teriakan dukungan dari ratusan siswa.

Student Expo ala SAIC diisi dengan acara-acara menarik seperti Fashion Show berbahan dasar bahan daur ulang, pameran kreatifitas siswa berbahan dasar bahan daur ulang, bazar mitra keluarga, lomba menghias pot, penampilan nasyid, dan acara keren lainnya.

Dari rangkaian acara menarik itu, ajang fashion show menjadi acara yang paling ditunggu-tunggu para siswa maupun para orang tua. Pasalnya, peserta fashion show tersebut adalah para siswa kelas 1 dan 2 yang notabene masih unyu-unyu dan menggemaskan.

Selain itu, daya tarik fashion show adalah karena busana yang dikenakan para peserta merupakan busana yang seluruhnya terbuat dari barang bekas dan tidak terpakai. Kardus bekas, koran, plastik, karung, dan botol bekas adalah beberapa bahan yang digunakan untuk membuat busana fashion show.

BACA JUGA :

Kisah Uu Sang Kuli Bangunan Kuliahkan Anaknya ke ITB dan Unpad : Yakin Pendidikan Bisa Ubah Nasib Mereka

 

Ratusan Kreasi Seni Siswa Akan Meriahkan Gebyar Pendidikan dan Kebudayaan, Ini yang Akan Ditampilkan Kata Disdik Garut

 

Saking antusiasnya menantikan acara fashion show, ratusan siswa yang awalnya duduk rapi di lapangan bertenda, mereka langsung merangsek dan meluber ke barisan depan. Para siswa tampak antusias ingin melihat lebih dekat dan mendukung para ‘jagoan’ dan ‘ratu’ mereka.

Luar biasanya, para peserta fashion show pun tampil tak ala kadarnya. Selain mengenakan busana unik dan kreatif, penampilan bocah-bocah kelas 1 dan 2 sangat menghibur. Tanpa malu-malu mereka berlenggak-lenggok sambil bergaya di atas panggung yang disulap menjadi arena catwalk dadakan.

Tak heran, tepuk tangan meriah dan teriakan dukungan mengalir deras sepanjang acara fashion show. Berbagai tema busana ditampilkan para peserta. Desain unik busana para peserta, cukup menarik perhatin ratusan pasang mata yang menyaksikan.

Beberapa tema unik busana yang dibawakan peserta perempuan mayoritas berbahasa Inggris namun tetap bertema alam seperti “Princes of Recycle”, “Save The Earth”, “Pinky Whitey Florist”, “Happy Colourfull”, “Putri Padi”, “Peri Mangrove”, dan lain-lain.

Sementara tema busana siswa laki-laki lebih beragam diantaranya tema “Bajak Laut Sholeh”, “Transform Robotic, “Pangeran Rogros”, “T Shirt of Newspaper”, “Muhammad Al Fatih”, “Gatot Kaca Indonesia Shadow Puppets”, dan lain-lain.

Para siswa yang menjadi penonton bertindak cukup fair. Mereka selalu memberikan dukungan dan tepuk tangan kepada setiap peserta yang mendapat giliran tampil di atas catwalk. Namun uniknya, ada juga peserta yang karena grogi, menangis di atas panggung. Hal itu justru menambah berwarna dan menarik acara ini.

Di samping itu, pameran kreatifitas hasil karya siswa menggunakan barang-barang bekas juga menjadi primadona lainnya pada even tahunan ini. Sebab, selain menampilkan karya-karya keren dan kreatif, pameran kreatifitas siswa ini juga menjadi ajang ‘berburu’ barang bagi para orangtua.

Karya hasil kreatifitas siswa Sekolah Alam Insan Cemerlang (SAIC) yang berasal dari barang-barang bekas dan sampah (M Zezen Zainal M/BandungKita.id)

 

Tak sedikit karya hasil kreatifitas siswa langsung dibeli orangtua siswa. Harganya bervariasi yakni antara Rp 10 ribu hingga Rp 50 ribu. Uniknya, siswalah yang menentukan harga hasil karya mereka sendiri. Hasil karya siswa dipajang berdasarkan kelas masing-masing.

Salah seorang siswa kelas 1B, Zakky Muhammad Hazeem Al Fatih mengaku senang bisa ikut serta dalam kegiatan penanaman pohon tersebut. Zakky juga mengikuti lomba fashion show dengan menampilkan busana Gatot Kaca Indonesia Shadow Puppets.

“Senang, acaranya seru. Enggak apa-apa enggak menang juga, yang penting sudah berani tampil ke depan. Tahun depan pengen ikutan lagi ah,” ujar Zakky sambil tersenyum lebar. (M Zezen Zainal M/BandungKita.id)

Editor : M Zezen Zainal M

Comment