BandungKita.id, Soreang — Masjid Al-Fathu, ikon spiritual Kabupaten Bandung yang berdiri megah di jantung pemerintahan daerah, kini menghadapi konflik kepercayaan dari masyarakat. Di balik arsitektur megah dan sejarah hijrah administratif, terselip dugaan pengelolaan yang tidak transparan, tumpang tindih anggaran hibah, dan isu pungutan liar yang meresahkan jemaah.
Dugaan Tumpang Tindih Hibah dan Konflik Kepentingan
Sumber Bandungkita menyebutkan adanya tumpang tindih antara hibah Kesra dan dana Baznas yang dialokasikan untuk Masjid Al-Fathu.
Pengadaan sound sistem misal, dana Dana hibah senilai ratusan juta iyu disebut tidak sepenuhnya digunakan sesuai peruntukan.
Permohonan pengadaan sound sistem sempat mengemuka, disinyalir pengurus (DKM) memasukannya kedalam laporan fiktif saat anggaran Baznas juga masuk kedalamnya, sehingga membuat Kepala Bagian Kesra saat itu kelimpungan mengklarifikasi Wartawan dan masyarakat.
Bahkan, kabarnya beberapa honor pengisi kegiatan di masjid Al fathu itu mengeluh mendapatkan pemotongan. Kabar tersebut di benarkan seorang warga yang rutin mengikuti sholat jumat dan berjualan diseputar gedung sabilulungan.
Dadan (bukan nama sebenarnya) warga soreang ini kerap mendengar keluhan pengurus lama yang berada di al fathu.
“Saya sangat menyayangkan pengelolaan masjid yang kita banggakan selama ini sekarang seperti ini, beberapa curhatan bahkan perawatan dibawah (tempat wudhu) tidak banyak mengalami perubahan, bahkan dulu pernahnada imam yang mengeluhkan jumlah honornya tidak sesuai dengan yang harus di tandatanganinya”. Ujarnya sesaat setelah melakusanakan sholat jumat, 18, juli 2025 dipelataran masjid sambi menyajikan pesanan wartawan.
Dana Hasil Kotak Amal digunakan Operasional dan Struktur Inti DKM?
Dana operasional masjid yang seharusnya digunakan untuk pemeliharaan dan pelayanan jemaah diduga turut digunakan untuk mendanai kegiatan struktur inti DKM. Minimnya transparansi dalam laporan keuangan dan tidak adanya audit terbuka memperkuat dugaan bahwa dana publik tidak dikelola secara akuntabel.
Minimnya Pemeliharaan dan Cerita kehilangan Sepatu
Seorang Anggota Dewan Aktif Bandung Barat dari partai Golkar, H Agus Mahdar tidak sengaja melaporkan kehilangan sepatunya saat melaksanakan sholat jumat (hai ini), 18 juli 2025.
H.Agus Mahdar sambil tersenyum dia melangkah menuju mobilnya dipelataran parkir depan sesaat setelah sepatunya raib di tangga masjid. “Ilang sepatu pas pulang, ada ada aja” ungkapnya dengan senyumnya yang khas.
“rencana mau kekantor (DPD Golkar KBB di Batujajat/red) rapat banggar singgah dulu (keluar tol langsung ke alfathu) sholat Jumat”.
Masih ditempat yang sama, pantauan wartawan dibeberapa area vital masjid, seperti toilet, tempat wudu, dan sistem tata suara, dilaporkan mengalami tidak mendapat perawatan rutin. Padahal, masjid ini menjadi pusat kegiatan keagamaan dan sosial ribuan warga setiap pekan.
Isu Pungutan Parkir dan Komersialisasi Ruang Ibadah
Jemaah juga mengeluhkan adanya pungutan parkir yang tidak jelas pengelolaannya. Meski belum ada pernyataan resmi dari pengurus masjid, praktik ini menimbulkan pertanyaan: apakah ruang ibadah telah dikomersialisasi tanpa regulasi yang jelas? Dan apakah benar pasca tidak lagi diurus oleh Pemkab diserahkan kepengufusan DKM yang masih terkait dengan keluarga Bupati?
Masjid Al-Fathu seharusnya menjadi ruang suci yang bebas dari kepentingan politik dan ekonomi. Ketika dana hibah, zakat, dan infaq dikelola tanpa transparansi, maka kepercayaan publik terhadap institusi keagamaan ikut tergerus.
“Kami ingin masjid ini kembali jadi tempat ibadah, bukan ladang konflik dan pungutan,” ujar salah satu jemaah yang enggan disebutkan namanya.
Sesaat redaksi ingin menjumpai pengurus DKM alfathu, salah seorang yang dikenal sebagai marbot, menyebut pengurus sudah pulang. (dhomz/Bandungkuta.id)





Comment