by

Sempat Tertimbun Longsor, Sumber Mata Air Panas di KBB Bakal Jadi Primadona

BandungKita.id, KBB – Potensi wisata baru di Kabupaten Bandung Barat (KBB) kini mulai berkembang baik wisata alam maupun buatan.

Belum lama ini, sumber mata air panas yang hilang kembali ditata warga Desa Cimanggu, Kecamatan Ngamprah, Kabupaten Bandung Barat agar kembali menjadi primadona.

Menariknya, lokasi mata air panas tersebut tidak jauh dari Kantor Pemerintah Kabupaten Bandung Barat atau memakan waktu perjalanan sekitar 10 menit.

Kepala Dinas Pariwisata dan Kebudayaan (Disparbud) KBB Heri Partomo mengatakan, soal lokasi sumber mata air panas ini berawal dari komunikasi antara dirinya dengan Karang Taruna Desa Cimanggu bahwa di wilayahnya ada sumber mata air panas.

“Dari situ kita coba dorong agar sumber mata air panas ini bisa berkembang dan dimanfaatkan menjadi salah satu daya tarik wisata yang ada di Desa Cimanggu, Kecamatan Ngamprah, Kabupaten Bandung Barat,” katanya kepada BandungKita.id, belum lama ini.

Menurutnya, dengan potensi yang ada ini, pihaknya melihat peluang untuk memanfaatkan mata air panas tersebut untuk menjadi destinasi wisata lantaran lokasinya tidak jauh dari Kantor Pemda Bandung Barat.

“Jaraknya yang cukup dekat dengan ibukota kabupaten, kenapa tidak itu menjadi salah satu nilai jual bahwa di KBB ada sumber mata air panas,” tuturnya.

Heri menjelaskan, jika lokasi tersebut ditata dengan baik kemungkinan bisa mengalahkan wisata air panas yang ada di Ciwidey, bahkan di Ciater.

“Kita dorong teman-teman karang taruna untuk mengembangkan wisata air panas ini agar bisa ditata lebih baik,” jelasnya.

Heri mengaku, saat ini pihaknya terus melakukan pengembangan destinasi wisata, termasuk melakukan pembinaan terhadap kelompok sadar wisata (Pokdarwis) yang ada di daerah wisata Bandung Barat.

“Kita dorong karang taruna untuk melakukan pembentukan Pokdarwis, yang saat ini telah banyak terbentuk di KBB,” ucapnya.

Heri menilai, hal ini perlu dilakukan dilakukan agar Disparbud bisa lebih mudah melaksanakan pembinaan lantaran pengembangan pariwisata melalui Pokdarwis ada di Disparbud.

“Saat ini kita terus lakukan monitoring tentang rencana penataan selanjutnya. Karena untuk sumber mata air panas ini salah satu modal dasarnya lantaran berlokasi di tanah carik desa,” ujarnya.

Heri menerangkan, lokasi wisata yang berada di tanah carik desa itu tidak akan terlalu sulit untuk ditata. Pasalnya, hal ini bisa bermanfaat untuk pemberdayaan masyarakat setempat.

“Dengan demikian hal ini bisa menghidupkan perekonomian warga untuk ke depannya,” terangnya.

BACA JUGA:

Heboh! Uang Koin Kuno Keluar dari Sumber Mata Air Panas di Cimanggu Bandung Barat

Sah, Cakra Amiyana Jabat Sekda Kabupaten Bandung

Warga Desa Cibedug KBB Tunggu Realisasi Perbaikan Saluran Irigasi Leuwigede

Sementara itu, Ketua Pokdarwis Desa Cimanggu Rosita Lesmana mengungkapkan, pihaknya sangat bersemangat untuk mengembangkan sumber mata air panas yang ada di Desa Cimanggu.

“Berkat ada dukungan dari pemda, kami kembali bersemangat untuk mengembangkan potensi wisata ini,” ungkapnya.

Sebetulnya, kata Rosita, sumber air panas ini banyak dulunya sering didatangi banyak pengunjung, terlebih di malam hari banyak yang sengaja mandi atau berendam.

“Dulu kalau yang datang itu biasanya di bulan Mulud, kalau kata orang tua dulu Ngabungbang (red: menyucikan diri) atau mandi tengah malam,” katanya.

“Sekitar tahun 1980an, sumber mata air panas ini banyak didatangi pengunjung, mungkin karena masih kuat kepercayaan terhadap leluhur,” sambungnya.

Kendati demikian, lanjut Rosita, semenjak air panas tidak mengalir, pengunjung sudah tidak ada.

Ia menyebut, alasan tidak mengalirnya sumber mata air panas tersebut bisa jadi karena tersumbat lantaran tidak adanya pemeliharaan.

Rosita menyebut, sumber panas mata air tersebut kemungkinan berasal dari Gunung Tangkuban Perahu lantaran lokasinya gunung api terdekat dari Cimanggu.

“Seingat saya airnya dari dulu juga sudah panas,” sebutnya.

Rosita menyayangkan sumber mata air panas tersebut tidak terpelihara dengan baik, bahkan hingga sempat tertimbun longsor.

“Dulu banyak yang datang, tapi karena tertimbun longsor jadi tidak ada sama sekali,” tandasnya. (Agus SN/BandungKita.id) *

Editor: Faqih Rohman Syafei

Comment