Sampel Permen Kedaluwarsa Dicek di Laboratorium Kabupaten Bandung

BandungKita.id, SOREANG – Sampel permen berbentuk sikat gigi yang diduga mengakibatkan 21 orang siswa kelas IV SD III Kamasan, Banjaran, Kabupaten Bandung, dilarikan ke Puskesmas Kiangroke pada Kamis (29/9/2019), saat ini tengah diteliti.

Penelitian tersebut dilakukan guna mengetahui kandungan permen yang diduga menyebabkan para siswa SD itu mengalami gejala seperti keracunan makanan.

Kepala Puskesmas Kiangroke, Dr Sambawa Kusumadinata mengatakan, sampel permen tersebut sudah dibawa oleh Dinkes Kabupaten Bandung ke laboratorium untuk dilakukan uji laboratorium.

“Sampel sudah dibawa ke laboratorium Dinkes Kabupaten Bandung. Belum tahu kapan selesai uji lab-nya,” ujar Sambawa, Jumat (30/8/2019).

Menurut dia, setelah peristiwa itu, hingga saat ini belum ada lagi keluhan serupa yang kembali dialami siswa SD III Kamasan.

“Kalau memang ada keluhan, tim kesehatan dari Puskesmas Kiangroke sudah siap melakukan pengecekan kembali,” katanya.

Kepala Bidang SD Disdik Kabupaten Bandung, Adang S mengimbau agar kepala sekolah dan para guru untuk ikut mengawasi jajanan yang diperjualbelikan di lingkungan sekolah. Imbauan itu tak hanya diberikan kepada pihak SD III Kamasan saja, melainkan sekolah-sekolah lainnya.

BACA JUGA:

PKB Dorong Kader NU Maju di Pilbup Bandung Tahun 2020

 

Sebelumnya diberitakan, Tati Khoiriyah, Guru SD Negeri III Kamasan menyebut, permen yang dikonsumsi oleh 21 siswa merupakan permen kedaluwarsa.

Permen itu dibeli dari teman satu sekolahnya seharga Rp. 1.500 per kemasan. Awalnya, kata Tati, hanya 19 siswa yang merasakan gejala keracunan makanan.

“Tapi ada dua lagi yang mengeluhkan gejala yang sama. Totalnya jadi 21 siswa yang keracunan permen itu,” ucap Tati, kemarin.

Menurut Tati, permen yang diperjualbelikan itu berbentuk sikat gigi berornamen pasta gigi diatas kepala sikat giginya.

Permen itu tidak diperjual belikan di kantin sekolah. Total permen yang dijual siswa tersebut berjumlah 30 dalam satu dus. Namun yang terjual hanya 27.

Menurut Tati, siswa yang menjual permen kedaluawarsa kepada teman-temannya itu mendapat permen dari ibunya. Ibu dari siswa itu, ujarnya, membeli permen kedaluwarsa dari salah satu pasar.

“Sebetulnya niat siswa ini baik membantu ibunya dengan berjualan di kelas,” katanya.

BACA JUGA:

Hari Pertama Operasi Patuh Lodaya 2019, Polres Bandung Catat 435 Pelanggaran

 

Menurut Tati, siswa SD Negeri III Kamasan awalnya mengeluhkan mual, muntah, sakit tenggorokan disertai pusing. Kejadian itu diketahui saat kegiatan belajar mengajar berlangsung.

“Katanya makan permennya jam 07.00 WIB. Anak-anak mulai merasa gejala mual dan pusing jam 08.00 WIB saat proses belajar mengajar berlangsung,” katanya.

Menurut Tati, awalnya hanya tiga orang siswa yang mengeluhkan kejadian itu. Guru saat itu belum mulai curiga. Namun empat orang siswa lainnya juga mengalami gejala serupa. Pada akhirnya, kata Tati, bertanya kepada sejumlah siswa siapa saja yang merasa mual.

“Nah, baru ketahuan setelah ditanya. Ternyata ada 19 awalnya. Dua orang menyusul. Guru kelas IV tanya makan apa sebelum merasakan mual. Dan ternyata anak-anak makan permen,” kata dia.

Setelah mendapat keluhan itu, ujar Tati, pihak sekolah langsung membawa anak-anak ke Puskesmas Kiangroke untuk mendapat perawatan. Di puskesmas, anak-anak siswa kelas IV itu kemudian diberi obat.

Setelah kondisi membaik, kata dia, ke-21 siswa itu kemudian pulang ke rumahnya masing-masing. “Mereka disuruh pulang sambil menunggu perkembangan. Rencananya Jumat besok pihak puskesmas mau mengecek kondisi 21 siswa itu,” kata dia.(R Wisnu Saputra/BandungKita.id)

Editor: Dian Aisyah

Comment