by

Seorang Pemuda di Cipatat Nekat Bunuh Diri: Diduga Depresi Karena Belum Menikah

BandungKita.id, CIPATAT – Sekitar pukul 06.00 WIB hari Senin (10/11/2020) seorang pemuda berinisal HL (26) nekat melakukan aksi bunuh diri dengan cara terjun bebas dari sebuah jembatan di atas perlintasan Kereta Api di wilayah Kampung Cirangrang, Desa Sumurbandung, Kecamatan Cipatat, Kabupaten Bandung Barat (KBB).

Korban diduga nekat bunuh diri karena mengalami gangguan kejiwaan. Ia adalah warga Kampung Cisereuh RT001 RW005, Desa Sumurbandung, Kecamatan Cipatat, KBB. Berdasarkan informasi dari teman korban berinisial R, menjelaskan bahwa HL memang sudah mengalami depresi sejak lama akibat problem asmara.

“Sejak 6 tahun lalu dia sudah depresi karena pernah putus dari tunangannya. Sahabat saya itu juga suka curhat pengen segera menikah, namun kasihan sampai meninggal belum ketemu jodohnya,” tutur R diiringi desak tangis.

BACA JUGA :

Mau Bunuh Diri, Driver Ojol Wanita Lompat dari Jembatan Gadobangkong

Editor Metro TV Tewas Bunuh Diri, Diduga Karena Positif Narkoba

Mahasiswa Unpad Jatinangor Diduga Bunuh Diri Karena Persoalan Asmara

Kapolsek Cipatat Kompol Yana Supyana melalui pesan singkatnya menjelaskan usai menerima laporan, dirinya bersama Kanit Reskrim, Pawas, Piket Reskrim Polres dan Tim INAFIS langsung melakukan cek TKP (Tempat Kejadian Perkara), memeriksa saksi-saksi, dan membawa korban ke RS Sartika Asih Kota Bandung disertai permintaan Visum et Repertum.

Ketiga orang saksi yang diperiksa adalah S (42) seorang ibu rumah tangga, Mi (32), dan Mu (40) seorang Ketua RW. Ketiganya merupakan warga yang tinggal tak jauh dengan kediaman korban.

“Berdasarkan keterangan para saksi, korban sudah mengalami gangguan kejiwaan akibat stress sekitar dua bulan terakhir ini, dan oleh pihak keluarga korban di lakukan pengobatan, dan pada kemarin malam korban datang ke rumah dan marah-marah kepada ibu korban di daerah Nyalindung”, terang Yana dikutip dari BangBara, Senin (30/11/2020).

Dilanjutkan Yana, pada pukul 04.00 WIB pihak keluarga mendapat informasi bahwa korban melarikan diri dari Pesantren tempatnya menimba ilmu, lalu dilakukan pencarian bersama dan ketika itu korban di temukan di Rel Kereta Api di TKP.

“Lalu pihak Keluarga meminta bantuan kepada Ketua RW, setelah itu saksi membujuk korban untuk tidak meloncat dari jembatan dan oleh Satpam PJKA yang ada di TKP korban sempat di pegang tangannya. Namun korban berontak, hingga akhirnya terjatuh ke dalam jurang dengan kedalaman kurang lebih 50 meter”, jelas Yana kembali.

Menurut Yana, pihak keluarga korban menerima Kejadian tersebut sebagai musibah dan menolak dilakukan otopsi jenasah dengan membuat surat pernyataan penolakan.

AS (42), Ayah dari HL dalam Surat Pernyataan yang dibuatnya di depan Kepala Desa Sumurbandung memang meminta kepada pihak petugas kepolisian untuk tidak membawa H ke Rumah Sakit.

“Bersama ini saya sebagai orang tua HL menyatakan benar korban merupakan anak kandung saya dan meninggal dengan cara menjatuhkan diri dari Jembatan Kereta Api dikarenakan ada penyakit gangguan jiwa. Untuk itu saya mohon kepada Bapak Petugas/Polisi untuk tidak dibawa ke Rumah Sakit”, tulis AS dalam Surat Pernyataan yang dibuatnya. (*).

Editor : Azmy Yanuar Muttaqien

Comment