oleh

Ribuan Petani di Kutawaringin Kabupaten Bandung Khawatir Terjadi Longsor, Penyebabnya Peninggalan Belanda Ini

BandungKita.id, KAB BANDUNG – Ribuan petani di Desa Kutawaringin, Kecamatan Kutawaringin, Kabupaten Bandung, mengaku khawatir dengan bencana longsor dan banjir akibat kondisi irigasi Leuwikuya yang sudah rusak berat dan kondisinya sangat memprihatinkan.

Berdasarkan informasi yang berhasil dihimpun BandungKita.id, irigiasi Leuwikuya tersebut saat musim penghujan biasa digunakan untuk mengairi ribuan hektar sawah di sebagian wilayah Kabupaten Bandung dan Kabupaten Bandung Barat (KBB).

Ketua Gabungan Perkumpulan Petani Pemakai Air (GP3A) Leuwikuya, Amat Rohimat mengatakan, rusaknya irigasi Leuwikuya mencapai 50 persen. Selain itu, irigasi dari DAS Ciwidey itu juga sudah sangat dangkal karena terdapat endapan lumpur setinggi 80 sentimeter.

“Irigasi Leuwikuya ini dibangun pada masa penjajahan. Tepatnya tahun 1918. Kini kondisinya sangat rusak dan tak terawat,” kata dia, Minggu (6/10/2019).

BACA JUGA :

Waduh ! Petani Teh Pangalengan Dipaksa Tanam Kopi, Bupati Diminta Temui Pengunjuk Rasa

 

 

Cegah Hama Ulat, Pemkab Garut Pastikan Petani Gunakan Pestisida Nabati

 

 

Musim Kemarau, Hasil Panen Petani Hortikultura Oversupply

 

 

Menurut dia, tembok tanggul irigasi juga sudah banyak yang bocor. Masyarakat sempat menambal sebagian tembok tanggul yang bocor itu dengan karung berisi tanah.

“Tapi saya rasa itu tidak optimal. Apalagi saat ini sudsh mau memasuki musim hujan. Kami khawatir irigasi ini tidak siap menampung aliran air. Rawan sekali longsor dan banjir kalau kondisinya begini,” kata dia.

Menurut Amat, irigasi sepanjang kurang lebih 22 kilometer di wilayah Kabupaten Bandung dan 42 kilometer di wilayah Kabupaten Bandung Barat itu, sejak dibangun pada 1918 atau pada masa penjajahan Belanda hingga saat ini belum pernah ada perbaikan besar-besaran.

Sehingga, kerusakan terus terjadi, termasuk pendangkalan dasar irigasi. Maka tak heran jika pasokan air untuk ribuan hektar sawah di kedua wilayah itu terus berkurang, apalagi saat kemarau seperti sekarang, kondisi irigasi kering.

“Perbaikan cuma sedikit atau sebagian kecil saja. Padahal kerusakannya sudah parah dan juga dangkal. Kalau dibiarkan bisa bahaya karena aliran irigasi ini diantara bukit, pemukiman dan pesawahan. Kalau banjir atau longsor otomatis yang kena pemukiman dan pesawahan,” ujarnya.

Sebenarnya, lanjut Amat, pihaknya telah berulangkali melaporkan kondisi irigasi Leuwikuya ini. Namun sayangnya tidak pernah ditanggapi oleh Balai Pusat Sumber Daya Air (PSDA) Provinsi Jawa Barat, khususnya wilayah DAS Citarum. Jangankan laporan masyarakat seperti dirinya, laporan petugas lapangan dari PSDA pun tak direspon.

“Petugas lapangan yang kasih laporan saja tidak didengar. Apalagi laporan kami, padahal irigasi ini sangat vital keberadaannya untuk keberlangsungan pertanian padi di Kabupaten Bandung dan Bandung Barat.” katanya.

Amat melanjutkan, luas sawah di Kabupaten Bandung yang mengadalkan air dari irigasi Leuwikuya ini kurang lebih 1.179 hektar sawah. Sedangkan di Kabupaten Bandung Barat sawah yang juga dialiri dari irigasi ini luasnya lebih dari 2000 hektar.(R Wisnu Saputra/BandungKita.id)

Editor : M Zezen Zainal M

Komentar