by

Nukkeu dan Ayep : Klaim 28 PAC Gerindra Dukung Bedas Bukan Hoaks, Tapi Bukti Adanya Konflik di Tubuh Gerindra

BandungKita.id. KAB BANDUNG – Klaim adanya 28 Pengurus Anak Cabang (PAC) Partai Gerindra yang beralih dukungan ke pasangan calon (paslon) Dadang Supriatna-Sahrul Gunawan (Bedas) dinilai sebagai bukti adanya konflik dan perpecahan di tubuh DPC Partai Gerindra Kabupaten Bandung.

Hal tersebut disampaikan oleh dua orang kader yang juga mantan bakal calon Bupati yang sempat mengikuti penjaringan bakal calon Bupati dari Partai Gerindra, Nukkeu Nugraha dan Dr Ayep Rukmana. Menurut mereka, adanya klaim 28 PAC mendukung paslon lain di luar yang diusung partai, memang benar adanya dan bukan hoax.

Ketua Pengurus Cabang Satria Kabupaten Bandung, organisasi sayap Partai Gerindra, Nukkeu Nugraha mengaku prihatin dengan perpecahan yang terjadi di tubuh partai besutan Prabowo Subianto tersebut. Perpecahan tersebut dikhawatirkan akan berdampak pada anjloknya raihan suara Partai Gerindra Kabupaten Bandung di pemilu 2024.

Ia menilai adanya klaim 28 PAC Partai Gerindra Kabupaten Bandung yang mengalihkan dukungan ke pasangan calon (paslon) di luar yang diusung oleh partai, merupakan puncak dari perpecahan tersebut.

“Itu (klaim 28 PAC) adalah salah satu bukti konflik yang terjadi akibat ketidakpuasan dari kepemimpinan Yayat Hidayat selaku Ketua DPC Gerindra Kabupaten Bandung saat ini,” ujar Nukkeu, dalam keterangan tertulis yang diterima BandungKita.id, Senin (12/10/2020).

Pengurus PAC Partai Gerindra Kabupaten Bandung dari 28 kecamatan menolak mendukung Nia-Usman dan beralih mendukung pasangan Dadang Supriatna-Sahrul Gunawan (Bedas). (foto:istimewa)

Perbedaan pendapat antara 28 PAC dengan DPC Gerindra Kabupaten Bandung, kata Nukkeu, memang benar adanya dan bukan hoax. Ia mengaku sangat menyayangkan pernyataan Yayat dan pengurus DPC Gerindra lainnya yang menyebutkan bahwa klaim 28 PAC Gerindra adalah berita bohong atau hoax.

“Hoax itu adalah ketika media memberitakan pernyataan dari seseorang, tetapi setelah diklarifikasi orang tersebut tidak mengakui pernah berbicara seperti itu. Namun ini memang benar bahwa 28 PAC itu menyatakan dukungan ke paslon lain. Kalau seorang Ketua DPC bilang itu hoax, itu adalah kebodohan sebagai pembelaan,” tutur Aa Nukkeu, sapaan akrabnya.

BACA JUGA :

Waduh! 28 PAC Gerindra Kabupaten Bandung Tinggalkan Kurnia-Usman dan Beralih Dukung Pasangan Bedas

28 PAC Gerindra Kabupaten Bandung Pindah Dukungan Dipastikan Hoaks, Ini Fakta-faktanya

Pengurus dan Kader Senior Partai Bulan Bintang Deklarasi Dukung Pasangan Bedas, PBB : Pemimpin Wajib Laki-laki

Terlepas dari masalah dukung-mendukung dalam Pilkada, Nukkeu menegaskan bahwa adanya klaim 28 PAC itu jelas menunjukkan adanya konflik di tubuh DPC Gerindra Kabupaten Bandung. Ia mengungkapkan bahwa konflik itu sebenarnya terjadi sudah sejak lama, namun selama ini para kader dan pengurus PAC masih bersabar terus menahan diri.

“Saya bangga dengan 28 PAC yang bersabar diri begitu lama. Namun ketika mereka mempertanyakan masalah mekanisme penjaringan calon bupati dan wakil bupati untuk Pilkada Kabupaten Bandung 2020, itu adalah hak mereka,” kata Nukkeu, yang juga sempat mengikuti penjaringan calon Bupati yang dilakukan DPC Gerindra.

