Pengamat Soroti Pentingnya Kepemimpinan Hadir dan Narasi Optimisme di KBB, Jamparing: Bupati harus Baca “Paradoks Indonesia dan Solusinya”

KBB, Sosok12980 Views


BandungKita.id, Bandung Barat — Di tengah riuhnya pemberitaan mengenai dugaan pengendalian proyek APBD dan dugaan penyalahgunaan wewenang di Kabupaten Bandung Barat (KBB), Forum Komunitas Muda Bandung Barat bersama sejumlah pengamat eksternal menyampaikan keprihatinan sekaligus harapan. Mereka menyerukan agar semua pihak membangun budaya dialog, menghadirkan kepemimpinan yang nyata, dan memperkuat narasi optimisme di tengah krisis kepercayaan birokrasi.

Forum ini menyoroti dampak psikologis yang dialami para Aparatur Sipil Negara (ASN) di tengah ketidakpastian birokrasi. Banyak ASN merasa seperti “kehilangan induk ayam” bekerja tanpa arahan, tanpa perlindungan moral, dan tanpa kehadiran pemimpin yang menenangkan.

ARTIKEL PILIHAN

Wow..! Manuver Gelap di Bandung Barat: PPK Lama Disingkirkan, Sungram Masuk, Anggaran Siluman Menguat?

Batulayang, Umbul yang Direbus Sejarah: Saatnya Warga Bandung Barat Merebut Kedaulatan Naratif

“ASN bukan pion politik. Mereka pelayan publik. Kalau kepemimpinan masih diragukan, siapa yang melayani masyarakat?” ujar Raka Pradipta, perwakilan forum melalui pesan WhatsApp Saptu,12 Oktober 2025.

Seruan ini juga diperkuat oleh suara-suara dari kalangan ASN biasa yang bekerja di berbagai Organisasi Perangkat Daerah (OPD). Seorang ASN dari Dinas Pendidikan menyebut, “Kami kerja seperti biasa, tapi suasananya tidak biasa. Banyak yang takut bicara, takut salah langkah.” Sementara ASN dari kantor kecamatan di wilayah selatan KBB menyampaikan, “Kami bukan bagian dari lingkaran elite. Tapi kami yang berhadapan langsung dengan masyarakat setiap hari.”

ARTIKEL PILIHAN

Diingatkan Jeje Soal Flyover Cimareme, KDM Malah Minta Bupatinya Fokus Bangun Jalan Kota Baru?

Bupati Jeje Hadapi Penurunan APBD 2026: Efisiensi dan Infrastruktur Tetap Jalan, Bappeda: Kita Coba!

Lebih jauh, pemerhati kebijakan pemerintah dan pengamat publik, Dadang Risdal Aziz, turut angkat bicara, Ia menyampaikan keprihatinan terhadap dinamika pemberitaan yang menurutnya berpotensi mengganggu iklim investasi dan kepercayaan publik terhadap stabilitas daerah.

“Kalau narasi yang berkembang hanya soal konflik elite dan dugaan korupsi, investor akan berpikir dua kali. Bandung Barat butuh narasi tandingan yang membangun harapan,” ujar Dariz sapaan akrab pengamat yang aktif menyuarakan isu-isu strategis di bidang pendidikan, fiskal daerah, dan tata kelola birokrasi ini.

Namun Dariz juga menyoroti sisi positif yang muncul dari sejumlah organisasi masyarakat yang mulai membangun gagasan strategis, seperti isu kedaulatan fiskal dan potensi pendapatan daerah. Ia menyebut bahwa inisiatif seperti ini jarang muncul di KBB, dan perlu mendapat ruang serta dukungan.

“Saya melihat semangat dari organisasi masyarakat yang mulai bicara soal potensi PAD (Booms KBB/Red), efisiensi anggaran, dan transparansi fiskal. Ini penting. Karena biasanya, narasi seperti ini hanya muncul dari lembaga teknokratik, bukan dari akar rumput,” tambahnya.

VIDEO PILIHAN

Dengan gayanya yang ringan, Dariz memberikan pesan untuk Bupati KBB, Pria asal Soreang Kabupaten Bandung ini memberikan kutipan dari buku yang ia baca, Paradoks Indonesia dan Solusinya karya Presiden Prabowo Subianto. Ia menekankan bahwa kepemimpinan bukan sekadar jabatan, melainkan kesiapan menghadapi “perang kompetisi” dalam berbagai bentuk termasuk perang kepercayaan, perang narasi, dan perang pelayanan publik.

“Untuk Pa Bupati Jeje, ini penting, dalam buku yang ditulis Presiden Prabowo (Paradoks Indonesia dan Solusinya) dituliskan, bahwa bangsa ini harus siap menghadapi perang dalam bentuk tarif, harga, dan insentif. Di daerah, perang itu bisa berarti kompetisi kepercayaan antara pemimpin dan rakyat. Kalau pemimpin tidak hadir, maka birokrasi kehilangan arah dan masyarakat kehilangan harapan,” ujar Dariz.

Ia menambahkan bahwa kepemimpinan yang tanggap, hadir, dan memahami ancaman strategis adalah syarat mutlak untuk membangun organisasi publik yang resilien.

“Kepemimpinan bukan hanya soal mengatur, tapi soal membentuk kesadaran kolektif. Kalau ASN dibiarkan bekerja dalam ketakutan, maka kita sedang kalah dalam perang pelayanan,” tambahnya..

Namun Dariz memaklumi, tidak mudah bagi seseorang yang bukan berlatar belakang politik seperti Bupati KBB langsung dihadapkan dengan konflik internal saat ini, menurutnya, dengan jiwa seni yang dimiliki Suami dari adik Rafi Amhad ini tentu tidak memerlukan waktu lama bisa menyelesaikannya.

” Tapi saya yakin, pemimpin yang memiliki latar belakang seni, Bupati Jeje (seniman) bisa cepat belajar dan mengatasi inti persoalannya, walau bukan politisi tulen” Tutupnya.

Dengan semangat kolaborasi lintas generasi dan lintas sektor, Forum Komunitas Muda Bandung Barat dan para pengamat mengajak semua pihak untuk kembali ke akar pelayanan publik: bekerja demi rakyat, bukan demi kelompok.(dhomz/BandungKita.id)


Comment