by

Badan Geologi : Penurunan Permukaan Tanah di Kota Bandung Masih Dalam Ambang Batas Aman

Badan Geologi Belum Tahu Penyebab Penurunan Permukaan Tanah

 

BandungKita.id, BANDUNG – Selain soal Sesar Lembang, warga Kota Bandung baru-baru ini dikagetkan dengan fenomena penurunan permukaan tanah atau land subsidence.

Kepala Pusat Air Tanah dan Geologi Tata Lingkungan, Badan Geologi Andiani menyebut fenomena tersebut terjadi secara alami. Karenanya warga diimbau tidak panik dengan kejadian ini.

“Kami melihat bahwa penurunan tanah di Bandung memang terjadi. Karena secara alami secara geologi itu memungkinkan untuk terjadi seperti itu,” kata Andiani di Kantor Badan Geologi, Kota Bandung, Jumat (13/12/2019).

Kepala Pusat Air Tanah dan Geologi Tata Lingkungan, Badan Geologi Andiani (Tito Rohmatulloh/ BandungKita.id)

 

Andiani menyebut, selain Kota Bandung penurunan tanah juga memang terjadi di beberapa kota besar lainnya seperti Semarang dan Jakarta. Namun demikian Badan Geologi belum melakukan pendataan dan pemantauan secara spesifik untuk penurunan tanah di wilayah Kota Bandung.

Meski demikian berdasarkan data yang dihimpun dari berbagai pihak Andiani menyebut penurunan tanah di kota Bandung masih sangat terbilang lambat dan dalam ambang batas aman.

BACA JUGA :

Gunung Merapi Luncurkan Awan Panas, Badan Geologi Berikan Peringatan

 

 

Pemkot Bandung Targetkan Rumah Deret Tamansari Tahap 1 Rampung Juni 2020

 

 

“Kami sudah lakukan pemantauan di Jakarta juga Semarang. Memang di Bandung kami belum. Namun berdasarkan data yang dihimpun dari teman-teman ITB misalnya, penurunannya hanya 20 persen, secara alami. Ini tentunya masih sangat sedikit,” tutur Andiani.

Meski demikian Andiani menyebut daerah rawan terjadinya penurunan tanah adalah kawasan persawahan. Namun demikian di singgung soal penyebab peristiwa ini pihaknya belum bisa memastikan. Pengambilan air tanah secara berlebihan, kerap disebut sebagai penyebab terjadinya penurunan tanah.

“Ini juga belum bisa dipastikan sebabnya karena berdasarkan data yang dihimpun bersama rekan-rekan peneliti lain justru di Kota Bandung terjadi di persawahan. Di sana kan tidak ada pengambilan air tanah berlebihan tapi untuk di daerah pemukiman kemudian industri justru potensi penurunan tanah terjadi lebih kecil,” ujarnya. (Tito Rohmatulloh/BandungKita.id)

Editor : M Zezen Zainal M

Comment