oleh

Pengungkapan Kasus HIV/AIDS di Jawa Barat Masih Rendah

BandungKita.id, BANDUNG – Kemampuan untuk mengungkap kasus HIV/AIDS di Jawa Barat masih rendah. Hal ini disebabkan karena kurangnya kesadaran tiap instansi di Jawa Barat untuk bersama-sama mengungkap kasus tersebut.

Pengelola Program Komisi Penanggulangan AIDS Jawa Barat, Landry Kusmono mengatakan, Dinas Kesehatan Provinsi Jawa Barat sendiri memiliki target untuk melakukan pemeriksaaan HIV kepada 1,2 juta orang setiap tahunnya. Namun, Dinas Kesehatan Provinsi Jawa Barat baru mampu menjangkau 350 ribu orang dalam setahun.

“Dalam setahun targetnya 1,2 juta orang. Tapi baru bisa menjangkau 350 ribu orang. Dari 350 ribu orang itu yang diperiksa ditemukan rata-rata 5.000 orang positif HIV. Persentasenya 1,4 persen saja,” kata dia saat ditemui di Kantor Sekretariat KPA Provinsi Jawa Barat, Kota Bandung, Senin (16/9/2019).

Dikatakan Landry, Data Dinas Kesehatan Provinsi Jawa Barat mencatat hingga Maret 2019, jumlah orang dengan HIV tercatat 38.885 orang dan AIDS mencapai 10.370 orang. Hal ini tentu saja kurang dari estimasi target orang dengan HIV dan AIDS (ODHA) di Jawa Barat tahun 2016.

BACA JUGA:

Petugas Kebersihan Temukan Bayi dalam Tumpukan Sampah di Jalan Braga

 

“Estimasinya 66.965 orang. Tapi pengungkapan kasus HIV hanya 38.885 atau 58 persen Targetnya harusnya 90 persen dari estimasi itu. Tapi kemampuan Jawa Barat masih jauh dari target estimasi,” katanya.

Sementara target orang dengan HIV yang sudah On ART (Anti Retrorival Therapy) juga masih sangat jauh. Hingga saat ini (Maret 2019) baru 14.325 orang atau 21 persen dari target yang ditentukan mencapai 81 persen.

Kendati demikian, kata dia, dari 38.885 orang dengan HIV, 34.206 orang sudah menjalani perawatan. Dan yang mulai perawatan dengan ARV mencapai 25.157 orang.

Berdasarkan data dua tahun terakhir yang dicatat KPA Jawa Barat, penemuan rata-rata orang dengan HIV mencapai 5.000 orang setiap tahunnya. Tahun 2017, KPA Provinsi Jawa Barat mencatat 5468 orang dengan HIV dan 1821 orang dengan AIDS. Tahun 2018 setidaknya ditemukan 5275 orang dengan HIV dan 318 orang dengan AIDS. Terajadi sedikit angka penurunan kasus HIV baru.

“Jadi memang masih rendah. Perlu secara bersama-sama instansi terkait terlibat untuk mengungkap kasus ini dengan menggerakkan stake holdernya. Jadi tidak satu instansi saja yang bergerak, yaitu Dinas Kesehatan atau Biro Yanbangsos saja” kata dia.

BACA JUGA:

DPR Setujui Batas Usia Minimal Perkawinan Jadi 19 Tahun

 

Menurut dia, data persentase kasus AIDS berdasarkan Kelompok Risiko dari Tahun 1989 hingga 2019 di Jawa Barat, kelompok heteroseksual masih mendominasi dengan angka 47 persen. Disusul kelompok pengguna narkoba suntik mencapai 33 persen dan Bisexual dengan 12 persen. Sedangkan kelompok Perinatal (ibu ke bayi) hanya 0,4 persen. Dan yang tidak diketahui 0,4 persen.

“Maka dari itu kami dua tahun terkahir ini terus melakukan sosialisasi Permenkes Nomor 43 Tahun 2016 dan Permenkes Nomor 4 Tahun 2019 tentang Standar Pelayanan Minimal (SPM). Dimana orang harus mendapatkan pemeriksaan HIV sesuai standar. Targetnya tiap kota/kabupaten harus 100 persen. Kegagalan pemenuhan SPM akan dilakukan “fasilitasi khusus” sesuai UU No.23/2014 bagian ketiga pasal 381-383. Kalau tidak tercapai tentu akan ada perlakuan khusus dari pemerintah provinsi ke kepala daerah kota/kabupaten,” katanya.(R Wisnu Saputra)

Editor: Dian Aisyah

Komentar