oleh

Ratusan Calon Kades di KBB Nilai Uji Kecakapan Bahasa Sunda Memberatkan

BandungKita.id, CIMAHI – Pelaksanaan Pemilihan Kepala Desa (Pilkades) serempak Kabupaten Bandung Barat (KBB), sudah memasuki tahapan seleksi akademis. Kamis (31/10/2019) bertempat di Universitas Jendral Ahmad Yani (Unjani), yang diikuti 315 Calon Kades (Cakades) dari 43 Desa.

Ditunjuknya Unjani jadi Perguruan Tinggi (PT),  penyelenggara seleksi Akademis oleh Pemda KBB, bukanlah yang pertama kali. Unjani sudah terbiasa ditunjuk oleh Pemda KBB sebagai Perguruan Tinggi penyelenggara seleksi Cakades.

“Unjani sudah berpengalaman untuk menyelenggarakan uji akedemis Cakades, mereka punya fasilitas dan sudah berpengalaman,” jelas Jalaludin, Sekertaris Dinas (Sekdis) Dinas Pemberdayaan Masyarakat dan Pemerintahan Desa (DPMPD) KBB, ditemui di lokasi. “Independensi bisa terjamin, siapapun yang lolos seleksi itulah hasil sejujurnya”, sambung Jalaludin.

 

BACA JUGA :

Unjani Pastikan Seleksi Akademik Bagi 309 Calon Kades Berjalan Objektif

 

 

Kepercayaan serupa terhadap penyelenggara seleksi Cakades datang dari Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) KBB. Menurut Rismanto,  Unjani yang ditunjuk sebagai penyelenggara seleksi akademis syarat dengan pengalaman.

“Saya kira Unjani sudah sangat siap dan berpengalaman”, jelas Rismanto saat dihubungi BandungKita.id, melalui telepon solulernya. “Pak Ayi dan anggota Dewan lainya dari Komisi 1, tadi sudah meninjau langsung ke Unjani”, sambung Rismanto, ditanya apakah ada anggota DPRD KBB yang datang meninjau peserta seleksi.

Lokasi pelaksanaan test akademik banyak diapresiasi oleh peserta, selain tempat yang cukup representatif dan mudah dijangkau, independensi panitia pun dapat dipercaya. “Bagus, tempat representatif serta lokasi yang mudah dijangkau dan yang paling penting indepedensi penyelenggaranya terjamin,” tutur H. Asep Setiawan, peserta dari Kecamatan Padalarang.

 

BACA JUGA :

Sebanyak 42 Desa di Kabupaten Bandung Barat Punya Calon Kades Lebih dari Lima Orang

 

 

Dalam pelaksanaannya, peserta harus menyelesaikan 2 sesi tertulis dengan 50 jumlah soal, harus diselesaikan dalam waktu 90 menit. Selanjutnya peserta masuk pada sesi wawancara dan kecakapan berbahasa Sunda.

Di luar dugaan kecakapan berbahasa Sunda, diakui oleh banyak peserta sangat menyiksa. “Untuk test tertulis tidak ada masalah, waktu yang disediakan panitia lebih dari cukup”, tutur Lia Yuliani Rosali, Cakades perempuan dari Desa Nyalindung Kecamatan Cipatat. “Yang menyiksa justru menerjemahkan bahasa Sunda ke bahasa Indonesia dan sebaliknya”, sambung Lia.

Kesulitan serupa dialami oleh Nanang Supriatna, Cakades dari Desa Karyamukti Kecamatan Cililin. “Benar kang, menerjemahkan bahasa Indonesia ke Sunda dan sebaliknya, balelol,” jelas Nanang, Calon Incumbent dari Desa Karyamukti Cililin. (Dadang Gondrong/BandungKita.id)

 

Editor : Azmy Yanuar Muttaqien

Komentar