oleh

Pemilihan Eddy Nasution yang Juga Pejabat Pemprov Jabar Sebagai Komisaris Bank Bjb Dinilai Tidak Tepat, Ini Alasannya

BandungKita.id, BANDUNG – Pemilihan Eddy Nasution sebagai komisaris Bank BJB dinilai kurang tepat. Pasalnya, Asisten Daerah II Pemerintah Provinsi Jawa Barat (Pemprov Jabar) itu dinilai tidak memiliki kapasitas dan latar belakang perbankan dan akan memasuki masa pensiun.

Pakar ekonomi dan perbankan dari Universitas Pasundan Bandung, Acuviarta Kartabi, mengatakan hasil RUPS Bank BJB yang telah memilih jajaran direksi dan komisaris yang baru dipertanyakan banyak pihak. Terlebih, soal penetapan Eddy Nasution sebagai Komisaris Bank BJB.

Acuviarta menilai, di internal Pemerintah Provinsi Jawa Barat banyak sosok yang lebih kompeten untuk menjadi komisaris Bank BJB dibanding Eddy Nasution.

“Sebenarnya di provinsi juga tidak harus asda (asisten daerah). Saya kira banyak yang lebih kompeten dibanding beliau (Eddy),” kata Acuviarta di Bandung, Mingguv(5/5).

Dia khawatir, Eddy yang tidak memiliki latar belakang dan rekam jejak perbankan tidak akan maksimal dalam menjalankan tugas sebagai komisaris. Padahal, menurutnya operasional bank berpelat merah tersebut harus sesuai dengan visi dan misi Pemprov Jabar.

BACA JUGA :

RUPS Bank BJB, Wartawan yang Hendak Meliput Sempat Tak Diperbolehkan Masuk

 

Dana CSR Bank BJB Diduga Digunakan Kepentingan Politik, Begini Kata Mahasiswa

 

Bank BJB Diduga Lakukan Pungli ke Nasabah Rp 2,6 Triliun, Begini Kata Tim Saber Pungli

 

Selain itu, dia khawatir Eddy tidak memahami operasional perbankan dengan baik sehingga laporan-laporan dari manajemen Bank BJB tidak tersampaikan dengan baik. Bahkan, dengan kondisi pengawasan yang tidak maksimal, menurutnya sangat mungkin terjadi konflik kepentingan di antara pihak-pihak terkait seperti potensi korupsi.

“Sangat mungkin sekali terjadi mis komunikasi. (Contohnya) dua komisaris (maskapai) Garuda yang menolak laporan keuangan yang sekarang sedang ramai. Inilah pentingnya ada korelasi orang yang ditunjuk dengan pengetahuan dan pemahaman tentang perbankan dan keuangan,” paparnya.

Selain itu, Acuviarta pun menyayangkan pemilihan Eddy karena alumni ITB itu akan memasuki masa pensiun. Hal ini dikhawatirkan akan menghambat transformasi pengetahuan tentang perbankan di antara pejabat pemerintah tersebut.

“Apalagi menjelang masa purna tugas. Ke depan harus ada transfer of knowledge ke orang-orang pemprov,” katanya.

Tak hanya itu, dia menilai jika Eddy memasuki masa pensiun maka sudah tidak bisa dikatakan lagi sebagai perwakilan Pemerintah Provinsi Jawa Barat di Bank BJB. “Tujuan menempatkan beliau kan sebagai perwakilan pemerintah, jadi harus betul-betul merepresentasikan kepentingan dari pemerintah. Tapi kalau sudah pensiun?” tanya Acuviarta.

Oleh karena itu, dia kembali menilai bahwa pemilihan Eddy sebagai komisaris kurang tepat. “Saya berharap sebenarnya ada yang lain di luar beliau,” katanya.(M Zezen Zainal M/BandungKita.id)

Editor : M Zezen Zainal M

Komentar