Anggaran KONI KBB Tiba-Tiba Naik Jadi Rp11 Miliar, Dipertanyakan Publik

OlahragaKita124173 Views

BandungKita.id, Bandung Barat: Lonjakan anggaran hibah untuk Komite Olahraga Nasional Indonesia (KONI) Kabupaten Bandung Barat (KBB) memicu tanda tanya besar. Setelah Badan Anggaran (Banggar) DPRD KBB sebelumnya menyepakati nilai hibah hanya Rp6 miliar dari usulan KONI sebesar Rp17,5 miliar, yang akhirnya angka tersebut tiba-tiba berubah menjadi Rp11 miliar dalam keputusan final.

Penambahan dana hibah sebesar Rp5 miliar pun sorotan, lantaran harus diserap dalam waktu dua bulan sebelum tahun anggaran berakhir pada Desember 2025.

VIDEO PILIHAN

Sejumlah pengurus cabang olahraga (cabor) mengaku terkejut dengan perubahan tersebut. Mereka mempertanyakan proses, urgensi, dan transparansi penggunaan anggaran, terutama karena tahun ini tidak ada agenda besar seperti Pekan Olahraga Provinsi (Porprov).

“Awalnya kita diberi kabar Rp6 miliar dari yang diusulkan Rp17,5 miliar. Tiba-tiba jadi Rp11 miliar, naik Rp5 miliar dari yang telah disepakati. Kami sendiri tidak tahu alasan kenaikannya,” ujar salah satu pengurus cabor.

BACA JUGA

Meski KONI KBB sebelumnya menyatakan kekurangan anggaran dan berada dalam kondisi “berdarah-darah”, para pengurus cabor menilai tambahan anggaran tidak berbanding lurus dengan peningkatan pembinaan atlet.

Cabor-cabor yang selama ini berlatih rutin justru mengaku tidak mendapatkan kepastian alokasi. Sementara itu, sejumlah anggaran disebut mengalir ke pos-pos yang tidak berkaitan langsung dengan peningkatan prestasi.

“Yang kami tunggu itu pembinaan. Kalau anggarannya naik, tapi pembinaan tidak kena, apa gunanya?” tegas seorang pelatih.

Kondisi internal KONI KBB juga diperburuk dengan perpindahan beberapa atlet unggulan ke kabupaten lain. Mereka disebut memilih hengkang karena tidak mendapatkan perhatian dan kepastian program pembinaan.

Situasi ini membuat sejumlah cabor waswas menghadapi agenda kompetisi 2026, karena potensi kehilangan atlet berprestasi bisa berdampak pada posisi KBB di tingkat provinsi.

Sejumlah sumber juga menyebutkan budaya mengejar medali instan masih kuat di tubuh KONI KBB. Medali dianggap sebagai simbol gengsi, bukan hasil pembinaan jangka panjang.

Praktik “beli atlet jelang kompetisi” disebut menjadi pola lama yang belum sepenuhnya hilang. “Medali itu jadi alat pencitraan. Bukan hasil proses,” kata salah satu pengurus cabor.

Hingga kini, belum ada klarifikasi rinci dari KONI KBB maupun pemerintah daerah terkait dasar kenaikan anggaran dari Rp6 miliar menjadi Rp11 miliar.

Publik menunggu penjelasan mengenai proses penganggaran, dasar kebutuhan, serta jaminan bahwa dana tersebut akan benar-benar digunakan untuk pembinaan atlet, bukan sekadar memenuhi serapan anggaran. (Tim/Bandungkita.id)

Comment