Nukkeu berharap, pengurus DPC dan PAC Gerindra Kabupaten Bandung yang lain, tidak lantas langsung menghakimi para 28 PAC yang berbeda pendapat tersebut. Namun hal itu harus disadari sebagai bukti adanya konflik yang justru harus segera dicarikan solusinya agar Partai Gerindra Kabupaten Bandung tetap solid dan kuat.

Ia menyayangkan pernyataan Yayat yang menyebutkan bahwa 28 PAC yang mendeklarasikan dukungan ke paslon lain itu hanya “mantan Gerindra”, karena sudah dipecat dari jabatannya sebagai ketua dan pengurus PAC. Padahal sekalipun jabatannya dicopot, mereka masih berstatus kader dan jiwa mereka pun masih Gerindra.

Jika semua kader yang tidak sependapat dengan Ketua DPC lantas dipecat dan diklaim bukan lagi bagian dari Gerindra, Nukkeu menilai hal itu akan berujung pada kemerosotan partai tersebut di masa depan. Apalagi, kata dia, para kader yang dipecat adalah kader-kader militan yang memiliki massa dan ada juga salah seorang pendiri partai.

BACA JUGA :

Sahrul Gunawan Yakin Dukungan Kang Aher Akan Semakin Mengokohkan Kemenangan Bedas⁣

Forum Konstituen : 20 Tahun Terakhir Kabupaten Bandung Gini-gini Aja, Harapan Ada di Pasangan Bedas

Hal senada juga diungkapkan oleh Dr Ayep Rukmana, mantan bakal calon Bupati dari Partai Gerindra. Menurut Ayep, klaim 28 PAC Partai Gerindra yang beralih dukungan ke paslon nomor 3, Dadang Supriatna-Sahrul Gunawan (Bedas) memang benar adanya.

“Klaim 28 APC pindah dukungan itu bukan hoax. Itu betul dan itu menjadi tamparan keras bagi Ketua DPC. Pengalihan dukungan itu adalah bentuk kekecewaan PAC-PAC terhadap Yayat Hidayat selaku Ketua DPC Gerindra. Saya sangat apresiasi pemikiran dan sikap 28 PAC tersebut,” kata Ayep.

Hal tersebut, kata dia, sebagai bukti adanya perpecahan di tubuh Partai Gerindra. Ayep mengaku mengetahui persis terjadinya konflik di internal Gerindra yang dipicu akibat sikap arogansi yang ditunjukkan Ketua DPC.

“Saya prihatin, konflik ini nyata. Kasian Gerindranya. Konflik ini jelas bakal menggerus suara Nia-Usman. Yang saya tahu saja, PAC di dapil 3 semuanya berpindah ke Bedas,” ujarnya.

Mantan bakal calon Bupati dari Partai Gerindra, Dr Ayep Rukmana (foto:istimewa)

Menurut dia, sejak awal para Ketua PAC menginginkan Partai Gerindra membuat poros koalisi sendiri dan tidak berada di bawah kendali partai lain. Terlebih, kata dia, Partai Gerindra memiliki modal besar yang dapat menjadi modal kemenangan yakni efek Prabowo-Sandi di pemilu 2019.

“Harusnya efek Prabowo-Sandi di pemilu 2019 dimanfaatkan betul. Sekarang Partai Gerindra malah dibawah ketiak partai lain dan berani melacurkan diri terhadap partai lain. Ini sangat disayangkan oleh para PAC,” ungkap Ayep.

Munculnya klaim adanya 28 PAC Gerindra yang beralih dukungan dari paslon nomor 1, Kurnia-Usman ke pasangan Bedas, menurut Ayep, hal tersebut merupakan puncak dari kekecewaan para kader dan para pengurus PAC Gerindra.

“PDIP saja berani mencalonkan bupati sendiri. Namun Gerindra malah mendukung calon lain, apalagi perempuan. Padahal masyarakat Kabupaten Bandung ini sangat religius dan dalam memilih khalifah atau pemimpin, tidak mau dipimpin perempuan. Jadi wajar jika ada PAC yang mendukung paslon lain. Itu fakta di internal DPC dan PAC,” kata Ayep.

Hingga berita ini diturunkan, belum ada tanggapan dari Ketua DPC Partai Gerindra Kabupaten Bandung, Yayat Hidayat terkait hal tersebut. Pesan WhatsApp yang dikirim BandungKita.id, tidak dijawab oleh Yayat walau dia sudah membaca pertanyaan konfirmasi dari BandungKita.id. (M Zezen Zainal M/ BandungKita.id)

Editor : M Zezen Zainal M

Comment