by

Pemuda Desa Kibarkan Bendera Berbekal Semangat Konservasi Kawasan Karst Citatah

BandungKita.id, CIPATAT – Penambangan batu karst masih merajai sejumlah kawasan Citatah. Dampak buruk dari pengerukan kekayaan alam di kawasan tersebut dikhawatirkan menimpa penduduk kapan saja.

Dengan semangat konservasi kawasan karst, sejumlah pemuda di Desa Citatah konsisten menjaga kawasan tersebut dengan cara dijadikannya destinasi wisata panjat tebing.

Warga sekitar menyebutnya Tebing 48 Gunung Manik. Tebing tersebut terletak di Desa Citatah, Kecamatan Cipatat, Kabupaten Bandung Barat.

Bertepatan dengan HUT RI ke-74, Rabu (17/8/2019), puluhan pemuda yang tergabung dalam Forum Pemuda Desa Citatah mengibarkan bendera raksasa berukuran 12 x 8 meter di tebing tersebut.

“Betul. Kegiatan ini berangkat daribsemangat konservasi,” ungkap Ketua Citatah Rescue Team (CRT), Tri Nanda Riadi yang juga berperan sebagai koordinator pada kegiatan tersebut.

 

BACA JUGA:

Bendera Merah Putih Raksasa Dikibarkan di Tebing Kawasan Karst Citatah

 

 

Tri berharap, adanya kegiatan tersebut mampu meminimalisir eksploitasi alam yang terjadi di kawasan karst Citatah.

“Ketika karst ini di eksploitasi, kita coba minimalisir agar eksploitasi tidak membesar dengan salah satunya kegiatan ini. Kita harus menghargai, menjaga dan memanfaatkan alam tentunya memanfaatkan dengan positif,” ujar Tri.

Tri mengatakan, persiapan yang dilakukan untuk memuluskan kegiatan pengibatan tersebut ditempuh selama kurang lebih satu bulan.

Pemuda yang terlibat kata Tri, bukanlah pemuda yang ahli panjat tebing. Pemuda tersebut merupakan pemuda asli desa Citatah dari berbagai profesi.

“Kita mengkoordinasikan dengan pemuda-pemuda RW. Jadi intinya, kita (CRT) mencoba merangkul para pemuda ini dengan materi dan latihan fisik selama satu bulan,” tuturnya.

 

BACA JUGA:

Penggusuran Lahan Proyek Kereta Cepat Ternyata Dilakukan Tanpa Proses Peradilan

 

 

Dia mengatakan, untuk pengibaran bendera raksasa di tebing setinggi 48 meter tersebut, dibutuhkan sebanyak 25 petugas yang sudah dibagi tugas masing-masing.

Dengan aba-aba dan komando, seluruh anggota gim bergerak dengan hidmat. Lantunan lagu Indonesia Raya dan hormat dari sejumlah warga yang menyaksikan, bendera merah putih raksasa perlahan dibentangkan.

Bendera merah putih dengan kain seluas 12 x 8 meter tersebut kata Tri, merupakan buah tangan warga lokal desa Citatah tanpa ada sentuhan pihak lain.

“Ini dijahit sendiri. Kebetulan penjahit lokal kita ada di Citatah ini. Sementara pendanaan kita swadaya. Kebetulan ada dari Kawani dan sponsor lain untuk alat pendakian,” ucapnya.

Selain memupuk rasa nasionalisme, Tri berharap kegiatan tersebug juga mampu menjadi ruang silaturahmi antar warga. Di sela kegiatan, pihaknya menyerahkan pohon kepada pelajar sebagai simbol pelestarian alam di kawasan karst.

“Kelestarian alam harus dijaga. Seperti diketahui Citatah merupakan surganya para pengusaha penambang batu,” tutupnya.***(Bagus Fallensky/BandungKita.id)

Editor: Dian Aisyah

Comment