oleh

Ironis! Pasokan Air Untuk Hotel di Bandung Aman, Sedangkan Warga Mengeluh Kekeringan

BandungKita.id,BANDUNG – Ketua Perhimpunan Hotel dan Restoran (PHRI) wilayah Jawa Barat, Herman Muchtar mengatakan, kemarau yang berlangsung sejak Agustus hingga Oktober tidak berdampak pada laju aktivitas industri perhotelan maupun restoran di kota Bandung.

Herman mengatakan, berdasarkan pantauannya belum ada satupun hotel di Kota Bandung yang mengeluhkan kekurangan air.

“Kalau efek dari kemarau kemarin itu sebenanrnya tidak terlalu berdampak pada okupansi hotel atau kunjungan wisatawan, saya kira hotel belum ada yang mengeluh kekurangan air,” kata Herman saat dihubungi BandungKita.id, Kamis (17/10/2019)

 

BACA JUGA :

Rutin Bayar Iuran Bulanan, Warga Cicaheum Heran Pasokan Air PDAM Tirtwening Tak Lancar

 

 

Pihaknya mengatakan, jika pun pihak hotel ada yang kekurangan air bisa langsung menghubungi PDAM Tirtawening untuk dilakukan penambahan debit air dengan mengikuti prosedur yang ada.

“Kalau pun memang ada kekurangan mereka tinggal pesan ke PDAM, pesan sesuai prosedur aja,” katanya.

Hingga kini, sejak terbitnya keputusan Gubernur Jawa Barat Nomor 365/Kep.630-BPBD/2019, tentang status siaga darurat bencana kekeringan sejak 1 Agustus lalu. Dari 475 hotel di Kota Bandung, Herman menyebut masih memiliki pasokan air yang cukup.

“Semua hotel di Kota Bandung (aman) jumlahnya ada 475 hotel, sedangkan untuk di Jawa Barat ada 2.900 an hotel,” kata Herman.

Kondisi berbeda justru dirasakan warga RT 04 RW 1, Kelurahan Cicaheum, Kecamatan Kiaracondong yang selama sebulan terakhir ini mengalami hambatan pasokan air dari PDAM Tirtawening.

 

BACA JUGA :

Ini Tips Jaga Kesehatan di Musim Kemarau

 

 

Ketua RT setempat, Hendi (52) menyebut selama kemarau melanda wilayahnya, tidak ada tanggap darurat apapun dari pihak terkait terutama kaitannya dalam pemberian bantuan air bersih.

“Selama periode kemarau belum ada tangki satu pun, saya pengennya lebih bagus dan lebih baik, jangan sampai warga kekurangan air ya minimal ada bantuan dulu tangki darurat begitu, ini nggak ada sama sekali,” kata Hendi saat ditemui BandungKita.id dirumahnya Rabu (17/10/2019).

Andi mengatakan, setiap musim kemarau datang kekeringan pasti melanda kawasan tersebut, terutama setelah tutupnya salah satu pabrik tekstil lantaran mengalami bangkrut.

“Pabrik itu tutup sekitar 2010 an dan setelah itu sering gangguan air, kalau dulu pas ada pabrik, air kita lancar walaupun kemarau, karena pabrik tekstil itu biasanya memberi bantuan air ke warga,” kata Hendi.

Tak hanya Hendi, kekurangan air juga dirasakan Imelda (20) seorang penghuni kost di kawasan di pusat Kota Bandung atau lebih tepatnya di Jalan Dewi Sartika, Imelda mengaku kesulitan air bahkan ia harus mengantri untuk bisa sekadar mandi.

 

Lokasi salah satu kosan yang mengalami kekeringan di Gang Adisuren, Jalan Dewi Sartika, Kota Bandung. (Tito Rohmatulloh/BandungKita.id)

 

“Ya kalau dulu di sini memang lancar tidak ada kejadian seperti ini, harapan saya ingin lancar aja airnya ini air dari sumur kayanya,” ungkap perempuan perantau asal Pulau Sumatera itu.

“Apa lagi disini kan pusat kota dekat sentral perbelanjaan,” sambung Imelda kepada BandungKita.id Kamis (17/10/2019)

Alih-alih penanganan, di tengah Ironi tersebut ternyata data pasti kekeringan di Kota Bandung belum diketahui.

 

BACA JUGA :

Kabupaten Bandung Dilanda Kekeringan, PWI Bagikan Air Bersih

 

 

Pasalnya, menurut Kepala Seksi Rehabilitasi dan Rekonstruksi BPBD Provinsi Jawa Barat, Budi Budiman Wahyu, Pemkot Bandung belum menyerahkan data secara resmi perihal berapa titik kekeringan di Kota Kembang.

“Kota Bandung belum melaporkan secara resmi tentang data lokasi kekeringan,” kata Budi lewat pesan singkat.

Sayangnya, saat coba dikonfirmasi, Kepala Dinas Kebakaran dan Penanggulangan Bencana (Diskar PB) Kota Bandung, Dadang Iriana belum memberikan tanggapan. (Tito Rohmatulloh/BandungKita.id)

 

Editor : Azmy Yanuar Muttaqien

Komentar