oleh

Jika Tanpa Resep Dokter, Apotek yang Jual Tramadol dan Excimer Bakal Ditutup

BandungKita.id, NGAMPRAH – Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Bandung Barat (KBB) bakal menindak tegas apotek yang kedapatan menjual obat tramadol dan excimer tanpa resep dokter. Pasalnya, dua jenis obat tersebut kerap disalahgunakan.

Kepala Seksi Makanan Minuman Kosmetik dan Tradisional, Dinkes KBB, Rendra Gustiawan mengatakan akan bekerja sama dengan Badan Narkotika Nasional (BNN) untuk melakukan sosialisasi, pembinaan, serta pengawasan bagi seluruh apotek di KBB.

 

BACA JUGA :

Optimalkan Pelayanan Kesehatan, Komisi IV DPRD Dorong 3 RSUD di KBB Jadi Tipe C

 

 

Menurutnya, jika masih ada apotek yang masih menjual dua jenis obat tersebut tanpa resep dokter, Dinkes KBB tak segan mencabut izin operasionalnya.

“Kalau ada apotek nakal, kita akan berkoordinasi dengan BNN untuk pembinaan dan pengawasan. Jika masih ada apotek yang menjual tramadol dan excimer tanpa resep dokter, izinnya harus dicabut,” katanya Selasa (5/11/2019).

Namun demikian, dalam melakukan penindakan, Dinkes KBB tetap memakai regulasi yang ada. Penutupan izin operasional akan diputuskan setelah melayangkan tiga kali surat peringatan.

 

Obat Tramadol dan Excimer. (net)

 

“Kalau masih tak dihiraukan, akan ada tindakan pemberhentian sementara. Kalau masih keras kepala, izinnya kita cabut,” jelasnya.

Menurut data BNN, penggunaan narkoba oleh pelajar KBB masih didominasi jenis obat-obatan terlarang seperti excimer dan tramadol.

“Pengguna narkoba di KBB masih di dominasi oleh penggunaan obat-obatan, seperti excimer, tramadol, dll. Hal itu kita ketahui dari hasil sekali tangkap, kita dapat 6000 eksimer,” ungkap Kepala BNN KBB, Sam Noorati Martian beberapa waktu lalu.

 

BACA JUGA :

Dinkes KBB Dinilai Telah Lalai, Majelis Hakim : Masa Laporan Dana Saja Enggak Tahu

 

 

Hasil pantauan BNN, kata Sam, pelajar lebih memilih excimer dan tramadol karena harga yang cukup murah dan mudah didapat. Namun, dampaknya ini yang akan merusak sistem saraf terutama otak.

“Dengan kegiatan ini, paling tidak 300 anak bangsa bisa kita selamatkan, kemudian bisa menularkan pada teman dan keluarganya,”ujar Sam.

BNN juga mencatat sebanyak 27 persen masyarakat Indonesia adalah pengguna narkoba. Akibatnya, hampir 50 orang setiap harinya meninggal akibat barang haram itu.

“Untuk daerah Jawa Barat ada sekitar 3-4 orang meninggal setiap harinya akibat narkoba. Maka penting bagi kita untuk menyatakan perang melawan Narkoba,” pungkasnya.***(Restu Sauqi/BandungKita.id)

 

Editor : Azmy Yanuar Muttaqien

Komentar