by

Segera Dibangun IPAL Terpadu di 3 Titik, Asisten Ekbang: Citarum Harum bukan hanya tanggungjawab pemerintah

BandungKita.id, Kabupaten Bandung – Aset Instalasi Pengolahan Air Limbah (IPAL) Cisirung, telah resmi menjadi milik Pemkab Bandung, setelah Pusat Penelitian dan Pengembangan Sumber Daya Air (Puslitbang SDA) Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (Kemen PUPR) RI sepenuhnya menyerahkan hibah aset dan lahan IPAL tersebut awal tahun 2020.

Menindaklanjuti hal tu, Pemkab Bandung bekerjasama dengan PT Citra Bangun Selaras (CBS) dan PT Adhi Karya, akan membangun IPAL terpadu di tiga titik, yakni Kecamatan Dayeuhkolot, Majalaya, dan di Kecamatan Rancaekek.

Hal tersebut disampaikan Asisten Perekonomian dan Pembangunan (Ekbang) Kabupaten Bandung, H. Marlan di sela-sela kegiatan Demonstrasi Pengolahan Air limbah Industri dengan Teknologi Elektro Koagulasi di Cisirung Kecamatan Dayeuhkolot, jelng akhir pekan lalu.

“Ini kita lakukan sebagai upaya untuk meminimalisir persoalan limbah industri, yang selama ini memperberat beban pencemaran Sungai Citarum. Semoga upaya ini bisa memberikan dampak terhadap industri tekstil yang ada di Kabupaten Bandung,” katanya.

BACA JUGA: Warga ingin bertanya terkait covid-19 di Kabupaten Bsndung? Hubungi Call Center 082118219287

BACA JUGA: Inilah Maskot Asia Africa Festival 2020

BACA JUGA: Rancang Program Prioritas, Askot PSSI Kota Bandung Gelar Kongres

BACAJUGA: English for Ulama Perkuat Hubungan Kemanusiaan

Menurut Marlan, masalah lingkungan menjadi sebuah isu untuk meningkatkan daya saing industri, terutama industri tekstil Kabupaten Bandung. “Meskipun persentasi perusahaan yang memiliki IPAL cukup besar, hasilnya masih belum sesuai dengan baku mutu yang dipersyaratkan.

Perlu digarisbawahi, industri tekstil ini kalau sudah menyangkut permasalahan lingkungan, pasti daya saingnya akan menurun tajam,” ujar Marlan.

Sejak Peraturan Presiden (Perpres) Nomo2 15 Tahun 2018 Tentang Citarum Harum diberlakukan, lanjut Marlan, pemerintah daerah bersama seluruh stakeholder memiliki tugas untuk mendukung kesuksesan program tersebut.

“Citarum Harum bukan hanya kewajiban pemerintah, tapi ini juga kewajiban semua pihak. Termasuk di dalamnya para pengusaha,” tegas Marlan.

Sementara itu Direktur Utama (Dirut) PT CBS Aditya Yudistira menambahkan, pihaknya memilih opsi teknologi elektro koagulasi, karena alasan efektivitas dan efisiensi teknologi tersebut dalam mengolah lombah.

“Target kami adalah, bagaimana IPAL terpadu ini bisa cepat terealisasi di Kabupaten Bandung. Kami berharap berfungsinya IPAL ini akan menjadi solusi bagi para pelaku industri, karena mereka nanti bisa berbagi beban biaya, mengingat untuk membangun IPAL cukup mahal. Selain itu juga mereka bisa berbagi beban risiko, terutama dalam menanggulangi pencemaran lingkungan,” katanya.(*)

Editor: ayi Kusmawan

Comment