oleh

Kampung Lukis Jelekong di Tengah Ancaman Teknologi dan Harga Cat yang Terus Meroket

Pelaku Seni Minta Perhatian Pemkab Bandung dan Pemprov Jabar

BandungKita.id, SOREANG – Nama Kampung Lukis Jelekong di Kecamatan Baleendah, Kabupaten Bandung sebagai kampung seni sudah tak diragukan lagi. Hasil karya para seniman di tempat ini telah dikenal bukan saja di dalam negeri, bahkan hingga mancanegara.

Berkat hal itu maka tak heran jika Pemerintah Kabupaten Bandung menetapkan kampung ini sebagai satu dari sembilan desa wisata di Kabupaten Bandung pada 2011 lalu. Untuk Kampung Jelekong ditetapkan sebagai Kampung Seni dan Budaya.

Namun siapa sangka di tengah statusnya yang telah berubah menjadi kampung wisata, para seniman di sini justru masih mendapat kendala berupa mahalnya harga bahan baku seperti cat dan kain kanvas.

Dian Handayani (30) salah satu pelukis dari Sanggar Budiman Art mengatakan, harga cat dan kanvas terus meroket dari tahun ke tahun. Hal itu tentu menjadi hambatan, apalagi permintaan barang tiap tahun juga menurun.

“Kami sedang menghadapi tahun-tahun di mana permintaan barang terus menurun sementara harga bahan baku yang kami beli terus naik,” kata Dian saat ditemui BandungKita.id di Jelekong, Sabtu (30/3/2019).

BACA JUGA :

Kabupaten Bandung Jadi Daerah Terpadat Kedua di Indonesia, Ini Penyebabnya Kata Dadang Naser

 

Pembangunan Pusat Kebudayaan di Jabar Habiskan Dana Rp 5 hingga 7 Miliar, Ini Penjelasan Disbudpar

 

Ridwan Kamil Bakal Buat Kawasan Pelestarian Budaya di Empat Kabupaten

 

 

Dalam satu bulan di tahun 2018, Dian hanya bisa menjual lukisan 500 buah dengan harga rata-rata tiap buah Rp 150 ribu. Jumlah itu relatif sedikit dibanding tahun-tahun sebelumnya yang bisa menjual 700-800 lembar lukisan.

Ia tak memungkiri bahwa minimnya permintaan lukisan salah satunya disebabkan hadirnya perkembangan teknologi yang mampu mencetak gambar dengan cepat dan lebih akurat.

“Sekarang mungkin sudah ada mesin printing, kamera bahkan handphone yang lebih cepat mencetak gambar. Jadi karya lukis minim peminatnya,” keluhnya.

Meski demikian Dian tetap optimis bahwa masa depan seni lukis baik peminat atau pun pelaku, akan cerah. Asal hadir campur tangan pemerintah, terutama pada sisi pemenuhan kebutuhan bahan baku dan penyediaan pangsa pasar.

 

 

Dian juga berharap, ditetapkannya Jelekong sebagai kampung wisata bukan hanya sebagai formalitas. Namun harus ada bentuk nyata bantuan dari pemerintah terutama dari Pemkab Bandung maupun Pemprov Jabar. Pasalnya, hingga hari ini di Jelekong belum ada fasilitas umum yang mendukung para wisatawan seperti, galeri untuk pameran atau lahan parkir yang memadai.

“Kampung wisata boleh saja, asal perhatikan juga pelaku seni. Mereka kan butuh cat. Pernah ada bantuan cat tidak?. Terus lahan parkir dan galeri, yang ada hanya milik masing-masing pribadi saja,” ungkap Dian. (Restu Sauqi/BandungKita.id)

 

Editor : M Zezen Zainal M

Komentar